x

Merah putih.

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Selasa, 2 April 2024 19:12 WIB

Demi Aspal Buton, Demi Indonesia

Mari seluruh rakyat Indonesia, kita berjanji, berbakti, mengabdi, dan berjuang dengan jiwa dan raga, demi aspal Buton, dan demi Indonesia yang kita cintai dengan sepenuh hati.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mungkin dalam sejarah panjang 78 tahun Indonesia merdeka, perihal aspal Buton belum mampu mensubstitusi aspal impor adalah aib bagi bangsa dan negara Indonesia. Indonesia sudah dikaruniai nikmat aspal alam yang jumlah depositnya sangat melimpah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Tetapi alih-alih pemerintah mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, tanpa rasa malu sedikitpun, pemerintah malah justru mengimpor aspal dalam jumlah besar. Dimanakah rasa harga diri kita sebagai bangsa dan negara yang telah merdeka dan berdaulat?

Ingat kata “merdeka”, maka kita teringat lagu “Padamu Negeri”. Apakah kita sudah pernah menyanyikan lagu Padamu Negeri ini? Apakah hati dan bibir kita terasa bergetar? Apakah air mata kita menetes deras ke bumi? Apakah kita teringat kepada perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan kemerdekaan yang rela mengorban jiwa dan raganya untuk mencapai kemerdekaan Republik Indonesia? Apakah kita pernah berpikir, bahwa apabila kita tidak mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, maka hal itu  merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita dan tujuan kemerdekaan?

Para pahlawan kemerdekaan telah menyanyikan lagu “Padamu Negeri” berulang kali. Bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali. Mereka telah menghayati lirik lagu itu dengan sepenuh hati dan jiwa. Mereka berani dan rela mati untuk negeri ini. Mereka berani dan rela mati untuk mencapai kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka berani dan rela mati untuk kita, rakyat Indonesia. Tetapi sungguh kita tidak tahu diri dan tidak malu untuk mau membalas budi. Mengapa kita tidak mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor demi untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan kemerdekaan?. Adapun cita-cita dan tujuan kemerdekaan adalah Negara yang adil, makmur, dan sejahtera.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mari kita nyanyikan bersama-sama lagu “Padamu Negeri” lirih di dalam hati. Dan kita bayangkan perihal mengapa pemerintah tidak mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor?. Baris pertama pada lirik lagu “Padamu Negeri, kami berjanji”. Kata “berjanji” berarti sesuatu yang diucapkan, harus ditepati. Apakah pemerintah sudah pernah berjanji untuk menyejahterakan rakyatnya? Apakah janji itu sudah ditepati? Kita harus merasa malu kepada para pahlawan kemerdekaan. Karena mereka telah menepati janjinya kepada negeri untuk mencapai kemerdekaan. Meski mereka harus kehilangan jiwa dan raga.

Baris kedua pada lirik lagu adalah “Padamu Negeri, kami berbakti”. Kata “berbakti” berarti kepatuhan dan rasa hormat untuk menjunjung tinggi nama Indonesia. Apakah pemerintah sudah patuh dan memberikan rasa hormat untuk menjunjung tinggi kepada aspal Buton demi Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera? Kita harus merasa malu kepada para pahlawan kemerdekaan. Karena mereka telah patuh dan memberikan rasa hormat untuk menjunjung tinggi nama Indonesia. Tidak ada sesuatu yang lebih terhormat di bumi ini daripada menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Dan para pahlawan kemerdekaan itu telah berjuang untuk Indonesia yang merdeka dan berdaulat, serta berani dan rela mati untuk itu.

Baris ketiga pada lirik lagu adalah “Padamu Negeri, kami mengabdi”. Kata “mengabdi” berarti menyerahkan diri untuk kepentingan kedaulatan NKRI. Apakah pemerintah sudah? menyerahkan diri untuk kepentingan kedaulatan NKRI? Kita harus merasa malu kepada para pahlawan kemerdekaan. Meskipun Indonesia sudah 78 tahun merdeka, tetapi Indonesia masih belum berdaulat di negerinya sendiri. Indonesia masih lebih suka dijajah oleh aspal impor, daripada mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton yang merupakan sumber daya aspal alam di negeri sendiri.

Baris keempat pada lirik lagu adalah “Bagimu Negeri, jiwa raga kami”. Dan pada baris keempat, kata “jiwa raga” berarti merelakan semua yang dimiliki untuk menjaga kedaulatan NKRI. Apakah pemerintah sudah merelakan semua yang dimiliki untuk menjaga kedaulatan NKRI? Kita harus merasa malu kepada para pahlawan kemerdekaan. Karena mereka sudah memberikan dan merelakan semua yang paling berharga, yang mereka miliki; yaitu jiwa dan raga, untuk menjaga kedaulatan NKRI. Dan kelihatannya dalam perihal aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, pemerintah masih belum memberikan kontribusi apa-apa sama sekali untuk menjaga kedaulatan aspal Buton. Pemerintah masih merasa belum rela mau mewujudkan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor.

Lagu “Padamu Negeri” diciptakan oleh Kusbini pada tahun 1942, tiga tahun sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Lagu “Padamu Negeri” ini sedikit banyak telah berkontribusi kepada Kemerdekaan Republik Indonesia, karena mampu membangkitkan gelora semangat nasionalisme untuk melawan penjajah. Meskipun “Padamu Negeri” hanya merupakan sebuah lagu, tetapi jasanya untuk kemerdekaan Republik Indonesia sangat besar. Tidak kalah besar dengan jasa-jasa dari para pahlawan kemerdekaan yang telah gugur secara terhormat, karena telah termotivasi oleh lirik dari lagu “Padamu Negeri” ini.

Bagaimana dengan diri kita sendiri sekarang ini, pada 78 tahun setelah Indonesia merdeka? Masihkah kita termotivasi oleh lirik lagu “Padamu Negeri”. Apakah lagu ini sengaja diciptakan oleh Kusbini hanya semata untuk memotivasi para pahlawan kemerdekaan demi untuk mencapai kemerdekaan? Rasanya tidak demikian. Kusbini menciptakan lagu “Padamu Negeri” ini, karena rasa kecintaannya yang sangat mendalam kepada negeri ini, Indonesia. Sehingga beliau mengajak dan menghimbau kepada semua rakyat Indonesia untuk mencintai sepenuh hati Indonesia dengan cara berjanji, berbakti, mengabdi, dan merelakan jiwa raga. Apakah pemerintah pernah merasa terpanggil dan termotivasi dengan lirik lagu “Padamu Negeri” ciptaan Kusbini ini?

Pemerintah jangan sekali-kali menganggap remeh perihal aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor. Karena ini adalah masalah kedaulatan NKRI. Mohon jangan khianati dan halang-halangi cita-cita dan tujuan perjuangan para pahlawan kemerdekaan untuk mencapai negara Republik Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Mari seluruh rakyat Indonesia, kita berjanji, berbakti, mengabdi, dan berjuang dengan jiwa dan raga, demi aspal Buton, dan demi Indonesia yang kita cintai dengan sepenuh hati.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan