Memaafkan - Urban - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Memaafkan

    Belajar untuk memaafkan memang tidak mudah, tapi inilah yang mesti kita lakukan.

    Dibaca : 3.201 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Si lemah tak pernah dapat memaafkan. Memaafkan hanya atribut bagi si kuat.

    --Mahatma Gandhi

     

    Seperti halnya meminta maaf yang tulus sukar dilakukan, begitu pula dengan memberi maaf. Sebagian orang beranggapan bahwa maaf tak perlu diberikan kepada orang-orang tertentu: “Biar saja, untuk apa saya memaafkan dia?” Ya, memberi maaf lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan. Memaafkan bisa jadi tantangan yang tidak mudah ditaklukkan. Secara verbal orang mungkin mengatakan, “Oke, gak apa-apa,” tapi hatinya masih nggondok.

    Seandainya orang tahu ihwal manfaat memaafkan bagi dirinya, orang mungkin berpikir lain. Memaafkan itu bagus bagi kesehatan, bahkan dalam pengertian harfiah. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Medicine menyebutkan bahwa memaafkan memiliki kaitan dengan menurunnya detak jantung dan tekanan darah, serta mengurangi stres. Dalam jangka panjang, manfaat kesehatan ini tetap terasa dan bagus untuk kesehatan secara menyeluruh.

    Studi lain yang masih berkaitan dengan pemberian maaf mengukur lima unsur kesehatan, yakni gejala fisik, pengobatan yang digunakan, kualitas tidur, kelelahan, serta keluham somatik. Dampaknya: spiritualitas menguat, stres berkurang, dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola konflik. Tentu saja, bila memaafkan bukan dinyatakan secara verbal semata, tetapi—seperti halnya meminta maaf secara tulus—juga dengan hati dan pikiran yang lapang.

    Studi lain menyebutkan bahwa permintaan maaf bukan hanya memulihkan pikiran, perasaan, maupun perilaku positif, yang pada gilirannya memperbaiki relasi dengan orang lain. Didapati, efek dari rasa benci dan memaafkan serta berempati terhadap kondisi fisiologis seseorang ternyata sangat berbeda. Rasa benci cenderung menaikkan tekanan darah, sebaliknya memaafkan cenderung mengurangi kegelisahan, kemarahan, serta membikin seseorang rileks.

    Soalnya kemudian ialah bagaimana praktisnya? “Konsep memaafkan itu sederhana, eksekusinya yang sukar,” kata Fred Luskin, ahli psikologi kesehatan lulusan Stanford University, AS. Ketika Anda memikirkan kesalahan orang lain terhadap diri Anda, kata Fred, detak jantung Anda bertambah cepat, tekanan darah Anda naik, Anda pun merasa dilukai dan mulai ngaco.

    Ketimbang berpikir tentang kesalahan orang lain, kata Fred lagi, mengapa kita tidak menikmati saja keindahan hari ini? Bukannya orang tidak boleh marah, tapi memikirkan kebaikan niscaya lebih baik ketimbang membayangkan sikap tak menyenangkan orang lain terhadap diri kita.

    Dengan memaafkan, pikiran dan perasaan negatif tentang perlakuan orang lain, kesalahan diri sendiri di masa lampau, perlahan-lahan dapat sirna. Ketika seseorang memperlakukan Anda dengan buruk, orang itu telah menunjukkan siapa dirinya. Bila Anda marah dan memendam rasa benci kepada orang itu, lantas apa bedanya?

    Ya, ini memang lebih mudah dikatakan daripada dipraktekkan. Tapi, seandainya Anda tahu, memaafkan adalah cara terbaik untuk melupakan rasa sakit, menghilangkan rasa benci kepada orang yang kita anggap melukai, bahkan memaafkan mungkin dapat dianggap sebagai balas dendam terbaik kepada orang tersebut. “Tak ada balas dendam yang sempurna seperti halnya memberi maaf,” ujar Josh Billings, humoris Amerika abad ke-19.

    Akhirnya, hanya yang kuat yang mampu memaafkan—bukan sebaliknya seperti anggapan umum bahwa si lemah yang bisa memaafkan. Ini tak lain karena memaafkan memerlukan keberanian untuk menghadapi rasa sakit dan luka emosional untuk kemudian membiarkannya berlalu.

    Saya rasa benar apa yang dikatakan oleh Robert Brault, penyanyi bersuara tenor, bahwa “Hidup akan lebih mudah manakala engkau belajar menerima maaf yang belum pernah engkau dapatkan.” (sbr foto: craigconsidinetcd.com) **

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: web seo

    Minggu, 7 Agustus 2022 06:24 WIB

    Tip Merawat Sliding Door Mobil agar Tetap Awet

    Dibaca : 364 kali