x

Untuk mendapatkan uang Rp 28 Miliar, Panitia Ganti rugi libatkan 8 orang Masyarakat Desa, seakan akan jadi pemilik tanah.

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Sabtu, 9 Maret 2024 14:09 WIB

Mengapa Banyak Jalan Tol di Indonesia Tidak Menggunakan Aspal Buton?

Selama pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka lupakanlah bahwa aspal Buton pernah ada di bumi Indonesia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul tulisan ini merupakan sebuah pertanyaan yang bodoh. Mengapa? Karena produksi aspal Buton pada saat ini hanya kurang dari 100 ribu ton per tahun. Sedangkan kebutuhan aspal nasional adalah sebesar 2 juta ton per tahun. Dimana 90% masih harus diimpor. Sedangkan jalan-jalan Tol yang sudah dibangun di dalam era 2 periode pemerintahan pak Jokowi ribuan kilometer. Mengapa pertanyaan yang tidak masuk akal ini harus ditanyakan?

Pak Jokowi memang hebat mampu membangun jalan-jalan Tol yang tidak mampu dibangun oleh presiden-presiden yang sebelumnya. Untuk prestasi dan pencapaian yang gemilang ini, pak Jokowi patut mendapatkan penghargaan dan apresiasi dua jempol. Tetapi dari sudut pandang aspal Buton sendiri, pencapaian pak Jokowi ini tidak ada artinya apa-apa sama sekali. Mengapa? Karena tidak ada satupun jalan Tol yang sudah pak Jokowi bangun menggunakan aspal Buton. Aspal Buton adalah aspal alam buatan dalam negeri untuk mensubstitusi aspal impor. Produksi aspal Buton kurang dari 5% dari kebutuhan aspal nasional. Apakah hal ini bukan merupakan sebuah penghinaan dan merendahkan potensi produksi aspal alam di dalam negeri?

Rakyat Indonesia mungkin merasa kagum dengan megahnya jalan-jalan Tol yang sudah dibangun di seluruh Indonesia. Tetapi kalau mereka tahu bahwa jalan-jalan Tol tersebut dibuat dari aspal impor, maka mereka pasti akan bertanya-tanya: ”Kapankah aspal Buton akan mampu mensubstitusi aspal impor untuk digunakan di jalan-jalan Tol di seluruh Indonesia?. Bukankah deposit aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, adalah yang terbesar di dunia?”. Ini sebuah pertanyaan yang sangat cerdas. Tetapi tidak akan ada satupun orang di negeri ini yang mampu menjawabnya dengan tegas. Termasuk pak Jokowi sendiri, sebagai orang yang telah mampu membangun ribuan kilometer jalan-jalan Tol, juga tidak akan mampu menjawab pertanyaan yang sangat mendasar ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berhubung tidak ada satupun orang yang mau menjawab pertanyaan: “Mengapa jalan-jalan Tol di Indonesia tidak menggunakan aspal Buton?”, seperti judul dari tulisan ini, maka penulis sebagai seorang pemerhati aspal Buton akan berupaya untuk melakukan pengkajian dan analisa berdasarkan data dan fakta yang terjadi di lapangan.

Mungkin kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada pemerintah, maka pemerintah akan mengatakan bahwa produksi aspal Buton tidak memenuhi persyaratan tehnis untuk dapat digunakan di jalan-jalan Tol. Disamping itu, produksi aspal Buton adalah sangat-sangat sedikit sekali. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan aspal untuk membuat jalan-jalan Tol diperlukan aspal yang sangat-sangat banyak. Oleh jarena itu pemerintah terpaksa harus melakukan impor aspal dalam jumlah besar. Dan Indonesia merupakan salah satu negara terbesar sebagai importir aspal di dunia.

Seandainya jawaban pemerintah ini diucapkan 15 tahun yang lalu, maka rakyat masih percaya, dan mampu memakluminya. Tetapi kalau jawaban ini disampaikan pada hari ini, maka rakyat sudah tidak dapat menerima alasan tersebut. Indonesia sudah mengimpor aspal selama 45 tahun. Upaya-upaya apa saja yang sudah pemerintah lakukan untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton?  Pasti upaya-upaya pemerintah sudah banyak sekali. Tetapi mengapa sampai saat ini upaya-upaya tersebut masih belum berhasil? 45 tahun mengimpor aspal itu adalah waktu yang sangat lama sekali. Masak sih Indonesia tidak mampu mensubtitusi aspal impor dengan aspal Buton?

Apa akar masalah mengapa Indonesia sampai saat ini belum mampu mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton? Jawabannya hanya ada satu. Pemerintah tidak memliki kemauan politik (political will) untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton. Ya, semudah itu jawabannya. Karena kalau pemerintah sudah memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka hanya dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun Indonesia sudah akan mampu berswasembada aspal.

Pertanyaan bodoh berikutnya: “Mengapa pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton?”. Tanpa berprasangka buruk sedkitpun, kemungkinannya adalah karena pemerintah sudah merasa berada di dalam zona nyaman mengimpor aspal selama 45 tahun. Apakah kita mampu membayangkan betapa sangat nikmatnya berada di dalam zona nyaman selama 45 tahun? Sebagai orang yang normal, tentu kita tidak ingin kenikmatan ini akan hilang atau berkurang. Dan kalau bisa, kenikmatan ini akan berlanjut terus, dan kita rasakan sampai seumur hidup. Syukur-syukur kalau masih bisa dinikmati sampai tujuh turunan.

Setelah kita mengetahui, mengapa jalan-jalan Tol di Indonesia tidak menggunakan aspal Buton adalah karena tidak adanya kemauan politik dari pemerintah untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, lalu apa solusi terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia?

Solusinya adalah sangat mudah. Pemerintah harus memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton. Kalau pemerintahan pak Jokowi tidak memilki kemauan politik tersebut, maka kita harus menunggu waktu yang tepat, kapan pemerintahan pak Jokowi akan digantikan oleh pemerintahan yang baru. Dan mudah-mudahan pemerintahan yang baru nanti akan memiliki kebijakan yang pro rakyat, dan memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton.

Adapun masalah utama pada saat ini, kita masih belum tahu pasti, siapakah presiden dan wakil presiden baru periode 2024-2029?. Siapapun presiden dan wakil presiden yang akan terpilih nanti, sejatinya mereka harus mampu menjawab tantangan zaman: “Mengapa jalan-jalan Tol di Indonesia tidak menggunakan aspal Buton?”. Apabila pertanyaan ini tidak dijawab, maka rakyat jangan terlalu banyak berharap kepada pemerintahan baru periode 2024-2029. Karena selama pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka lupakanlah bahwa aspal Buton pernah ada di bumi Indonesia.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan