Ruang Pendidikan dalam Dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail

Rabu, 19 Juni 2024 10:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Suasana dialog antara Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Ismail AS sebelum penyembelihan sangat sejuk antara ayah dan anak, atau antara guru dan murid. Dialog ini mengandung pesan pendidikan yang bisa diterapkan oleh orangtua dan guru dalam membimbing putra-putri dan peserta didiknya.

Hari Senin (17/6/2024) kemarin umat Islam di penjuru Nusantara merayakan Idul Adha 1445 H dengan semarak sesuai dengan keputusan Muhammadiyah, NU, dan pemerintah. Walaupun terdapat perbedaan dalam penetapan dengan Kerajaan Arab Saudi yang lebih dahulu melaksanakan Hari Raya Kurban pada hari Ahad (16/6/2024). Namun demikian animo masyarakat Indonesia untuk merayakan hari besar Islam diiringi dengan berkurban.

Hari Idul Adha disebut juga Hari Raya Kurban karena pada hari tersebut disunnahkan untuk menyembeli hewan ternak sebagai salah satu bentuk pengabdian hamba kepada Allah SWT. Kata kurban berasal dari bahasa Arab; qariba, yaqrabu, qurban wa qurbanan (artinya: dekat), secara istilah kurban bermakna mendekatkan diri kepada Allah melalui ritual menyembeli hewan ternak (kambing, sapi, atau onta).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perintah berkurban secara spesifik diperintah oleh Allah sebagaimana dalam QS. Al-Kautsar: 2, yang artinya: “Maka salatlah engkau karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. Nabi Muhammad SAW juga bersabda yang diriwayatkan Abu Hurairah, artinya: “Siapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tetapi tidak mau berkurban? Maka jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Syariat berkurban merupakan warisan dari Nabi Ibrahim AS dengan putranya (Nabi Ismail AS) yang diteruskan Nabi Muhammad SAW. Kisah dan perjalanan Nabi Ibrahim AS menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembeli putranya dibadikan di dalam Alquran. Namun yang menjadi perhatian adalah suasana dialog antara bapak dengan anak sebelum melaksanakan perintah Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam QS. As-Saffat: 102.

Artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu? Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.

Seorang nabi atau rasul yang bermimpi bukan seperti orang biasa yang bermimpi, tetapi mimpinya merupakan isyarat atau perintah dari Allah SWT yang harus dilaksanakan betapun beratnya. Ketika Nabi Ibrahim mengami hal tersebut disampaikan kepada putranya (Nabi Ismail AS), tentu saja yang disampaikan kepada Nabi Ismail adalah perihal yang wajar, karena usianya sudah baligh (dewasa awal) sehingga bisa menjawab dengan baik.

Maka Nabi Ismail AS menjawab dengan tenang dan menunjukkan kedewasaanya, dengan suara lantang dan tegas meminta kepada ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah. Bagainamapun naluri seorang ayah tentu tidak akan tega menyembeli anaknya, tetapi kejadian ajaib di luar nalar manusia. Allah kemudian mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor kambing yang disembelih oleh Nabi Ibrahim AS.   

Pesan pendidikan yang dapat digarisbawahi dalam kisah tersebut di atas adalah suasana dialogis antara Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Ismail. Dalam rekaman dialog tersebut adalah cara menyampaikan perintah Allah kepada putranya dengan memberikan kesempatan untuk berfikir dan menjawab secara rasional tanpa ada tekanan. Jawaban lugas dan ikhlas dari Nabi Ismail sebagai anak yang akan dikurbankan.

Nabi Ibrahim AS sebagai seorang ayah tidak berlaku sewenang-wenang dan diktator kepada putranya dalam menjalan perintah Allah, tetapi lebih mengutamakan dialog untuk menggali argumentasi dari Nabi Ismail AS. Tujuan dialog adalah untuk membangun pemahaman dan saling pengertian, bukan untuk meraih kemenangan.

Dialog dilakukan untuk mencapai kesepakatan bukan dalam kerangka transaksi tawar-menawar tentang sesuatu. Dialog juga bukan konfrontasi di mana pihak yang satu mempersoalkan sesuatu dan pihak yang lain memberi pertanggungjawaban. Secara substansial, dialog adalah percakapan dengan maksud untuk saling mengerti, memahami, menerima, hidup damai dan bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan bersama (Ngainun Naim, 2013).

Suasana dialogis antara Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Ismail AS dapat dijadikan tauladan bagi orangtua dan guru saat membersamai anak dan peserta didik dalam proses pendidikan. Dengan memberikan kesempatan kepada anak dan peserta didik untuk bertanya terhadap sesuatu yang belum dipahami atau tugas-tugas yang belum dimengerti.

Semoga kita mampu memetik pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Ismail AS dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. (*)

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ali Efendi (Headmaster - Tinggal di Komunitas Nelayan Lamongan)

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua