Pelatihan dan Pembagian Alqur’an Braile di Jombang - Urban - www.indonesiana.id
x

Perajin usai membuat Batik Quran diatas lembar kain Primis di kawasan Kampung Batik Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 15 Juni 2016. Batik bermotif tulisan Arab tersebut sengaja dibuat oleh perajin untuk mengajak warga Kampung Batik memahami dan belaja

Nanda Ruli Maulidiyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Pelatihan dan Pembagian Alqur’an Braile di Jombang

    Rina sensei adalah dosen bahasa Jepang FBS Unipdu Jombang. Beliau menjadi relawan dalam acara ini.

    Dibaca : 1.403 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

                    Bagi sebagian orang keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Selalu ada jalan di setiap perjuangan. Disitulah nikmatnya berproses akan terasa, seperti yang dilakukan oleh beberapa tuna netra di Jombang yang mengikuti pelatihan membaca Alqur’an braile. Acara ini bertempat di lantai dua kesekretariatan pondok pesantren Darul Ulum Jombang, yayasan Roudlotul Mahufin dan Pertuni( Persatuan Tuna Netra Indonesia). Opening ceremony dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2016 dan berakhir pada tanggal 21 Mei 2016. Relawan dalam acara ini juga tak terlalu dipusingkan dengan urusan dana karena ada donatur.

     

                    Salah satu relawan dalam kegiatan ini adalah Rina sensei, salah satu dosen bahasa Jepang di fakultas bahasa dan sastra Unipdu Jombang. Selain sebagai relawan Rina sensei juga bertugas sebagai humas yang mengurus surat-menyurat sampai ke Jakarta. Para pengajar dalam acara ini didatangkan langsung dari Roudlotul Makfhufin yang beralamat di Tangerang Selatan. Roudlotul Makfhufin adalah yayasan yang menaungi pembelajaran dan mencetak al-qur’an braile.

                    Acara ini tak hanya diikuti oleh peserta saja namun juga pengajar. Ada 8 guru dan peserta berjumlah 17 orang. Peserta dan guru semuanya berasal dari Jombang. Rina Suci Andriani M.Pd. menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan ia mau menjadi relawan dalam kegiatan sosial ini adalah kepedulian. Ia sangat peduli dengan teman-teman tuna netra apalagi mereka sangat bersemangat untuk belajar Al-qur’an. Pembelajaran dalam acara ini dilakukan berdasarkan tingkatan. Menurutnya ada empat tingkatan”yang pertama adalah tingkat awas,dasar,mahir dan yang terakhir adalah menengah” ujar dosen asal Surabaya ini. Rina sensei juga pernah menjadi relawan para penyandang disabiltas di Jepang saat liburan musim dingin.

     

                    Sebagai dosen bahasa Jepang ia juga melakukan sesuatu yang tak jauh-jauh dari bahasa Jepang. Ia memiliki ide untuk membuat buku bahasa Jepang dengan huruf braile yang sudah ada di SMPLB  YPAB Surabaya. Dosen ini mengatakan bahwa gelar yang sudah didapat harus dimanfaatkan di masyarakat ,menurutnya sebuah gelar tak akan ada artinya bila kita tidak bisa menjadi manusia yang bermanfaat, gelar itu akan menjadi nol besar.

                   

                   

     

    Ikuti tulisan menarik Nanda Ruli Maulidiyah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.