Labuh Saji, Teologi Sampai Konservasi (Bagian 1) - Travel - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Labuh Saji, Teologi Sampai Konservasi (Bagian 1)

    Orang berdesakan di atas perahu-perahu mengantar seperangkat sajen dilarung ke lautan tiap Suro. Ini keTuhanan atau kesesatan?

    Dibaca : 5.236 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Muharam, bulan penghulu tahun Islam, identik perayaan. Penanggalan Islam dan kalender Jawa yang berdasar siklus bulan melahirkan kesamaan, yang dari sejarah penyebaran akhirnya memunculkan sinkretisme, peringatan-peringatan bernuansa baru yang sejatinya sama, upacara Jawa bernafas Islam, pun sebaliknya, perayaan Islam dibalut kebiasaan Jawa. Salah satu, yang populer, adalah petik laut, atau sedekah laut, atau hajat laut, yang intinya labuh atau larung sesaji atau menghanyutkan benda-benda ke laut pada puncak prosesi.

    Tradisi masyarakat pesisir Jawa langgeng. Sekarangpun, nelayan atau masyarakat pesisir Jawa terus menggelar upacara labuh saji. Keyakinan ada kekuatan maha di luar daya-upaya manusia, termasuk di laut, demikian lekat.

    Upacara petik laut dilengkapi seperangkat sajen. Yang khas, salah satunya adalah potongan kepala ternak dibalut kain putih. Kepala simbol ego dan ternak adalah binatang yang gampang diatur atau mudah jinak. Maka kepala ternak dalam balutan kain putih adalah ketundukan, ketaatan, keberserahan, keberpasrahan pada Sang Maha Suci. Manusia meletakkan derajatnya dihadapan Sang Pencipta sebagai yang bersedia diatur, pasrah diatur, tanpa keakuan apapun (ego) dengan simbol penyerahan kepala. Manusia-manusia, hakekatnya hamba, demikianlah yang dilambangkan.

    Dua miniatur manusia dari bahan makanan mewakili dua jenis dalam kehidupan, laki-laki dan perempuan. Jenang merah dan jenang putih ibarat malam dan siang, susah dan senang, atau segala hal berpasangan sesuai ketetapan Tuhan. Hasil pertanian seperti padi jagung ubi, hasil kebun seperti buah-buahan serta sayuran, dan jajan pasar mewakili sandang, pangan, papan, serta aneka kebutuhan hidup manusia. Menyerahkan hal-hal tadi artinya manusia-manusia sadar bahwa mereka tak ada hak, tak ada wewenang, ikhlas, hanya menerima pembagian dan pengaturan yang ditetapkan Sang Maha Pemberi Rezeki. Ini bahasa tanda.

    Uba rampe atau kelengkapan tadi dimuat dalam perahu kecil biasanya berupa gethek, yaitu prahu datar yang tersusun dari jalinan bambu, kemudian dilarung ke laut. Dengan dibawa ke tengah, gethek pasti terhantam riak yang maknanya pasang surut, naik turun, gelombang sekalipun, pasti ada dalam kehidupan. Selama ikatan buluh-buluh kuat, tak akan tercerai gethek dihantam amukan. Lagi-lagi sebuah pesan.

    Di pesisir Muncar, Banyuwangi, di Tanjung Papuma dan Pantai Pancer, Jember, masyarakat menggelar ritual tadi berupa petik laut. Sebagian lain di Jawa Timur, salah satunya di Kepetingan, Desa Sawohan, Buduran, Sidoarjo, menamainya nyadran. Orang-orang Jawa Tengah, seperti nelayan Bonang - Demak dan Cilacap menggelar sedekah laut. Warga pesisir tlatah Sunda, misalnya di Pantai Pangandaran, Ciamis, mengadakan hajat laut. Semua sejatinya sama.

    Petik laut, sedekah laut, hajat laut, nyadran, atau banyak nama lainnya sebenarnya upacara adat Jawa yang sarat simbol. Masyarakat Jawa akrab dengan simbol, lambang, atau tanda dalam menyampaikan suatu maksud atau nilai, termasuk dalam mengekspresikan keyakinan, menurut saya.

    Saking temurunnya kebiasaan bersimbol di Jawa, kita bisa temukan bebasan atau peribahasa ‘Wong Jawa nggone semu, sinamun ing samudana, sasadone ingadu manis’ yang berarti ‘Orang Jawa cenderung menyampaikan segala secara samar, terselubung atau penuh simbol, segalanya (seburuk atau sepahit apapun) akan ditampilkan baik (manis)’. Kebiasaan Jawa ini diakui sendiri oleh Jawa, dikukuhkan dengan peribahasa. Sehingga memahami ritual Jawa tidak cukup melihat atau hanya memaknai yang tertampil.

    Meskipun sebenarnya labuh saji adalah upacara dan upacara dalam Jawa seluruhnya simbol, tidak sedikit yang menilai ini pemujaan pada laut atau persembahan untuk selain Tuhan. Menurut saya, rupa Tuhan kemudian beraneka bisa jadi karena proses penyimbolan atau bisa juga karena tipikal massa yang cenderung tidak menjangkau ranah filosofi sebuah ritual. Tugas massa sekedar menjalankan.

    Teori filolog dan sejarawan terkemuka Prof. Dr. R. Benecdictus Slamet Moeljana menyatakan bidang dogmatic keyakinan atau keagamaan bukanlah pemikiran rakyat, melainkan tugas pemuka, para pendeta, dan ulama. Saya setuju itu, Prof. Maka melencengnya makna upacara versi awam sejatinya bukan kekurangan mereka, melainkan ada para alim, para pundit, para ilmuwan, para penguasa ilmu, yang alpa.

     

    (Bersambung)

     

    Sumber :

    • Akulturasi Agama dan Tradisi Sedekah Laut – Jurnal Unnes
    • Komodifikasi Ritual Sedekah laut – Digital Library UIN Sunan Kalijaga/digilib.uin-suka.ac.id
    • Misteri Bulan Suro : Perspektif Islam Jawa - Muhammad Solikhin/books.google.co.id
    • Simbolisme Grebeg Suro – library.uns.ac.id
    • Sraddha -  Babad Bali
    • Kraton, Upacara, dan Politik Simbol – Jurnal UGM
    • Panca Srada Booklet Duta Muda Hindu – kmhd.ui.ac.id

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.