x

Iklan

Kamaruddin Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Meyer dan Kelompok Nusantara 12

Memahami profil nelayan merupakan hal penting dalam merancang program pemberdayaan masyarakat pesisir seperti sosok bernama Meyer Rubeno Hidabunga ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada kunjungan ke Kota Kupang tanggal 12 hingga 14 Juni 2016, saya beruntung bertemu perwakilan nelayan, pengambil kebijakan dan perencana SKPD hingga fasilitator proyek pemberdayaan masyarakat. Dari mereka saya mendapat informasi penting dan inspiratif. Salah satunya dari Meyer Rubeno Hidabunga asal Kelurahan Nun Baun Sawu (NBS).

***

“Nama saya Meyer, lengkapnya Meyer Rubeno Hidabunga,” lelaki berkumis dan berkulit gelap ini mengulang dan mengeja namanya. Saya sedang menggali informasi faktual tentang pengalamannya sebagai nelayan (13/06/2016), sebagai penerima bantuan proyek pemberdayaan masyarakat pesisir atau terkenal disebut sebagai CCDP-IFAD. Bagi saya, mendegarkan kisah dan perspektif Meyer tentang garis hidup dan pengorganisasian nelayan akan sangat berguna dan penting. Setidaknya untuk tata kelola program pendampingan ke depannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pertemuan saya dengan Meyer karena cerita yang saya dengar bahwa dia merupakan profil nelayan yang dapat menjadi bagian dari proyek pemberdayaan masyarakat pesisir di Kota Kupang yang berhasil meningkatkan kapasitasnya sebagai nelayan. Kapasitas dalam mengelola bantuan dan mengorganisasi diri dan beberapa nelayan lainnya di NBS sebagai mitra proyek CCDP-IFAD.

 “Ayah baptis saya veteran perang dunia kedua dan pernah diasingkan ke Australia dan Belanda. Namanya Sadrak Ratu Kadja, asalnya dari Pulau Sawu.” Meyer membuka obrolan. Dia mengakui kalau orang tua asuhnya itu jebolan KNIL. Meyer bersaudara 10 orang, Meyer anak keenam.

“Dua meninggal, sebagain lainnya tinggal di Kupang,” sebut pria kelahiran Kupang, 27 Mei 1969. Meyer beribu Belandina Tadjo Udju, perempuan kelahiran Sawu sementara ayahnya bernama Marcus Hidabunga. Hidabunga adalah nama keluarga turunan Sawu.

“Sejarah desa NBS nampaknya dimulai oleh datangnya banyak orang Sawu, nama awalya disebut Namosain, nama induk pemberian orang tua dulu, dipanggil Namosain. Pekerjaan utama berkebun, sedikit yang melaut,” katanya. Meyer melanjutkan bahwa dia mulai aktif melaut pada 1990, sebagai buruh atau pekerja di laut. Sebagai nelayan di Kupang dan ikut sama siapa saja. Alat tangkap yang digunakan saat pertama kali adalah pukat jaring atau lampara. Meyer mengaku bahwa saat itu dia ikut nelayan Buton dari Sulawesi Tenggara dan mengoperasikan alat tangkap jaring. Lampara adalah jaring dasar dan dihela menyusuri kolom air laut.

 “Sebenarnya sudah mulai mengoperasikan perahu sendiri pada tahun 1997. Saya sudah punya perahu jukung, mesin klotok atau ketinting, perahu cadik dan bersayap. Saat itu mendapat bantuan dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Nusatenggara Timur,” ungkapnya. Menurut Meyer tahun ini dia juga mendapat bantuan dari Dinas DKP Kota Kupang sebanyak 5 juta. “Masih Walikota S.K Lerik dan Kepala Dinas masih Eli Waerata,” katanya. Dari bantuan ini Meyer mengaku kalau itu tak dibarengi pendampingan sehingga dia merasa gagal dalam memanfaatkan bantuan tersebut.

Karena tetap berprofesi sebagai nelayan buruh, dan telah lama tak punya aset melaut lagi, Meyer mendapat peluang menjadi anggota kelompok pengelola bantuan CCDP-IFAD.

“Saya ikut kegiatan CCDP-IFAD saat masih didampingi oleh TPD Demsy Henuk, meski kemudian Demsy pindah ke Kelurahan Alak,” lanjutnya. Meyer mendengar tentang proyek ini setelah dikabarkan oleh orang kelurahan dan dari dinas kelautan dan perikanan. Meyer kemudian menjadi pilar kelompok penerima bantuan nelayan. Meyer didapuk ketua, Lambertus Gigi sebagai sekretaris dan Wellem Bire sebagai bendahara.

 

Nusantara 12

Kelompok nelayan yang di dalamnya ada Meyer, Wellem dan Lambertus memperoleh bantuan senilai Rp. 48 Juta.  “Dana yang kami peroleh dibelikan perahu sampan 4 unit, dengan mesin. Harga mesin masih Rp. 3,750,000 dan dibeli Toko Makmur Sentosa,” ungkapnya. Yang pergi membeli adalah Meyer, Lambertus dan Demsy.

“Kami beli bodi dan dibuat jadi perahu lengkap siap melaut, untuk bodi, harganya 3 juta perunit, lalu dilengkapi. Biaya melengkapi perahu ini 3 jutaan. Overbudget karena seunit bisa sampai 12 juta. Kelompok juga membeli genzet dan alat tangkap,” paparnya.

Menurut Meyer, kegiatan kelompoknya bermula pada bulan September 2014 saat dana diterima di BRI dan dicairkan oleh kelompok, pengurus bersama TPD. Selain Meyer, ada pula Darius Wila, Robinson Wila, Hendrik Male, Donsius Lodopee, Godwill Here.  “Donsius sementara pensiun, sekarang jadi sekuriti,” imbuh Meyer terkekeh.

Nama kelompok Meyer adalah Nusantara 12. “Artinya, karena CCDP-IFAD dilaksanakan di 12 kabupaten kota di Indonesia jadi kami menyebutnya kelompok Nusantara 12,” imbuh lelaki yang mengaku melaut terakhir kali pada Kamis tanggal 9 Juni 2016 di sekitar Teluk Kupang.

“Keluar jam 5 subuh, pulang jam 1 siang. Ikan yang ditangkap beragam dan dijual borongan. Harganya 40 ribu. Isinya ada ikan kurisi (gandola), kerapu, lengcam,” terangnya. Bagi Meyer, pendapatannya dari melaut sangat nyata dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarganya termasuk membiayai kuliah anaknya.

“Pendapatan dari CCDP sangat nyata, ketimbang yang kemarin-kemarin (maksudnya program lainnya), yang ini lebih mengena ke masyarakat. Kami yang penerima ini bukan hanya diberi bantuan dana tetapi juga berbagai macam pelatihan. Ada manajemen usaha, yang lain bukan tidak baik, atau tidak tepat guna, bagi saya CCDP ini beda,” paparnya. Dia menambahkan bahwa perencanaan kegiatan merupakan desain bersama bukan hanya modal usaha namun bentuk dan jenis pelatihan yag dibutuhkan.

“Kami ini awam namun setelah ikut program ini kami sudah bisa mengelola kegiatan dengan baik. Ada nilai tambahnya di situ,” ujarnya. Menurut Meyer, berapapun dana yang diberikan oleh pemerintah ke nelayan kalau tidak didampingi dengan baik percuma.

“Tidak ada hasilnya, nol. Seperti memberi gunting dalam lipatan kain,” kata Meyer.

Tentang ikan-ikan hasil penjualannya, Meyer mengatakana  bahwa ikan tersebut dibeli oleh kelompok pemasaran yang dikelola oleh Yohannes Jami Tuka. 

Menurut mantan pendamping nelayan NBS, Demsy Yonathan Henuk, rencana pembentukan kelompok dan proses penyusunan rencana kelompok dilakukan secara partisipatif dan mendapat rekomendasi dari dinas kelautan dan perikanan. “Ada verifikasi, apakah calon penerima sesuai kriteria CCDP atau tidak. Termasuk meminta tanggapan ketua kelompok kerja kelurahan atau VWG yang dipimpin oleh Livingstone Ratu Kadja saat itu,” kata Demsy.

 “Dicek apa benar ini nelayan atau tidak, terus setelah identifikasi dan verifikasi data kami cek profil anggota dan mulai mendampingi kelompok dalam menyusun rencana usaha bersama (RUB). Di penyusunan RUB semua anggota hadir dan tahu isi rencananya. Intinya 10 orang menyampaikan usulan ada perahu, genzet,” papar mantan TP NBS yang saat ini telah terangkap menjadi penyuluh bantu di bawah koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk penampatan Kabupaten Rote Ndao.

Sekarang, Meyer dan nelayan-nelayan di sekitar Kota Kupang sedang memikirkan untuk memperkuat koperasi yang telah disiapakan yaitu Koperasi Sejahtera Bahari. Bagi Meyer, koperasi ini bisa berjalan bagus kalau kelompok-kelompok nelayan lainnya dapat memberi dukungan. Meyer mengatakan bahwa manajemen sangat perlu dalam pengembangan kelompok.  

“Katong berdiri tegak begini karena manajemen,” tandas bendara Nusantara 12 ini. “Untuk kelompok kami, anggota menyisihkan keuntungan dari melaut sebanyak 20 ribu/bulan. Sebagai tabungan. Sudah terkumpul 7 juta. Yang sudah dibukukan di rekening sebanyak Rp. 1,200 juta.

Sementara itu, saat ditanyakan jumlah tangkapan ikan dan nilai terbesar yang ditangkap Meyer, dia menjawab. “Pernah dapat pendapatan 1 juta 700ribu, ikan marlin ada 2 ekor, dibeli satu juta 700 oleh orang Tionghoa, orang restoran di Kota Kupang. Beratnya dua ekor itu sekitar 60an kilo,” terang Meyer. Meurut Meyer, selama melaut belum pernah tidk dapat dapat tetapi paling sedikit penangkapannya Rp. 75 ribu, biaya operasi, 60ribu, bensin sama umpan.

 “Beta garis bawahi, di Kupang ini, tujuan pemerintah memberi bantuan tidak lagi perorangan. Kita harus pikirkan organisasinya. Koperasi banyak dong,”  kata Meyer yang mempunyai anak bernama Juan 20 tahun yang telah kuliah serta Ronald yang masih usia 9 tahun.  Meyer sendiri adalah adalah lulusan sekolah paket C setingkat SMA.

Mari tunggu, semua Meyer dan 10 kelompok penerima bantuan CCDP akan semakin berkembang dan meningkat kualitas hidupnya. Amin!

Ikuti tulisan menarik Kamaruddin Azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan