24 Pasal Untuk Sultan (Bagian 2) - Urban - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • 24 Pasal Untuk Sultan (Bagian 2)

    Der Kroon aller Koningen adalah saduran versi Belanda, Ou La Couronne des Rois ditulis oleh seorang Perancis, aslinya adalah Taj Al Salatin dari Aceh.

    Dibaca : 2.940 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Panglima pemberani, pemegang kas negara yang zuhud, dan penyiar yang memihak kebenaran, menjadi tiang-tiang. Tercantum di pasal sepuluh, sebuah negara yang memiliki tiga tadi, di samping pemimpin adil, akan menjadi besar dan digdaya. Besar karena tenteram sejahtera akan meliputi kehidupan bangsa dan digdaya karena aman damai  tak tergugat dari dalam atau luar.    

    Panglima digambarkan sebagai penjamin keamanan yang dapat diandalkan. Bukan soal gagah, garang, atau penampilan badaniah yang bisa seperti apa saja, kitab ini malah menekankan panglima pemberani ialah sosok mulia atau yang luhur budinya. Hanya jiwa dengan kesantunan tidak bisa diam menyaksikan pelanggaran terhadap kebenaran karena budi baik lahir dari lurusnya jiwa. Dan dengan keberanian, kemauan menegakkan kebenaran dapat terwujud dalam negara di antara bangsa-bangsa di dunia.

    Kas adalah kekuatan negara dari rakyat untuk rakyat, maka mengelola aset amat berharga ini perlu manusia-manusia sederhana yang mafhum dunia itu sementara, gambaran sifat zuhud. Mereka yang paham benar bahwa yang tengah dikelolanya utuh titipan Tuhan, akan ikhlas mengelola dengan baik kekayaan bangsa, hanya demi bangsa, tanpa sekejappun berpikir mengambil keuntungan. Syarat lain pemegang kas negara andalan ialah jujur dan dapat dipercaya. Dua itu bersama zuhud, adalah kombinasi sempurna pengemban amanah besar pengelola kekayaan bangsa.

    Penyiar kabar amat penting dipunyai sebuah negara untuk menyebar banyak pengetahuan. Negeri, yang terbentang, tidak seluruhnya mudah dijangkau pusat pemerintahan, tetap harus seiring sejalan generasi ke generasi. Pemahaman tentang cita-cita, ideologi, langkah-langkah harus terus disiarkan, tidak boleh pernah putus, dan jangan pernah melenceng. Hanya mereka yang paham benar untuk apa negeri ini berdiri dan kemana langkah bangsa meraih cita-cita luhur akan sanggup menyajikan kebenaran. Menurut kitab ini, negara justru penting punya penyiar yang berpihak, berpihak pada kebenaran.

    Sejak pasal sepuluh kitab ini membahas para wazir, para pembantu Sultan, yang menduduki lembaga-lembaga negara. Wazir itu ‘pelayan’ dalam Bahasa Indonesia, maka demikianlah kitab ini menempatkan para pejabat negara sebagai pelayan bangsa. Pasal-pasal berikutnya merinci sosok wazir yang sempurna. Mereka adalah yang mengingat laporan masuk dan perintah keluar dari Sultan untuk bangsa, berani atas nama kebenaran, jujur, lurus hati, sungguh-sungguh mengemban tanggung jawab, dapat menjaga rahasia negara, sabar dan tekun dalam bekerja, lalu tepat bertindak sesuai waktu dan keperluan, hanya demi negara.

    Antara pasal-pasal tentang lembaga negara, yaitu pasal sepuluh sampai sembilan belas, diingatkan juga agar negara menjauhi penyebab-penyebab kegagalan atau kekacauan. Paling tidak ada delapan pantangan.

     

    Pertama      :     Para wazir yang tinggi hati,

    Kedua         :     Sultan menunjuk wazir bukan berdasar keahlian,

    Ketiga         :     Wazir-wazir yang mengabaikan tim pendukung tugasnya yang berisi para ahli,

    Keempat     :     Sultan mengabaikan kualitas budi pekerti dalam memilih wazir,

    Kelima        :     Para wazir tidak tahu membuat prioritas tanggung jawab,

    Keenam      :     Sultan dan wazir-wazir tidak bisa membagi tugas

    Ketujuh      :     Wazir yang berharap terus menjadi wazir sehingga tiap langkah tugasnya bukan tulus

    Kedelapan  :     Membangun yang bukan demi kepentingan seluruh bangsa

     

    Khusus pasal delapan belas dan sembilan belas, bahasan adalah tentang pentingnya humaniora dikuasai Sultan. Seorang pemimpin negara sekaligus pengelola bangsa atau sekumpulan manusia dalam ikatan negara, maka dengan pemahaman mendalam tentang manusia atau nilai-nilai kemanusiaanlah, keputusan-keputusan Sultan dapat tepat. Mengurus bangsa berarti harus paham tentang bangsa, tentang manusia-manusia pembentuk bangsa. Ada empat yang bisa dipakai Sultan memahami manusia, ilmu nubuwah, ilmu wilayah, ilmu filsafat, dan ilmu qiafat.

    Ilmu nubuwah berarti bersumber kenabian atau maksudnya dari Al Quran dan Hadis, sumber-sumber yang dibawa nabi atau Rasulullah. Ilmu wilayah maksudnya memahami manusia dari muasal yang masing-masing akan membawa kekhasan sifat, cara hidup, sampai kearifan-kearifan. Ilmu filsafat berarti memahami manusia secara mendalam dari logika menyangkut cikal-bakal sampai hukum. Ilmu qiafat berarti memahami manusia melalui firasat yang menjadi tradisi kesusastraan Islam. Firasat sendiri, dalam ensiklopedia Islam, berarti memperkirakan kondisi moral dan perilaku psikologis manusia dari keadaan fisik dan pengaruh lingkungan.

    Setelah tiga bagian terdiri dari landasan, pemahaman pemimpin adil, bab-bab tentang wazir, pasal dua puluh sampai dua puluh empat adalah penutup. Kitab ini ditulis tak lain demi menjaga negara tetap tegak. Petuah diwariskan pada para pemakai mahkotakarena hanya pemimpin bijaksana sanggup melanggengkan zaman keemasan.

    Tahun 1603, Bukhari dari Johor (Bukhari Al Jauhari) mempersembahkan kitab ini pada raja keduabelas, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, terilhami besarnya negara. Masa itu, tempat Bukhari tinggal adalah negeri dengan bandar teramai karena menjadi pasar terbesar komoditi nomor satu dunia, lada. Mungkin karena ingin kebesaran negerinya abadi, Bukhari sang ulama, ilmuwan, dan sastrawan itu menulis Taj Al-Salatin yang berarti mahkota (Taj) para Sultan (Al-Salatin).

    Saking tinggi kualitas, kitab ini diwariskan temurun pada penerus tahta kesultanan. Termasuk dua periode setelah Sultan Alauddin, ketika kesultanan berhasil mencapai masa keemasan dipimpin cucu Sultan Alauddin, Sultan Iskandar Muda. Kesimpulannya, menurut saya, kitab Taj Al-Salatin salah satu pedoman raja-raja Kesultanan Aceh Darussalam dalam menjalankan pemerintahan. Abad XVII, Kesultanan Aceh Darussalam adalah kerajaan besar yang wilayahnya mencakup hampir seluruh Sumatera dan Semenanjung Malaka, termasuk Johor. Sehingga meskipun penulis Taj Al-Salatin dari Johor, tapi itu wilayah Kesultanan Aceh Darussalam masa penulisan. Hingga hari ini, Taj Al-Salatin diletakkan sebagai kitab adab, etika, dan pedoman pengelolaan negara asli Melayu paling tua, berasal dari Aceh.

    Dua abad setelah 1603, Taj Al-Salatin ramai mendunia. Penjajah Belanda mulai merongrong Kesultanan Aceh Darussalam termasuk berhasil mempengaruhi para pejabat negara dan Sultan sehingga mereka memiliki kedekatan. Akibatnya istana bukan lagi ranah privat keluarga kerajaan dan penduduk negeri. Penjajah dengan mudah keluar masuk setelah dianggap mitra dekat pejabat-pejabat kesultanan termasuk mudah mengakses koleksi buku kerajaan. Roorda Van Eysinga adalah penulis Belanda yang menyadur Taj Al-Salatin menjadi Der Kroon aller Koningen pada 1827. Der Kroon aller Koningen kemudian disadur lagi oleh penulis Prancis, Aristide Marre, menjadi Ou La Couronne des Rois. Penulis-penulis Kesultanan Jawa juga menggubah Taj Al-Salatin dan salah satu yang paling ternama adalah karya Yasadipura I berupa bait-bait tembang berjudul Serat Tajussalatin.

    Naskah asli Taj Al-Salatin saat ini berada di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, menjadi bahan studi ilmuwan-ilmuwan penjuru dunia, juga dari Indonesia, salah satunya Prof. Dr. Abdul Hadi Widji Muthari. Prof. Muthari menulis Taj Al-Salatin, Etika Manajemen Pemerintahan, yang kemudian saya tulis kembali dalam dua judul 24 Pasal Untuk Sultan ini.

     

    Tamat

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.