Labuh Saji, Teologi sampai Konservasi (Bagian 3) - Urban - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Labuh Saji, Teologi sampai Konservasi (Bagian 3)

    Kalau menjalankan adat bisa membuat kita tetap berjiwa Indonesia bahkan bisa melestarikan alam Indonesia, mengapa tidak kita terapkan?

    Dibaca : 2.321 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pemijahan atau proses regenerasi pada beberapa jenis ikan air laut terjadi di malam hari pada bulan mati dan purnama. Ikan-ikan suatu spesies berkumpul di titik tetap kemudian saling melepas sel telur dan sperma ke perairan. Pembuahan terjadi di luar tubuh induk. Sperma dan sel telur, yang bertemu, membentuk ribuan bayi ikan, mengapung-apung dan siap tumbuh.

    Umumnya titik pemijahan di perairan adalah tetap, sehingga saat musim pemijahan, ikan-ikan berkumpul di tempat yang itu-itu saja. Beberapa jenis, bahkan akan berenang bermil-mil, bermigrasi, hanya untuk mencapai belahan bumi tertentu, menjangkau tempat mereka berkembang biak. Itulah mengapa titik pemijahan di perairan demikian penting sekaligus rentan.

    Dalam sistem pelestarian atau konservasi laut masa kini, titik pemijahan sangat dilindungi. Biasanya titik pemijahan inilah yang menjadi sebab utama suatu luasan wilayah ditetapkan menjadi zona inti kawasan konservasi. Zona inti adalah bagian kawasan konservasi yang meniadakan kehadiran manusia, atau nol keterlibatan manusia. Tentu, tujuan utamanya membuat proses pemijahan berjalan sealami mungkin, sehingga ketersediaan ikan di perairan terjaga.

    Sengaja atau tidak, kegiatan labuh saji nelayan pesisir Jawa ada di salah satu waktu pemijahan ikan. Beberapa tempat mengadakan tepat tanggal 1 Suro pagi, yang ini adalah fase bulan mati, beberapa lainnya mengadakan pada tanggal 15 pagi, ketika siklus bulan memasuki purnama. Upacara-upacara, yang saya tahu, selalu berupa rangkaian perayaan. Nelayan-nelayan pesisir Jawa seperti membiarkan laut tanpa pengambilan hasil meskipun yang pasti hanya setahun sekali, beberapa hari pada Suro. Labuh saji tidak benar-benar sehari karena umumnya ada perayaan pendahuluan atau sesudahnya ditambah hari-hari persiapan, sehingga sekali labuh saji berarti sekian hari laut terbebas dari eksploitasi. 

    Di Muncar, Banyuwangi misalnya. Hari pertama, bapak-bapak ngaji bersama Yasin dan Tahlil di masjid desa, esoknya khataman Al Qur’an atau menamatkan membaca seluruh isi Al Qur’an, baru di hari ketiga masyarakat berduyun-duyun mengantar sajen dilabuh. Itu urut-urutan lumrah petik laut di sana. Semenjak hari pertama, rumah-rumah memasak lebih untuk saling memberi hantaran dengan sanak, kerabat, tetangga terdekat, atau untuk menyuguh tamu-tamu yang berdatangan menyaksikan upacara. Khusus hari ketiga, hari terakhir, sekaligus yang dianggap puncak perayaan, balai desa ikut sibuk mengurus masakan-masakan karena menjadi tuan rumah kedatangan lurah, camat, punggawa pemerintah, dan ratusan undangan, perlu hidangan selamat datang. Silahkan dikira berapa hari diperlukan untuk persiapan sajian, belum mempercantik lingkungan dengan bersih-bersih bersama.

    Jika tiga hari adalah yang tertampil, maka persiapan sebuah petik laut bisa berminggu sebelumnya dilakukan nelayan-nelayan dan keluarganya. Untuk menyiapkan perahu-perahu saja, jauh sebelum hari-H, bapak-bapak sudah sibuk dengan cat-cat, tali-tali, kertas warna-warni, kain, daun-daun janur, gunting, lem, dan sebagainya. Para nelayan adu kreasi mempercantik perahu-perahu mereka demi sebuah perayaan tahunan. Ini artinya para nelayan tidak melaut. Tidak melaut artinya berkurang proses pengambilan hasil laut, sama juga memberi kesempatan laut melakukan siklus peremajaan.

    Di pesisir Plawangan, Puger, Jember, sama juga. Labuh saji Suroan dimulai bersih desa, kemudian pagelaran wayang semalam suntuk, baru larung sesajen. Di Buduran, Sidoarjo, bapak-bapak nelayan memulai nyadran dengan pentas wayang di malam pertama, berlanjut ziarah makam tetua desa, baru ke laut lepas melarung persembahan. Artinya di banyak titik pesisir Jawa yang menyelenggarakan labuh saji, hampir pasti ada rongga waktu eksploitasi laut, entah sadar atau tidak sedikit banyak melindungi pemijahan. Ini konservasi, menurut saya yang awam.

    Perlu banyak rambu tambahan memang, karena tidak cukup sehari dua hari atau seminggu dua minggu mengamankan titik pemijahan. Tapi paling tidak dengan berlakunya labuh saji nelayan terhindar dari kemungkinan merusak proses pemijahan satu waktu. Jika ditambah kebiasaan tidak melaut nelayan di waktu lain, hari Jumat, misalnya, bisa jadi ini pendukung pemulihan laut yang berdampak besar.

    Meski labuh saji setahun sekali, tapi ini siklus, dan biasanya keajegan atau keteraturan waktu itu yang menciptakan pola. Mirip kenduri laot nelayan Aceh, yang pernah saya tulis juga di blog ini, labuh saji sistem tua yang mengajarkan manusia memberi jeda alam dari pemanfaatan. Manusia diciptakan tidak untuk mengambil hasil alam saja, tapi sekaligus bertanggung jawab menjaga kelestariannya, mungkin begitu pesan terselubung adat.

    Masih banyak hal positif seperti melanggengkan nilai kebersamaan warga atau gotong royong. Menjunjung penting peran dalam ikatan bukan melulu berdasar kekuatan materi, juga warisan mahal. Mencari uang (melaut) bukan segala-galanya karena adat mengajarkan banyak komponen lain perlu dijaga harmoninya dalam kehidupan. Ini luhur dan sejatinya asli kita.

    Adat rata-rata kompleks dibanding sistem lain, misalnya konservasi sistem zonasi yang sekarang diadopsi Indonesia dan impor. Bukan soal mana lebih baik karena unggul tidak unggul juga subjektif, tapi jika sistem asli Indonesia terbukti lebih ngIndonesia, membuat kita lebih terbentuk sesuai identitas atau keaslian kita, mengapa tidak kita besarkan? Minimal berdampingan dengan sistem yang kadung dianut internasional, yang menurut saya ego segelintir saja sebenarnya. Syukur syukur menjadi tuan di tumpah darah sendiri. Asal jangan diabaikan apalagi dibuang.

    “Lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar samudera dari pada menjadi embel-embel bangsa asing,” ungkapan Bung Hatta sejak muda termasuk dalam pledoi di hadapan sidang yang menuntutnya tiga tahun penjara, jaman beliau bersekolah di Belanda, menjadi ketua himpunan pelajar, dan didakwa subversif gara-gara sering menyuarakan Hindia Belanda (Indonesia) harus mandiri, lepas dari Belanda. Tidak inginkah kita jalankan keyakinan bapak kita? Atau nanti saja, menunggu ilmuwan-ilmuwan asing mengajarkan Indonesia pada bangsa Indonesia?

     

    Tamat

     

    Sumber foto :www.discoverwildlife.com

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.