x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Sabtu, 27 Januari 2024 17:49 WIB

Swasembada Aspal, Antara Harapan dan Kenyataan

Dan kalau tidak ada satu pun dari para capres yang mau dan berani membuat kontrak politik untuk swasembada aspal, maka setidak-tidaknya pilihlah capres yang masih waras, memiliki hati nurani, dan akal sehat. Yakni yang mau mewujudkan gagasan Indonesia berwasembada aspal.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Orang yang pertama kali menggaungkan wacana swasembada aspal adalah Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Kreinbang) Rachmat Gobel. Pada tanggal 27 September 2022, beliau menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki target khusus untuk berswasembada aspal. Hal tersebut disampaikan Gobel usai melakukan perjalanan ke Sulawesi Tenggara dan berbincang dengan Gubernur Sultra Ali Mazi.

Setelah kita membaca paragraf di atas, ada sesuatu yang terasa sangat aneh, yang menganjal di hati, dan mengganggu di dalam pikiran kita. Apakah itu? Anehnya, pernyataan Bapak Rachmat Gobel ini tidak mendapat tanggapan sama sekali, baik oleh pejabat-pejabat pemerintah, maupun oleh pengusaha-pengusaha swasta. Padahal beliau ini adalah seorang Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) yang terhormat. Beliau adalah wakil rakyat. Apakah ada yang salah dengan gagasan swasembada aspal? Sehingga tidak ada satupun orang dari jajaran menteri-menteri terkait pak Jokowi yang mau menanggapinya?

Adapun keanehan kedua adalah setelah Bapak Rachmat Gobel menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal, beliau tidak pernah menindaklanjuti dengan mengundang menteri Perindustrian untuk beraudensi membahas wacana Indonesia harus memiliki target khusus untuk berswasembada aspal. Gagasan brilian Indonesia harus memiliki target khusus untuk berswasembada aspal itu, seolah-olah telah hilang lenyap tanpa bekas di telan bumi. Rakyat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rakyat merasa sangat kesal dan kecewa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Keanehan masih belum berakhir. Keanehan selanjutnya adalah mengapa Gubernur Sultra Ali Mazi tidak pernah menindaklanjuti wacana Indonesia harus memiliki target khusus untuk berswasembada aspal?. Bukankah Bapak Ali Mazi pasti sudah tahu bahwa deposit aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, jumlahnya sangat melimpah. Sehingga pasti Indonesia akan mampu untuk berswasembada aspal. Mungkin rakyat Buton hanya bisa meratap pilu dan meneteskan air matanya, karena harapan untuk dapat hidup sejahtera itu, kini telah pupus.

Saat ini, menjelang hari pencoblosan tanggal 14 Februari 2024, untuk memilih calon presiden periode 2024 - 2029, masih ada sebuah keanehan lagi. Apakah itu? Gagasan swasembada aspal yang telah dicanangkan untuk pertama kalinya oleh Bapak Rachmat Gobel masih belum terdengar juga gaungnya di dalam narasi kampanye-kampanye politik para capres. Padahal swasembada aspal ini sudah sesuai dengan gagasan Trisakti dari Bung Karno untuk rumusan kedua: “Berdikari dalam ekonomi”. Jangan sampai gagasan swasembada aspal ini kembali hilang lagi di telan bumi. Karena tidak ada satupun dari para capres yang mau menghargai dan menghormati pendapat dan gagasan brilian dari seorang Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Kreinbang) Rachmat Gobel.

Mengapa gagasan Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal wajib kita viralkan di media-media massa? Agar gaungnya dari gagasan ini sampai terdengar ke telinga para capres 2024. Pak Jokowi, sebagai presiden RI ke 7 telah gagal total untuk mewujudkan swasembada aspal. Maka harapan rakyat Indonesia sekarang beralih, dan dibebankan kepada presiden RI ke 8. Apakah itu pak Anies, pak Prabowo, atau pak Ganjar? Dan rakyat masih menunggu dengan penuh harapan. Apakah masalah Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal ini akan muncul di dalam acara perdebatan terakhir pada tanggal 4 Februari 2024 nanti? Kalau tidak ada, maka gagasan cemerlang Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal ini, akan hilang lenyap lagi di telan gelapnya masa depan bangsa Indonesia.

Ada kesan negatif bahwa gagasan Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal, seolah-olah tidak penting dan mendesak. Mengapa? Rasanya aneh kalau ada orang yang berpendapat bahwa gagasan ini tidak penting dan mendesak. Indonesia sudah mengimpor aspal selama 45 tahun lamanya lho. Dan kerugian negara akibat dari Indonesia telah mengimpor aspal ini adalah sangat besar sekali? Berapa besar? Untuk mengetahui angka-angka yang pasti, kita harus melakukan penelitian dan studi yang komprehensif. Pasti kita semua akan kaget dan terkejut mengetahui berapa besar kerugian negara akibat kebijakan impor ini. Dan berapa besar potensi aspal Buton yang sejatinya akan mampu untuk mensubstitusi aspal impor tersebut,

Pemilu tinggal beberapa hari lagi. Sungguh sangat disayang sekali, kalau momentum yang sangat berharga ini, tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memviralkan gagasan Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal. Kalau tidak sekarang, mungkin Indonesia terpaksa harus menunggu 5 tahun lagi. Dan tanpa kita sadari, kerugian negara akibat kebijakan impor aspalpun akan semakin besar dan membengkak. Apakah kita tidak sadar? Bahwa yang merugikan negara itu bukan hanya korupsi, tambang ilegal, mafia tambang, dll. Tetapi kebijakan impor aspal itu juga termasuk di dalamnya. Karena dengan adanya kebijakan impor aspal, maka gagasan untuk berswasembada aspal telah hilang lenyap, menguap ke udara. Dan mirisnya lagi, sampai saat ini para capres 2024 masih belum “ngeh” juga dengan permasalah yang sangat penting dan mendesak ini.

Swasembada aspal adalah permasalahan nasional yang sangat penting, dan sudah sangat mendesak. Dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Seharusnya para generasi milineal dan Gen-Z yang sejatinya peduli dengan isu-isu ini. Karena merekalah yang akan langsung dapat menikmati keuntungan dan manfaat dari kebijakan swasembada aspal. Keuntungan apa yang akan mereka peroleh? Dengan adanya industri aspal Buton maka akan tercipta banyak sekali lapangan kerja baru, yang mereka sangat butuhkan. Dan dengan adanya pembangunan infrastruktur jalan-jalan sampai ke desa-desa terpencil di seluruh wilayah Indonesia, maka sarana transportasi dan logistik barang-barang dan orang-orang akan semakin cepat dan lancar untuk menggerakkan roda-roda perekonomian.

Oleh karena banyaknya keuntungan dan manfaat bagi bangsa dan negara Indonesia, apabila swasembada aspal ini sudah terwujud, maka pilihlah capres periode 2024 – 2029 yang berani membuat Kontrak Politik untuk berswasembada aspal. Dan kalau tidak ada satupun dari para capres ini yang mau dan berani, maka setidak-tidaknya pilihlah capres yang masih waras, memiliki hati nurani, dan akal sehat untuk mau mewujudkan gagasan Indonesia harus memiliki target khusus untuk berwasembada aspal.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan