Aku Mencintai Lelaki yang Duduk di Sampingmu - Urban - www.indonesiana.id
x

Sari Novita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Aku Mencintai Lelaki yang Duduk di Sampingmu

    Sebuah kumpulan puisi

    Dibaca : 3.316 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Puisi 1

    Sore yang lain. Di rumah besar. Di halaman luas. Di teras ramai. Di meja persegi panjang.

    Aku melihatnya

    Duduk bersama Jokpin

     

    Secarik kertas

    Melayang di depanku

    Tanganku meraihnya dan

    Mulai merangkai kata

     

    Lipatan kertas itu, kuberikan kepada Jokpin saat lelakiku membakar tembakaunya. Lalu, aku segera menyingkir.

    “Aku mencintai lelaki yang duduk di sampingmu. Jangan sampai dia tahu.”

    Jokpin melirik ke samping. Dan, kembali membaca. Berulang-ulang. Tanpa sepengetahuan lelakiku.

     

     

    Aku  lepas

    Bersama angin sore

    Setelah

    Menarik

    Gulungan-gulungan benang

    Yang indah tumbuh silang selimpat

    Yang  kuserahkan kepada Jokpin

    Selamat kusut!

     

    Esok pagi

    Jokpin ke rumahku

    Menyerahkan

    Kertas lecek

    yang telah diremasnya ronyok

    “Bagaimana bisa kau mencintainya saat kau katakan hal sama kepada lelaki yang duduk di depanku?” ujarnya lantang.

    Aku masuk ke dalam kamar

    Mengambil sebuah kertas

    Yang kutulis bersama intuisi

    Kemudian, kuberikan kepada Jokpin

    “Aku mencintai lelaki yang berdiri di belakang mobilmu saat ini. Selamat kusut. Lagi.”

    —————————————————————————————————————————

    Puisi 2

    Aku ingin merayumu

    Dengan segelas jus

    Sesegar pipi merahmu

    Aku ingin kau meneguknya

    Menikmati nutrisi di hatimu

    Dari pagi sampai pagi kembali

    —————————————————————————————————————————

    Puisi 3

    Aku melihatmu saat pembacaan puisi di salah satu rumah besar

    Masihkah Kau Simpan Selembar Kertas Dariku, Jokpin?”

    Masihkah kau simpan selembar kertas dariku, wahai penyair?

    Sore di kala keningmu penuh kerutan dahi

    Kau terus berpikir, dan bertanya

    “Mengapa tak kau katakan saja kepada mereka?”

    Mustahil, penyair

    Karena satu tidak pernah cukup. Satu per satu lelaki di sekitarmu adalah cuma tokoh dan karakter dalam novel muslihat milikku.

    —————————————————————————————————————————

    Puisi 4

    Cen Yen Han

    Aku mengenalnya

    Dari kota yang tidak pernah kusuka

    Yaitu Denpasar yang  ripuh

     

    Dia kerap berdiri di daun telingaku

    Menarasikan tentang “aku” dan “aku”

    Melalui bibir lara dan bibir riang

     

    Lalu, Kukecup rindu yang terbawa angin

    Dan bertengger di atap rumah Sanur

     

    Dia melakoni peran serta membawa

    Angin sampai ke tanah Canggu

    Dia masih dekat di telingaku

    “Satu tahun untuk kembali berpisah,” ucapnya.

    Denyut gelebah ini memasungku

    “Aku takkan kembali kepada ranah yang  ingin bersamaku hanya setahun,” deruku.

     

    Tapi puluhan malam

    Adalah siksa tanpa kisahmu

    Di daun telingaku

    Di dalam ceritaku

    Yang bisa jadi pendek

    Bisa pula jadi panjang

    Dalam ketikan

    Sebuah buku

    —————————————————————————————————————————-

    Puisi 5

    Mencintaimu adalah

    Membuka apa aku

    Merebahkan aku kepada semesta

     

    Dan Cinta

    Mekar

    Di Bromo

    Berkat

    Kecupan

    Yang

    Datang

    Tiba-tiba

    Dari

    Segala

    Savanah

     

    *Sumber gambar: dreamstime.com

    Ikuti tulisan menarik Sari Novita lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 450 kali