Revolusi Mental Puan Maharani Mulai dari Pancasila? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Revolusi Mental Puan Maharani Mulai dari Pancasila?

    1 Juni menjadi hari libur nasional. kenapa tidak ? Ideologi negara sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara memang selayaknya dimuliakan. Harapan tertumpu kepada Puan Maharani untuk menghidupkan kembali nyala api Pancasila di hati Rakyat Indonesia.

    Dibaca : 6.186 kali

    Mulai Dari Sini Mbak Puan

    Revolusi Mental Kabinet Kerja seharusnya memulai dari sini yaitu  mengamalkan Pancasila berdasarkan 45 butir   Usulan Puan Maharani dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat kepada Presiden agar tanggal 1 Juni dijadikan libur nasional patut didukung. Usulan kebetulan keluar dari mulut cucu Proklamator Sukarno boleh juga di apresiasi asalkan bukan sekedar hari libur nasional. Ada satu hal sangat penting dan mendasaryang perlu diprioritaskan  yaitu penerapan makna sejati  Pancasila.  Memberikan contoh nyata bagimana menerapkan 45 butir pancasila sehingga benar benar berpengaruh sikap hidup  sehari hari rakyat Indonesia.

    45 Butir Pancasila adalah produk bangsa, mengapa pemerintah berkuasa tidak mensosialisasikan melalui media pada setiap kesempatan.  Selama ini media seperti TVRI sangat jarang menyiarkan acara yang langsung  berkaitan pengamalan butir butir Pancasila.  Rakyat hanya dijejali oleh tontonan pepesan kosong tidak bermutu seperti yang disiarkan oleh televisi swasta.  Seharusnya Pemerintah melalui kewenangan bisa memerintahkan setiap media menyediakan waktu khusus untuk menyiarkan contoh contoh kehidupan dalam mengamalkan Pancasila.

    Contoh contoh tersebut bisa di kemas dalam bentuk sinetron, acara musik dan lawak atau pentas seni lainnya. Cukup banyak materi yang bisa dikembangkan dari 45 butir Pancasila dalam kehidupan nyata di negeri pertiwi ini.satu  usul saja kepada Ibu Puan Menko Kesra, agar  penggunaan anggaran revolusi mental bisa sebagian diarahkan untuk menyusun satu program penjabaran setiap butir Pancasila.  Program ini    harus dikemas dengan baik dan bermutu, hasilnya  pastilah  menarik pemirsa televisi.  Artinya nilai nilai yang terkandung dalam setiap butir Pancasila bisa meresap kedalam hati sanubari rakyat.

    Sebagai contoh kehidupan masyarakat dalam penerapan butir ke - 3 dari Sila Pertama Pancasila yang berbunyi : Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa bisa dikemas dalam bentuk sinetron.  Apabila siaran ini ditayang ulang berkali kali pastilah akan menjadikan pedoman dalam kehidupan rakyat sehari hari.  Saya yakin Mbak Puan Maharani berhasil melaksanakan Revolusi Mental asalkan beliau bersikukuh menuntaskan 45 butir Pancasila itu dalam bentuk film pendek atau bentuk lainnya sebagai sarana pembelajaran ideologi negara kepada seluruh rakyat Indonesia.

    45 Butir

    Malam  ini menjelang tiba 1 Juni 2015 saya meng khatam kan  (membaca lengkap) lagi  45 butir butir Pancasila.  Mungkin ini khataman yang kesekian dalam hidup dan kehidupan sebagai warga negara Republik Indonesia yang kebetulan mendapat tugas memberikan  mata kuliah Pancasila. Kalau ditanya tentang sila sila Pancasila, serta merta semua mahasiswa dengan cepat dapat menyebutkannya diluar kepala.  Wajar saja karena Pancasila  yang hanya terdiri dari 5 kalimat dan sila sila itu  sudah tersimpan di memori paling atas setiap mahasiswa karena Pancasila telah diajarkan sejak duduk di Sekolah Dasar.

    Namun ketika kita berdiskusi tentang pengamalan Pancasila yang tertera dalam butir butir Pancasila, maka sebagian besar mahasiswa termanggu.  Mereka tahu ada Butir Butir Pancasila tetapi bagaimana aplikasinya dalam kehiidupan sehari harimemnag perlu di galakkan lagi. Bisa jadi sosialisasi Butir Butir Pancasila yang telah berproses secara hukum dengan telah di revisinya Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa dengan   Ketetapan MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila  belum dilaksanakan dengan serius.

    Jadi, para pejabat Era Reformasi tidak perlu dengan alergi dengan produk hukum Orde Baru, karena butir butir Pancasila itu telah sebenarnya telah 5 tahu8n setelah reformasi yang berubah dari 36 butir menjadi  45 butir Pancasila.  Masalahnya sampai saat ini pihak Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif tidak melakukan publikasikan dengan gencar butir-butir Pancasila ini.  Akibatnya Pancasila hanya sebagai slogan, dihafal dan tidak melekat dalam kehidupan sehari hari.

    Sebenarnya kalau kita baca dan pahami 45 Butir Butir Pancasila itu , maka produk wakil wakil rakyat itu bisa dijadikan sebagai pedoman dalam mengamalkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Bisa saja ada perbedaan persepsi, akan tetapi paling tidak Sila Sila Pancasila itu dapat dilaksanakan secara objektif dalam kehidupan sehari hari. Seandainya saja ya seandainya saja para pejabat yang berwenang terbuka hatinya untuk mensosialisasikan Butir Butir Pancasila, maka negeri ini akan damai sejahtera dengan catatan para pejabat itu memberikan ketauladanan positif terlebih dahulu dengan bersikap Pancasilais dalam tindak tanduknya.

    Tinggal Terapkan Saja

    Oleh karena itu mari Mbak Puan Maharani apabila berkenan mari kita baca, sekali lagi kita baca dengan lengkap 45 Butir Butir Pancasila seperti yang tertera dibawah ini. Formula 45 Butir Butir Pancasila itu adalah   7-10-7-10-11 , inilah salah satu cara untuk mengingatnya.  itu saja dulu  menghapalkannya 45 Butir memang belum diperlukan , tetapi paling tidak kita telah membacanya daan mudahan dengan demikian pemahaman tentang Pancasila bisa lebih melekat di dalam diri masing masing.

    1. Ketuhanan Yang Maha Esa 

    (1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    (2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

    (3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    (4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    (5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang

    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

    (6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

    (7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

    2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

    (1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

    (2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

    (3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

    (4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

    (5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

    (6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

    (7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

    (8) Berani membela kebenaran dan keadilan.

    (9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

    (10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

    3. Persatuan Indonesia

    (1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

    (2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

    (3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

    (4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

    (5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

    (6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

    (7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

    4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

    (1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.

    (2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

    (3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

    (4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

    (5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

    (6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

    (7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

    (8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

    (9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

    (10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

    5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

    (1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

    (2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

    (3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

    (4) Menghormati hak orang lain.

    (5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

    (6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

    (7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

    (8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

    (9) Suka bekerja keras.

    (10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

    (11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

    Berharap banyak kepada Mbak Puan Maharani

     

    BHP, 1 Juni 2015

    Salam salaman

    TD



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.