Penulis yang Disayang Tuhan - Urban - www.indonesiana.id
x

Menulis Indah ala Kaligrafina

Nanda Ruli Maulidiyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Penulis yang Disayang Tuhan

    Menulis adalah impianku sejak kecil, menurutku dengan menulis kita bisa menjadi sosok apa saja yang kita inginkan.

    Dibaca : 1.802 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

     

                Aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang sayang kepadaku. Ayah, bunda dan kakakku, merasa yang membuatku semangat menghadapi kerasnya dunia. Namun kurasakan hal itu tak lebih dari 10 tahun.

                “Sayang, kemari makan dulu nak”.

    setiap aku belum makan ibu selalu menyuruhku makan. Kini, hal yang tak pernah terpikir olehku akan menimpa hidupku terjadi. Hari itu, ketika hujan deras aku memecahkan guci kesayangan ibu. Beliau memarahiku habis-habisan sampai ayahku pun tak sanggup lagi menahan ibuku. Semenjak kejadian itu beliau sering sekali marah padaku, sepertinya aku selalu serba salah dimata beliau. Di ujung kesabaranku, ketika pulang sekolah aku tak berani pulang karena tadi pagi ibu memarahiku gara-gara sarapanku tak habis.

                “Kenapa makannya tidak dihabiskan, tinggal makan aja susah” bentak ibu.

    Meskipun ibu seperti itu tapi beliau mampu menanamkan sifat agamis yang sangat dalam padaku. Ketika keluar dari gerbang sekolah dalam pikiranku hanyalah bentakan dan omelan ibu yang akan menyambutku. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Berjam-jam aku duduk di halte samping sekolah sampai sore. Mungkin karena aku belum pulang kakakku menjemputku ke sekolah. Dulu, kakakku juga mendapat perlakuan yang sama dari ibu, tapi ia terus bertahan dengan sifat pemarah ibu, mungkin karena ibu ingin mendidik anaknya agar menjadi orang sukses, makanya beliau mendidik kami dengan keras. Tapi hal itu justru membuatku tertekan dan memandang gelap dunia ini.

                “ Pak, Nafiza sudah pulang?” Tanya kakakku pada satpam sekolah.

                “ Tadi, sudah pulang Adit” .

                Ia kebingungan karena tak mendapatiku di sekolah. Ibu cemas karena sampai jam 8 malam aku belum pulang, bagaimana beliau tidak cemas anak kecil berusia 8 tahun belum pulang sekolah hingga malam. Ibu, ayah dan kakakku mencari hingga subuh tapi mereka tak menemukanku. Pada pukul 22.00 aku bertemu sepasang suami istri yang baik hati yang mau merawatku,ibu dan bapak angkatku tak mempunyai anak sehingga mereka sangat sayang kepadaku. Mereka berbeda keyakinan denganku tapi tetap menghargaiku tanpa menyuruhku ikut ke dalam keyakinannya. Padahal untuk anak seusiaku gampang saja untuk mereka membujukku ikut masuk agama mereka. Bahkan mereka tak menyuruhku membuka kerudung penutup kepala.

                Setiap hari minggu mereka berdo’a ke gereja, tak lupa mengajakku turut serta tapi aku hanya menunggu di depan gereja. Mereka melihatku sebagai seorang pribadi yang berjiwa agamis sangat kuat, maka dari itu ibu dan bapak angkatku menyewakan seorang ustadzah untuk mengajar ngaji agar ilmu yang ku dapatkan tak putus di tengah jalan. Ya Allah terima kasih telah memberiku orang yang baik, gumamku dalam hati. Hari berlalu sangat cepat dan tak terasa usiaku sudah mengijak angka 17, tak lupa ibu dan bapak angkatku memberi nasehat agar aku menjadi seseorang yang selalu ingat dengan tuhan.

                “ Nak, dimanapun kamu berada jangan pernah melupakan tuhan karena Dialah sang Maha Pemberi hidup”.

                “Iya Pak, terima kasih atas nasehatnya”.

                Sore ini aku berjalan ke taman kota sambil membawa kamera, mengambil gambar momen-momen menarik yang disuguhkan suasana ibu kota dan mencari inspirasi untuk menulis. Yah, menulis adalah impianku sejak kecil, menurutku dengan menulis kita bisa menjadi sosok apa saja yang kita inginkan. Di tengah perjalanan tak sengaja kameraku memotret seorang anak kecil mencium tangan ibunya lalu dicium keningnya. Sambil berjalan, ku usap air mata yang membasahi pipiku, aku merindukan ibuku.

    Allah, aku rindu ibu, salahkah aku bila aku meninggalkannya,ia adalah malaikat yang kau pilihkan untukku, tapi aku malah pergi meninggalkannya. Jagalah ia, sampaikan sejuta sayangku untuknya tuhan. Amin…

                Pulang dari taman aku langsung memeluk ibu angkatku sambil menangis tersedu-sedu, beliau pun bingung.

                “Nak, kamu kenapa?”

                Lalu ku jelaskan sebab aku menangis, beliaupun mengatakan kalau ia siap menjadi ibuku, tapi jika aku ingin mencari ibu kandungku beliau siap membantu. Dengan tegas aku menolaknya, aku takut pulang ke rumah, teringat ketika ibu marah dan membentak-bentakku. Setiap kali hari raya Idul Fitri aku selalu berdo’a agar bisa bertemu ibu, meminta maaf kepada beliau. Di lain tempat ibu selalu menyisipkan do’a untuk putri kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis manis yang pandai. 1 minggu setelah hari raya Idul Fitri aku berangkat ke Amerika, menempuh ilmu disana. Alhamdulillah aku mendapat beasiswa S1 disana, aku akan berjuang sekuat mungkin untuk membanggakan orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupanku. Di bandara ibu dan bapak angkatku melambaikan tangannya ketika pesawat mulai lepas landas.

                Aku mulai beradaptasi dan menikmati hidup di negara superpower itu, termasuk mulai membiasakan diri makan roti, sandwich dan salad.  Tanpa aku sadari ternyata kak Adit juga sedang menempuh pendidikan S3 nya di Amerika, keren di usianya yang masih 27 tahun ia sudah hampir lulus S3. Sore ini aku bertemu seorang wanita cantik di supermarket, namanya Sahila, ternyata ia istri kakakku. Kami saling menyapa antar sesama muslim dan langsung akrab.

    “ Dek, setelah ini mau kemana?”

    “Mau shalat ke masjid mbak”. Ia mengatakan bahwa suaminya menunggu di masjid dan sedang dikunjungi oleh keluarganya. Ayah dan ibu angkatku juga mengunjungiku ke Amerika tanpa memberitahuku dulu karena ingin member surprise. Aku menjemput ibu dan ayah angkatku di bandara, setelah itu pergi ke masjid menghadiri undangan mbak tadi untuk bertemu sesama warga Indonesia. Ibu dan ayah angkatku menghargai masjid, takutnya tak boleh masuk, jadi mereka menunggu di taman dekat masjid., begitu juga dengan keluarga kandungku mereka telah selesai shalat dan duduk-duduk di taman. Aku memutuskan untuk shalat ashar terlebih dahulu di masjid, sedangkan mereka semua bercengkerama di taman.

    Hari itu ada adalah hari terakhirku berjuang bersama tuhan di dunia, di usia 20 tahun, aku menghembuskan nafas terakhirku setelah timah panas menembus jantungku ketika aku keluar dari masjid.  Seseorang tak dikenal melepaskan pelurunya, mengira aku adalah teroris yang selama ini dicari karena orang-orang berjilbab kadang masih dikira teroris. Aku langsung terjatuh dan semua berdiri menghampiriku. Disitulah keluarga kandungku tahu kalau aku adalah anggota keluarganya yang hilang selama ini. Semua meneteskan air mata seakan belum rela melepas kepergianku menghadap Yang Maha Kuasa, dan ibuku adalah yang paling belum rela.

    “Mungkin Allah menyayanginya, sehingga ia cepat dipanggil agar tak banyak dosanya di dunia” kata kak Adit. “ Biarlah, karya-karyanya akan mengharumkan nama dan memudahkannya mendapat pahala dari Allah SWT, jadilah penulis yang disayang tuhan, selamat jalan adikku”.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Nanda Ruli Maulidiyah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.