Bu Dewi, Daging Alot, dan Panci Presto - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dpawon Catering

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bu Dewi, Daging Alot, dan Panci Presto

    Serba-serbi cerita di D'pawon Catering

    Dibaca : 6.878 kali

    Sebagai menu catering, menu masakan yang menggunakan bahan dasar daging sapi mungkin akan sering sekali disajikan, baik untuk menu sehari-hari, maupun untuk hidangan pada saat acara prasmanan.

    Namun pengolahan daging sapi ini termasuk agak rumit dan butuh penangan khusus agar menghasilkan tekstur daging yang tak hanya enak, namun harus bisa dinikmati oleh siapa saja. Sehingga memasak daging yang empuk dan mudah untuk disantap menjadi sebuah tuntutan.

    Tentu penambahan bumbu-bumbu khusus dan teknik memasak secara khusus sangat menentukan terhadap hasil akhir dari masakan yang menggunakan bahan dasar daging sapi ini.

    Beda tukang masak pastinya beda pula cara dan teknik memasaknya, begitu pula dengan Bu Dewi sebagai juru masak utama di Dpawon Catering.

    Dulu pada masa awal berdirinya Dpawon Catering, pernah ada sebuah kejadian unik yang terjadi berhubungan dengan tata cara masak memasak daging sapi ini.

    Karena banyaknya keluhan mengenai masakan daging yang alot, Bu Totok sebagai pemilik catering berinisiatif untuk membeli sebuah panci presto bertekanan tinggi yang berukuran cukup besar untuk peralatan memasak di dapur.

    Namun, meskipun telah berulang kali dinasehati oleh Bu Totok sebagai pemilik Dpawon Catering untuk menggunakan panci presto untuk memasak daging, namun saran tersebut sering kali tidak diindahkan oleh Bu Dewi, yang berujung dengan masih seringnya keluhan akan alotnya daging yang dimasak.

    Entah apa alasan Bu Dewi malas menggunakan panci presto tersebut, mungkin karena pancinya yang dia rasa sangat berat, atau Bu Dewi merasa kerepotan dan tidak nyaman menggunakan panci presto tersebut, atau entah karena alasan apa,, tidak ada satupun yang tahu secara pasti.

    Namun keluhan pelanggan tetaplah keluhan pelanggan, Bu Totok tetap tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, daging sapi yang dimasak oleh Bu Dewi harus empuk saat dihidangkan.

    Kalau Bu Totok mengawasi dapur, pasti Bu Dewi mau memakai panci presto, meskipun yang melaksanakan bukanlah Bu Dewi sendiri melainkan para asisten memasak Bu Dewi di dapur.

    Tapi kalau Bu Totok sedang tidak di dapur karena ada urusan lain di luar, pasti Bu Dewi tidak mau lagi memakai panci presto untuk memasak daging, dan karyawan dapur lain pasti menurut saja perintah Bu Dewi dan tidak ada satupun karyawan dapur yang berani melawan. Maklumlah, karena Bu Dewi ini memang satu-satunya karyawan paling senior di dapur.

    Alhasil, dalam sehari itu, entah berapa kali telepon berdering yang berisi keluhan pelanggan akan alotnya daging yang dimasak waktu itu. Hal ini tentu membuat Bu Totok berang bukan kepalang.

    Siangnya, selepas istirahat makan siang, seluruh karyawan dapur dikumpulkan untuk diberi pengarahan, dan ditanya satu per satu mengenai masalah daging alot tersebut. Hari itu seluruh karyawan dapur berjanji untuk tidak mengulang kejadian ini lagi di lain waktu, tak terkecuali Bu Dewi juga ikut berjanji. Semenjak kejadian itu, setiap memasak daging sapi selalu menggunakan panci presto untuk mengolah daging.

    Akan tetapi kebiasaan itu berubah semenjak Bu Dewi menemukan cara lain untuk melunakkan daging sapi yang dimasak. Sepertinya Bu Dewi memang paling anti memasak daging menggunakan panci presto. Rupanya karena itu pula Bu Dewi selalu mencari cara supaya bisa melunakkan daging yang dimasak tanpa menggunakan panci presto yang dibencinya tersebut.

    “Banyak jalan menuju Roma”, begitu mungkin batin Bu Dewi saat itu, yang penting tidak pakai panci presto, yang jelas hasilnya sama pun tak apa, mungkin begitu fikir Bu Dewi.

    Untuk melunakkan daging sapi, selain merebus daging sapi dengan potongan buah nanas, Bu Dewi juga memasukkan puluhan sendok makan ke dalam penggorengan setiap memasak rendang daging atau masakan lain yang menggunakan bahan dasar daging sapi. Jadi puluhan sendok makan tersebut diaduk bersama-sama seluruh potongan daging dalam penggorengan besar setiap Bu Dewi memasak daging.

    Dengan puluhan sendok makan yang saling berbenturan satu sama lain atau membentur dasar penggorengan karena diaduk-aduk bersama-sama di dalam penggorengan, bisa dibayangkan betapa berisiknya suasana dapur setiap kali Bu Dewi memasak daging sapi waktu itu.

    Dan mungkin karena itu pula kenapa belakangan ini mencari sendok makan di dapur itu susah sekali, “seperti mencari jimat saja”, begitu kata sebagian orang setiap mencari sendok makan di dapur.

    Hasilnya?

    Luar biasa! Daging sapi bisa empuk dan bumbunya bisa meresap ke dalam daging sehingga daging enak untuk disantap!

    Cara tersebut masih tetap dipergunakan oleh Bu Dewi hingga sekarang, Bu Dewi senang karena tidak harus masak daging pakai panci presto, Bu Totok juga tidak protes karena daging bisa empuk, dan yang paling penting, keluhan daging alot kini tidak ada lagi untuk Dpawon Catering.

     

    http://dpawoncatering.com/



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.