x

Iklan

arjunaputra aldino

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Demokrasi dan Wayang Kulit

Demokrasi katanya, ditopang oleh nilai yang disebut “rasionalitas”, yakni oleh pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan pastinya kita tidak akan pernah lupa bahwa demokrasi menjunjung tinggi apa yang disebut kebebasan berpendapat dan kemerdekaan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada seorang teman yang bercerita pada saya, ia bercerita tentang wayang. Terutama tentang kisah Pandawa dan Kurawa. Teman itu berkata bahwa tokoh Kurawa yang selama ini digambarkan buruk di dalam cerita pewayangan, ternyata di sisi lain mempunyai perilaku yang patut dicontoh. Seperti, Duryudana adalah anak sulung dari Kurawa yang bertanggung jawab, Dursasana adalah adik yang sangat patuh, Citraksa Citraksi adalah Kurawa yang sopan, Yuyutsu adalah satu-satunya Kurawa yang selalu mau belajar. Demikian pula Patih Sangkuni yang sejak kecil telah mengalami ketidakadilan di keluarganya dan sempat dipermalukan oleh Pandu.

Namun apa daya cerita seorang teman itu. Nasi sudah menjadi bubur. Di dalam pemahaman masyarakat Jawa, Kurawa sudah terlanjur mendapat makna buruk bahkan jahat, arogan dan perusak. Dan Pandawa adalah seorang pahlawan. Pemahaman itu sudah merasuk di alam bawah sadar orang Jawa, bahkan turun temurun dari kakek sampai buyut. Image Kurawa yang serba buruk dan jahat sudah mengalir ke dasar pikiran orang Jawa. Jika ada cerita yang berbeda dari itu pastilah ia dianggap “ngawur”, “ngomong sakpenake wedel”, bisa-bisa dianggap orang gila yang lagi ngibul. Walau itu hanya cerita wayang, namun ia sudah menjadi keyakinan masyarakat bahkan sudah menjadi tuntunan moral. Sehingga pemaknaan cerita yang berbeda sulit untuk diterima, walaupun itu ada.

Namun terlepas dari itu semua, saya sungguh mengapresiasi usaha dari teman itu. Paling tidak, ia adalah orang Jawa yang mampu keluar dari apa yang selama ini diyakini orang Jawa. Ia mau mengoreksi. Ia mau memahami “sisi lain” dari yang biasa digambarkan. Itu juga pertanda bahwa dia bukanlah orang yang segalanya hanya dipandang sekedar “hitam-putih”. Ia mampu mengajarkan kepada saya bahwa tidak selamanya di dalam diri orang jahat tidak ada yang tidak bisa di contoh. Hidup untuk mengambil hikmah, sautnya. Dan hikmah ternyata juga ada pada diri si jahat, bukan melulu hanya ada dalam diri si baik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mungkin cerita tentang beragamnya cara pandang dan pemaknaan terhadap sesuatu bukanlah hal yang menakjubkan untuk dunia yang kita hidupi sekarang, dunia yang katanya sudah berada di alam demokrasi. Apalagi di alam demokrasi katanya, ditopang oleh nilai yang disebut “rasionalitas”, yakni oleh pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan pastinya kita tidak akan pernah lupa bahwa demokrasi menjunjung tinggi apa yang disebut kebebasan berpendapat dan kemerdekaan berfikir.

Kita tidak lagi hidup di era orde baru, yang katanya berbisik-bisik soal politik saja bisa kena bedil. Menulis tentang kritik saja bisa di bredel, bahkan bisa hilang entah kemana. Dan dulu mungkin tak ada media massa yang berani membuat berita tentang keburukan pemerintah.Semua media haruslah kompak mengelu-elukan pembangunan. Bukan hanya siswa sekolah saja yang harus ditatar dengan Pancasila. Pers juga harus Pancasilais, dengan tidak membuat gaduh dengan berita yang pedas di telinga birokrat. Di tangan orde baru inilah ideologi Pancasila bukan menjadi nafas kebijakan pemerintah. Namun hanya menjadi alat untuk memperkukuh kontrol dan kekuasaan. Orang tak berani melawan sesuatu yang sudah terlanjur bermakna baik seperti layaknya Pancasila, walau yang baik itu hanya dijadikan alat untuk melapangkan perbuatan jahat.

Pemerintah Orde Baru mampu mengidentifikasikan dirinya dengan Pancasila. Sehingga melawan Pemerintah Orde Baru sama dengan melawan Pancasila. Terbukti hal itu efektif untuk meredam segala sesuatu yang mengancam rezim orde baru selama 32 tahun. Dan selama itu pula bangsa kita berada di dalam kungkungan Totalitarian. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kita sekarang sudah benar-benar terbebas dari kungkungan Totalitarian?

Mungkin media massa sekarang sudahlah bebas, mau menyajikan berita apapun tak jadi soal. Tak ada lagi bayonet di depan mata. Begitu pun kita, sangat menikmati aroma kebebasan. Semua informasi mudah untuk diakses, tak ada lagi kontrol negara. Media massa terus menerus menyajikan berbagai informasi pada kita, tanpa perlu kita meminta mereka dengan senang hati terus menerus menyajikan. Hingga kita mabuk dan terlarut bahkan terhisap dalam serbuan tayangan. Di saat media massa menjadi hal yang lumrah di dalam kehidupan sehari-hari, maka munculah pertanyaan, Dapatkah kita memperoleh informasi tentang sesuatu di luar informasi yang disajikan oleh media?

Nampaknya sulit, mengingat intensitas media dalam menginformasikan sesuatu begitu cepat dan bertubi-tubi. Jika media menginformasikan bahwa hanya kera yang berwarna coklat saja yang bisa disebut sebagai kera. Maka Kun Fayakun. Sehingga kita sulit saat kita melihat kera putih mengatakan itu adalah kera. Sayang seribu sayang, ternyata media massa hanya lah pabrik pengolahan persetujuan.Toh ternyata kita tak jauh berbeda dengan nenek moyang kita yang benar-benar meyakini cerita wayang, walau itu hanya sebuah tontonan. Mungkin kita pun akan sulit keluar dari kebenaran yang telah di ciptakan oleh sebuah tontonan, yakni media massa. Jika pun ada kebenaran lain, apakah itu bisa disebut sebagai kebanaran? Karena mau tak mau, segala proses sosial diatur oleh makna-makna dan niali-nilai dominan. Dan apa daya, kemungkinan besar publik akan menggunakan “kriteria”, “konsep”, “nilai-nilai” yang dominan itu untuk menilai dan mendefinisikan sesuatu. Sehingga cara berfikir yang lain, yang berbeda menjadi tidak mungkin eksis.

Mungkin inilah yang disebut Baudrillard seorang filsuf perancis bahwa di era sekarang manusia telah di telan oleh simulacra,yakni citra atau representasi, oleh penampakan. Dan akhirnya benar apa yang dikatakan Marshal McLuhan yakni “Medium is Massage”, media adalah pesan, pekiknya. Demokrasi yang katanya bersandar pada “rasionalitas”. Namun ternyata rasionalitas manusia dapat di kontrol melalui penggunaan kata-kata dan pemberian makna. Dan mungkin kita bukan hidup di alam demokrasi, namun kita hidup di alam apa yang di katakan Noam Chomsky sebagai Neo-totalitarian. Entahlah…

Ikuti tulisan menarik arjunaputra aldino lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan