x

Ilustrasi Pekerja Anak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Prima Mulia/Tempo

Iklan

lintasanpikirancom

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 November 2021

Kamis, 20 Juni 2024 12:42 WIB

Dari Kaca Mata Happy Money ala Ken Honda, Tapera Mestinya Diurungkan

Banyaknya penolakan berbagai lapisan masyarakat terhadap Tapera m,enimbulkan pertanyaan: Bagaimana jika isu ini dilihat dari sudut pandang Happy Money ala Ken Honda?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemerintah mengklaim bahwa Tapera adalah untuk kebaikan rakyat, yaitu mengatasi backlog dan membantu masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah agar bisa punya rumah.

Namun, respon dari masyarakat justru sebaliknya. Sebagian besar masyarakat malah memandang Tapera sebagai bentuk ketidakpedulian pemerintah. Tanpa melibatkan yang punya gaji, pemerintah mengeluarkan kebijakan akan memotong pendapatan pekerja meliputi pegawai swasta, TNI, Polri, PNS, dan pekerja mandiri sebesar 3 persen. 

Dengan rincian 2,5 persen ditanggung oleh pekerja dan 0,5 persen ditanggung oleh pemberi kerja. Sementara pekerja mandiri menanggung semuanya sendiri sebesar 3 persen.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pekerja dan pengusaha yang merupakan bagian dari masyarakat, menolak. Kok bisa, kebijakan yang katanya untuk rakyat tetap disahkan?

Sekilas Tentang Happy Money Ala Ken Honda

Ramainya penolakan terhadap Tapera membuat saya tertarik memandangnya dari kaca mata Happy Money ala Ken Honda. Dalam buku Happy Money, Ken Honda membagi uang ke dalam dua kelompok, uang bahagia (happy money) dan uang tidak bahagia (unhappy money).

Izinkan saya bercerita sedikit tentang latar belakang pembagian jenis uang tersebut. Dalam bukunya, Ken bercerita bahwa suatu hari saat usai mengikuti seminar, Ken kecil diminta oleh seorang perempuan untuk memperlihatkan isi dompetnya. Setelah itu, wanita itu juga meminta izin apakah boleh jika ia mengeluarkan isi uang tersebut. Ken membolehkannya.

Sambil memegang uang dari dompet Ken, wanita itu mengatakan bahwa uang yang dimilikinya adalah uang yang bahagia. “Uangnya tersenyum” karena dihasilkan dari membantu menyelesaikan pekerjaan orang lain atau menghibur orang lain.

Singkat cerita, Ken kemudian membagi jenis uang ke dalam dua kelompok seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Ken memandang uang sebagai energi, lebih dari sekadar alat tukar.

“Uang adalah energi dan dapat menarik atau tertarik oleh orang-orang magnetis,” Begitu kata Ken dalam bukunya.

Perihal uang sebagai energi, Ken menganalogikan uang sebagai sesuatu yang juga memiliki emosi. Uang yang dihasilkan sebagai bentuk apresiasi dari membantu orang lain dan membuat orang lain bahagia, adalah uang yang tersenyum. 

Sedangkan uang yang diperoleh dari sesuatu yang tidak memberikan nilai tambah kepada orang lain, seperti uang yang diperoleh dari keterpaksaan misalnya, adalah uang yang marah atau menangis.

“Sebenarnya kamu tidak pantas mendapatkan bayaran ini, tapi saya tetap bayar karena menghargai kontrak,” sebuah contoh dari uang yang marah atau menangis.

Memandang Tapera dari Kaca Mata Happy Money ala Ken Honda

Banyaknya penolakan dari berbagai elemen masyarakat, membuat saya gelisah memandang Tapera dari sudut pandang Happy Money. Kira-kira, jika suatu saat masyarakat harus membayar iuran Tapera, apakah dana yang dikumpulkan tersebut adalah happy money atau unhappy money? Tanya saya dalam diri.

Lalu, saya mendapatkan jawabannya simple saja. Jika uang yang dikumpulkan tersebut adalah uang yang diberikan dengan rasa suka cita, dan dengan rasa syukur dari pemberinya, uang tersebut adalah happy money.

Sedangkan jika uang tersebut adalah uang yang diberikan tanpa rasa suka cita, karena keterpaksaan, misalnya, uang tersebut sejatinya adalah uang yang “marah” atau “menangis” alias unhappy money. Dan jika memang demikian, dari kaca mata happy money, Tapera mestinya diurungkan.

Lalu, Apa?

Sampai di sini, saya menemukan bahwa kata kuncinya adalah pada “kesukacitaan”. Bisakah pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa uang yang terkumpul di Tapera benar-benar mampu untuk membantu masyarakat punya rumah? Dengan begitu, mereka akan dengan perasaan suka cita membayar iuran Tapera.

Bisakah pemerintah menjawab persoalan inflasi terkait harga rumah yang tidak sepadan dengan pungutan dana Tapera yang dinilai terlalu kecil? Mengingat, orang-orang yang tidak memenuhi syarat menerima Tapera, gajinya tetap dipotong dan dapat dicairkan pada usia 58.

Bisakah pemerintah menjelaskan soal transparansi pengelolaan dana Tapera nantinya? Mengingat masyarakat masih menaruh curiga dengan proyek yang bermasalah sebelumnya, yaitu Asabri dan Jiwasraya.

Apalagi, melansir dari Tempo.co, laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 2021 mencatat bahwa ratusan ribu pensiunan belum mendapatkan pengembalian dana Tapera senilai Rp567,5 miliar.

Di samping itu, bisakah pemerintah menjamin terkait fasilitas dan akses perumahan nantinya? Sehingga, yang punya rumah nantinya senang (happy).

Mengingat, menurut cuitan ekonom Ari Perdana yang pernah menjabat sebagai Asisten Koordinator Kelompok Kerja Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di X, mengungkap fakta bahwa UU Tapera pernah ditahan oleh Boediono pada sekitar 2013-2014.

Salah satu penyebabnya adalah terkait sarana-prasana pendukung hingga ketersediaan akses.

Jika pemerintah memang bisa menjawab dan menjamin itu semua, saya rasa masyarakat akan dengan senang hati untuk mengeluarkan uang sehingga menjadi happy money. Namun, jika sebaliknya, saya rasa pemerintah (dan kita semua) memang belum siap sehingga dari kaca mata happy money, Tapera sebaiknya diurungkan.

 

Ikuti tulisan menarik lintasanpikirancom lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler