x

Iklan

Mulya Sarmono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Duka Yerussalem

Gambaran tentang perang antara Israel dan Palestina serta kemungkinan perdamaian untuk kedua negara tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

 

            Serangan demi serangan di gencarkan Negara terhadap Negara lainnya. Telah banyak korban yang berjatuhan di antara kedua belah pihak, Palestina dan Gaza.

            Ketika kita kembali ke sejarah masa lalu, maka kita akan menemukan berbagai pertumpahan darah. Mulai dari perang salib sampai sekarang perang Israel dan Palestina. Seakan sejarah tentang Yerussalem adalah sejarah tentang peperangan. Sejarah tentang pertumpahan darah.

            Sejak beberapa hari ini, Israel secara massif menyerang jalur gaza dengan membabi buta. Korban yang meninggal di Palestina sudah mencapai 112 orang. Sedangkan di pihak Israel hanya beberapa orang luka saja.[1]

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penyebab Gejolak Gaza

            Gaza kembali bergejolak akibat terbunuhnya tiga orang Israel yakni  Natfali Frenkel, Gilad Shaar, dan Eyal Yifrach, ditemukan tewas di Halhul di utara Hebron, Palestina yang diduga dilakukan oleh HAMAS. Kemudian disusul meninggalnya seorang warga Palestina yakni Mohammad Abu Khdeir yang diduga balasan Israel terhadap terbunuhnya ketiga warga Israel.[2]

            Akibat dari pembunuhan demi pembunuhan itu, maka disusul dengan serangan demi serangan di kedua belah pihak. Berbagai spekulasipun bermunculan, mulai dari isu agama, isu ras dan sebagainya. Berbagai aksi di dunia untuk mengecam kekerasan di Palestina pun di gelar, juga aksi di Indonesia.

            Aksi tersebut berupa aksi solidaritas, aksi penggalangan dana dan pengiriman tim relawan untuk Palestina. Juga berbagai aksi pembakaran bendera Israel sampai shalat ghaib untuk palestina. Tapi berbagai dukungan juga ditujukan kepada Israel atas serangan tersebut, terutama sekutu-sekutunya.

Gaza dan Berbagai Kekerasan

            Kekerasan merupakan salah satu cara yang diambil oleh sebagian orang yang ingin menyelesaikan masalah. Tapi jika kita memikirkan secara kritis cara tersebut, maka kita akan mendapat sebuah pertanyaan, apakah memang benar bahwa jalan kekerasan dapat menyelesaikan masalah? Apakah memang benar bahwa dengan saling serang, saling melukai bahkan saling membunuh seperti yang terjadi di Gaza maka akan memberikan manfaat kepada salah satu pihak?

            Tentunya kekerasan tida akan memberikan manfaat apapun dan tidak akan memberi penyelesaian sedikitpun. Atas alasan apapun, kekerasan tidak pernah di benarkan.

            Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa:

Saya menolak kekerasan karena saat terlihat menghasilkan kebaikan, kebaikan itu hanyalah sementara, keburukan yang dihasilkannya adalah kekal”.[3]

Maka kekerasan meskipun membela yang benar, kebaikan yang ditimbulkannya hanyalah sementara.

            Mahatma Ghandi juga pernah berkata bahwa

Saya tidak percaya bahwa kekerasan adalah jalan pintas menuju kesuksesan, betapaun saya mungkin bersimpati dan mengagumi tujuan yang berharga, saya adalah lawan yang keras kepala dari metode kekerasan sekalipun untuk tujuan yang mulia, pengalaman meyakinkan saya bahwa kebaikan yang kekal tidak pernah akan menjadi hasil dari kedustaan dan kekerasan.[4]

Maka tidak ada alasan bagi Israel dan Palestina untuk saling serang dan melakukan berbagai kekerasan. Palestina dan Israel seharusnya menyelesaikan masalah dengan jalur perdamaian, dan selalu hidup dalam kedamaian.

Kekerasan sudah bukan jalan keluar lagi bagi kedua Negara. Sebagai manusia dan umat beragama, cinta kasih adalah jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalah. Perbuatan baik bagi setiap manusia adalah suatu keniscayaan untuk mencapai kedamaian.

Seperti yang dikatakan Caknur bahwa

Setiap pribadi manusia harus berbuat baik kepada sesamanya dengan memenuhi diri pribadi terhadap pribadi yang lain, dan dengan menghormati hak-hak orang lain, dalam suatu jalinan hubungan kemasyarakatan yang damai dan terbuka.[5]

Maka dari itu, kekerasan dan pertumpahan darah di Gaza harus cepat selesai dan memilih untuk berdamai. Baik dipihak Israel maupun dipihak Palestina harus berhenti saling gencarkan senjata dan harus saling menahan diri. Karena perdamaian lebih baik daripada kekerasan.



[3] Easwaran Eknath, Gandhi The Man, Seorang Pria yang Mengubah Dirinya Demi Dunia, PT Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2013 hlm 60

[4] Ibid., hlm 61

[5] Madjid Nurcholis, Masyarakat Religius, Paramadina, Jakarta, 1997

Ikuti tulisan menarik Mulya Sarmono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB