x

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Rabu, 3 Januari 2024 14:12 WIB

Presiden Aspal Buton

Presiden Aspal Buton adalah simbol kemenangan demokrasi dan rakyat Indonesia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seperti yang sudah kita ketahui bersama rakyat Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi 5 tahun sekali, atau yang lebih dikenal sebagai Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Pemilu kali ini kita akan memilih presiden baru periode 2024 – 2029. Adapun capres dan cawapres paslon nomor urut 1 adalah Anies–Muhaimin, nomor urut 2 Prabowo–Gibran, dan paslon nomor urut 3 Ganjar – Mahfud. Siapakah pemenang kontestasi pemilu 2024 ini?. Apakah paslon yang mengusung tema perubahan? Atau yang mengusung tema keberlanjutan? Marilah kita analisa dan kaji dari sisi sudut padang kaca mata aspal Buton.

Aspal Buton pertama kali ditemukan pada tahun 1924. Aspal Buton sekarang sudah berusia 1 abad. Dan mirisnya, alih-alih Indonenesia mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, Indonesia malah mengimpor aspal sejumlah 1,5 ton per tahun. Atau senilai Rp 22.5 triliun per tahun. Adapun yang dirasakan tidak masuk akal sehat, Indonesia sudah mengimpor aspal selama 45 tahun. Seharusnya pemerintah sejak lama sudah berani menjelaskan kepada rakyat, mengapa untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional, pemerintah lebih memilih untuk impor aspal, daripada mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton yang jumlah deposit aspal alamnya sangat melimpah?

Indonesia sudah 78 tahun merdeka. Dan sudah 7 kali berganti presiden. Tetapi Indonesia belum mampu berswasembada aspal. Pernyataan ini sudah berulang-ulang kali ditulis agar mendapat perhatian yang serius dari para capres 2024. Adapun, apa sejatinya makna dari pernyataan di atas? Negara tidak hadir untuk aspal Buton. Dan negara tidak memiliki kemauan politik untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor. Kemudian apa lagi? Negara tidak melaksanakan Undang-undang Dasar ’45, Pasal 33, Ayat 3. Dan apa lagi? Mungkin masih banyak lagi. Tetapi intinya tidak ada bukti-bukti konkrit, bahwa pemerintah sudah memiliki niat baik untuk mau mewujudkan hilirisasi aspal Buton, dan berswasembada aspal.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Presiden RI yang sudah pernah datang ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, adalah pak Harto dan pak Jokowi. Pak Harto sudah pernah datang pada tahun 1990. Dan pak Jokowi sudah pernah datang pada tahun 2022. Kalau pak Harto tidak memberikan kontribusi apapun untuk aspal Buton dalam kunjungannya tersebut, maka hal ini masih dapat dimaklumi. Karena pada saat itu, teknologi ekstraksi aspal Buton masih belum ada. Tetapi kalau sekarang, pak Jokowi tidak memberikan kontribusi apapun untuk aspal Buton dalam kunjungannya tersebut, maka hal ini sudah tidak dapat diterima dengan akal sehat. Karena sekarang teknologi ekstraksi aspal Buton sudah ada, dan siap digunakan.

Mengapa isu Indonesia sudah 78 tahun merdeka, dan sudah 7 kali berganti presiden, tetapi mirisnya, Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal, perlu kita viralkan?, Karena kesabaran dan kekecewaan hati rakyat sudah habis, atas ketidakadilan ini. Dimana pemerintah lebih suka mengimpor aspal, daripada mau memanfaatkan aspal Buton. Kita tidak perlu bertanya, siapakah yang paling diuntungkan dengan adanya aspal impor ini? Tetapi kita perlu bertanya: “Apa salah aspal Buton, sehingga pemerintah lebih suka impor aspal?”. Kalau pak Jokowi tidak mampu menjawab pertanyaan ini, maka pertanyaan ini akan diteruskan kepada pak Anies, pak Prabowo, dan pak Ganjar, sebagai capres 2024.

Indonesia memang memiliki banyak sekali masalah yang besar dan mendesak untuk mampu dicarikan solusinya yang cerdas dan inovatif oleh para capres 2024. Mulai dari hutang negara yang menggunung, korupsi, IKN, rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, geopolitik, lingkungan hidup, hilirisasi sumber daya alam, dan pengangguran, dll. Oleh karena itu diperlukan seorang Presiden yang serba “super”. Super pintar, super cerdas, super amanah, super baik, super jujur, super hebat, dll. Sekarang pertanyaannya adalah siapa diantara pak Anies, pak Prabowo, dan pak Ganjar yang memiliki karakter serba “super” ini? Bagaimana cara kita memandangnya, dan menilainya dari sisi sudu pandang misi dan visi aspal Buton?

Kembali ke laptop. Masalah besar dan mendesak yang sudah 78 tahun Indonesia medeka, dan 7 kali berganti presiden, yang tidak mampu pemerintah Indonesia selesaikan adalah masalah mewujudkan hilirisasi aspal Buton dan swasembada aspal. Sekarang mari kita bandingkan isu ini dengan masalah korupsi. Isu mana yang lebih berat dan mendesak untuk dapat diselesaikan segera oleh Capres 2024, apabila terpilih sebagai presiden periode 2024 - 2029? Sebagian besar rakyat pasti akan meminta agar masalah korupsi wajib diselesaikan terlebih dahulu. Tetapi menurut akal sehat aspal Buton, yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah mewujudkan hilirisasi aspal Buton? Apa argumentasi dan dasar pemikiran ini?

Indonesia mengimpor aspal sebesar 1,5 juta ton per tahun. Atau senilai Rp 22,5 triliun per tahun. Untuk Indonesia mampu swasembada aspal diperlukan dana sebesar Rp 16 triliun. Dan semua faktor pendukung untuk Indonesia mampu swasembada aspal sudah siap tersedia. Jadi yang diperlukan hanyalah political will saja dari pemerintah atau presiden. Hanya itu saja. Dan semudah itu solusinya. Kesimpulannya, apabila pak Anies, atau pak Prabowo, atau pak Ganjar, akan terpilih menjadi presiden RI periode 2024 – 2029, telah berani memberikan lampu hijau, atau komitmennya, untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton, dan swasembada aspal, maka beliaulah orang yang paling berjasa untuk aspal Buton. Dan dapat disebut sebagai “Presiden Aspal Buton”.

Mungkin masih ada rakyat yang masih penasaran, bahwa masalah korupsi sejatinya adalah masalah yang paling besar bagi negara ini. Untuk meyakinkan mereka, silahkan pemerintah baru menunjuk sebuah perusahaan jasa-jasa ahli konsultan untuk meneliti dan menjabarkan dampak dari multiplier effect dari hilirisasi aspal Buton, dan swasembada aspal terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mungkin rakyat akan merasa lebih yakin lagi apabila pemerintah baru nanti akan mau memprioritaskan untuk menyelesaikan masalah mewujudkan hilirisasi aspal Buton, dan swasembada aspal, digabung menjadi satu dengan masalah korupsi. Sehingga dengan demikian, pertanyaan rakyat: ”Mengapa untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional, pemerintah lebih memilih untuk impor aspal, daripada mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton yang jumlah deposit aspal alamnya sangat melimpah?”, akan terjawab.

Presiden Aspal Buton adalah simbol kemenangan demokrasi dan rakyat Indonesia. Masalah aspal Buton merupakan sebuah tragedi bangsa yang sudah selama 78 tahun Indonesia merdeka, dan 7 kali berganti presiden, telah menjadi misteri dan sejarah hitam Indonesia. Pilihlah Presiden Aspal Buton ! Karena salah satu dari sekian banyaknya multiplier effect dari mewujudkan hilirisasi aspal Buton, dan swasembada aspal, pasti akan langsung dapat Anda nikmati.  Dan juga anak – anak, dan cucu - cucu Anda, sampai 100 tahun lebih ke depan.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler