x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Jumat, 5 April 2024 18:58 WIB

Fenomena Aspal Buton; Sebuah Tanda Tanya

Fenomena aspal Buton sebuah tanda tanya. Karena semakin kita bertanya, kita akan semakin merasa aneh, dan geli. Semakin kita ingin tahu, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan baru muncul di dalam benak kita. Apakah sebaiknya kita cuek saja dengan fenomena aspal Buton ini? Karena selama ini itulah yang telah dilaksanakan oleh pemerintahan dua periode pak Jokowi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada sebuah fenomena aneh di bumi Indonesia ini. Mengapa pemerintah tidak mau memanfaatkan dan mengelola aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sampai saat ini masih belum terjawab. Sungguh aneh. Apa sih susahnya menjawab pertanyaan ini? Atau apakah ada yang salah dengan kalimat pertanyaannya, sehingga tidak ada seorangpun di negeri ini yang mampu menjawabnya?

Sejatinya, tidak ada yang salah dengan kalimat pertanyaannya? Kalimat pertanyaannya sudah sesuai dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan semua orang sudah dapat memahami pertanyaan ini dengan baik. Tetapi mengapa belum ada satu orang pun di negeri ini yang mampu menjawabnya? Termasuk pak Jokowi sendiri, sebagai seorang Presiden RI ke-7.

Apabila pertanyaan ini kita tanyakan kepada rakyat, apa kira-kira jawabannya? Mungkin rakyat akan menjawab bahwa pemerintah menganggap bahwa selama ini aspal Buton tidak penting. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan aspal di dalam negeri, maka pemerintah lebih memilih kebijakan untuk impor aspal. Akibat adanya jawaban ini, maka akan timbul pertanyaan baru. Lho, mengapa kok aspal Buton dianggap tidak penting? Apakah aspal impor itu lebih penting? Nah, akibat adanya jawaban ini, maka setiap orang akan semakin bingung dan penasaran. Apa sih kira-kira jawaban yang paling jujur, yang seharusnya keluar dari hati yang bersih seorang Presiden RI?.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dengan membuat simulasi tanya jawab ini akan dapat menjelaskan kepada kita bahwa fenomena aspal Buton itu tidak saja aneh, tetapi juga menggelikan. Nah, muncul tanda tanya baru. Lho, kok aspal Buton merupakan fenomena yang menggelikan? Apakah hal ini merupakan sesuatu yang lucu? Indonesia memiliki aspal Buton yang jumlah depositnya terbesar di dunia, tetapi Indonesia kok malah memilih kebijakan untuk impor aspal?. Dan tidak tanggung-tanggung. Indonesia sudah mengimpor aspal selama 45 tahun. Dan jumlah yang diimpor pada saat ini adalah sebesar 1,5 juta ton per tahun, atau senilai Rp20 triliun per tahun. Mengapa menggelikan? Karena kita tidak tahu, apakah kita harus menangis atau tertawa geli dengan adanya fenomena aneh ini.

Apakah ada yang lucu dengan keterangan di atas? Bukankah kita harus merasa bangga bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara importir aspal terbesar di dunia selama 45 tahun? Indonesia hebat sudah bisa sejajar dengan negara besar seperti China, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia sebagai negara importir aspal terbesar di dunia. Hal ini telah menunjukkan kepada kita, bahwa pembangunan infrastruktur jalan-jalan di seluruh wilayah Indonesia telah berkembang dengan sangat pesatnya. Indonesia maju. Pertanyaannya adalah kalau Indonesia maju, mengapa aspal Buton justru terpuruk? Kelihatannya ada yang salah dengan logika dan akal sehat dari fenomena aspal Buton ini?

Apabila kita melihat dari sudut pandang orang yang cerdas. Dan sisi lain dari kehidupan yang dunia yang beradab. Apabila kita memiliki tanah yang subur dan sawah yang luas, mengapa kita harus mengimpor beras? Fenomena aneh dan menggelikan antara impor aspal dan impor beras kelihatannya ada persamaannya. Sama-sama menganggap bahwa impor aspal dan impor beras itu lebih menguntungkan daripada kalau kita mau berswasembada aspal dan beras sendiri.

Hal ini merupakan pemikiran yang perlu kita tantang untuk menjadi ajang sebuah diskusi intelektual tingkat nasional. Indonesia memiliki banyak sekali pakar dan ahli di bidang pertambangan dan pertanian. Silahkan melakukan debat nasional antara para ahli yang pro dan kontra impor aspal dan beras. Kemungkinan besar debat ini tidak akan kalah heboh dan serunya dengan debat capres dan cawapres yang lalu. Apakah Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian tertarik dengan tantangan ini?

Impor aspal itu adalah hal yang wajar dan bijak, seandainya saja Indonesia tidak memiliki aspal Buton. Apa lagi jumlah deposit aspal Buton adalah yang terbesar di dunia. Mungkin fenomena ini dapat kita kiaskan dengan seseorang yang memiliki uang sangat banyak di Bank, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Ia lebih memilih kebijakan untuk berhutang kepada temannya dengan bunga besar. Pertanyaannya adalah mengapa orang ini tidak mau menggunakan uangnya sendiri yang di Bank? Mengapa orang ini malah mau meminjam uang dari temannya dengan bunga tinggi?

Cerita di atas merupakan cerita fiksi. Fiksi berasal dari kata fiction yang artinya khayalan. Pengertian cerita fiksi adalah cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau rekaan dari penulis dan bukan berasal dari kisah nyata.

Dengan penjelasan ini, maka di dunia nyata tidak mungkin ada orang yang memiliki uang banyak, dan ia mau meminjam uang kepada temannya dengan bunga tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kisah ini hanya bisa terjadi di dalam cerita fiksi yang dibuat berdasarkan khayalan atau rekaan dari penulisnya.

Tetapi bagaimana dengan fenomena aspal Buton? Indonesia yang memiliki deposit aspal alam Buton terbesar di dunia, dan malah lebih suka mengimpor aspal? Apakah ini cerita nyata atau fiksi? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini? Apakah fenomena aspal Buton ini merupakan cerita nyata atau cerita fiksi? Pertanyaan yang sulit dijawab.

Apabila kita kaji dan analisa pertanyaan apakah fenomena aspal Buton ini merupakan cerita nyata atau cerita fiksi, maka kita harus menanyakannya kepaa penulis ceritanya. Sekarang akan timbul pertanyaan baru. Siapakah penulis cerita fenomena mengapa pemerintah tidak mau memanfaatkan dan mengelola aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor? Apakah penulisnya adalah pak Jokowi, atau ada penulis-penulis lain? Kita tidak tahu.

Fenomena aspal Buton sebuah tanda tanya. Karena semakin kita bertanya, kita akan semakin merasa aneh, dan geli. Semakin kita ingin tahu, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan baru yang akan muncul di dalam benak kita. Apakah sebaiknya kita cuek saja dengan fenomena aspal Buton ini?. Karena selama ini itulah yang telah dilaksanakan oleh pemerintahan dua periode pak Jokowi.   

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan