x

Iklan

Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.
Bergabung Sejak: 28 Mei 2022

Jumat, 15 Desember 2023 17:05 WIB

Kebiasaan Kecil yang Membentuk Karakter Diri

Kebiasaan kecil yang baik membentuk karakter diri yang baik, begitu pula sebaliknya. Nah pertanyaannya ... kebiasaan apa yang mendominasi dalam diri?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pikiran membentuk kata, kata membentuk tindakan, tindakan membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter menegaskan nasib. Begitulah bahasan kita hari ini yang kebiasaan kecil yang biasa kita lakukan dapat membentuk karakter kita dan menegaskan nasib.

Kebiasaan yang kita anggap kecil ternyata dapat memberikan dampak besar bagi karakter kita. Seperti misal saya membiasakan diri menulis dan berbagi kepada para pembaca di Indonesiana dengan membuat artikel yang bisa diakses oleh semua kalangan.

Dampaknya sangat luar biasa ... rasanya kebiasaan berbagi untuk siapapun itu melekat pada karakter saya. Saya menganggap berbagi kepada pembaca melalui artikel yang saya bagikan di Indonesiana adalah anugerah dan kebahagiaan tersendiri.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Karena sekecil apapun kebaikan yang kita torehkan pada kehidupan, akan menjadikan nasib kita menjadi orang yang beruntung, seperti yang ditegaskan Surat Al-Hajj ayat 77.

Saya selalu memegang prinsip hidup, berbuat baik bagi sesamamu, sama dengan berbuat baik bagi diri sendiri. Namun begitu pula ... berbuat buruk pada sesamamu, sama dengan berbuat buruk bagi diri kita sendiri. Karena sejatinya diri kita dan seluruh makhluk di muka bumi ini adalah satu kesatuan kehidupan.

Dengan membiasakan diri berbagi walau itu kecil. Hati kita menjadi terbiasa untuk berbagi, dan tiada beban hati untuk berbagi selalu kepada sesama kita, dengan penuh kerelaan dan keikhlasan berbagi karena niat berbagi semata, syukur syukur dapat penghargaan balik dari yang merasakan kebermanfataannya.

Karena alangkah baiknya hidup jika kita saling berbagi dan saling menghargai, sejatinya manusia dengan sesamanya saling membutuhkan melambangkan hubungan saling menguntungkan (mutualisme) yang berkelanjutan.

Dengan demikian kebaikan yang kita tebarkan menjadi menular dan tidak hanya satu arah. Kalau kita sanggup menularkan kebiasaan baik, kita dinilai sukses untuk membentuk karakter orang baik kepada sesama, ini tentu menjadi bagian dari pendidikan karakter bangsa.

Demikian pula kebiasaan buruk dalam kehidupan. Seperti berbuat curang dengan maksud mengambil keuntungan walau sedikit saat perniagaan. Hal ini sendiri dilarang keras dalam Al-Qur'an Surat Al-Mutaffiffin ayat 1-3. Bahwa pelaku kecurangan akan bernasib celaka.

Dan hal ini benar adanya, karena kebiasaan mencurangi sesama, akan membentuk karakter kita menjadi licik dan jahat, selalu mengambil keuntungan untuk pribadi dan golongan melalui penderitaan orang lain. Karakter ini bakal melekat pada kita saat hidup dalam bermasyarakat, dan merugikan diri sendiri pada akhirnya.

Begitupula kebiasaan mencontek saat kegiatan belajar mengajar apalagi saat ujian. Ini akan berdampak membentuk karakter di masa mendatang saat beranjak dewasa, yang menghalalkan segala cara untuk menjiplak karya orang lain dengan tujuan demi mendapat nilai lebih dan apresiasi orang lainnya. Jika ketahuan, maka ini akan berakibat fatal pada reputasi dan kredibilitasnya sebagai seorang akademisi.

Maka bentuklah karakter diri dengan kebiasaan yang baik dan benar, agar karakter yang membentuk diri kita adalah karakter yang baik dan benar pula. Dimulai dari hal kecil, dengan membiasakan diri menyapa lebih awal, senyum ramah, dan bertutur bahasa indah.

Karena kebiasaan kecil yang menyenangkan hati sesama, pahalanya setara dengan bersedekah. Itu akan membentuk karakter kita menjadi pribadi yang dicintai dan dikasihi sesama kita.

Allah pun dalam keterangan Baginda Rasul Muhammad, "Allah mencintai suatu amalan walau sedikit, tapi konsisten dikerjakannya secara kontinu." Karena konsistensi berkelanjutan dalam berkebaikan ataupun keburukan, dapat meneguhkan siapa sejatinya karakter kita sebenarnya dalam berkehidupan.

Cimahi, 15 Desember 2023.

Ikuti tulisan menarik Indrian Safka Fauzi (Aa Rian) lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu