KH Hasyim Latief, Sang Komandan Tempur Hizbullah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

ahmad udi masjkur

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • KH Hasyim Latief, Sang Komandan Tempur Hizbullah

    Ulama kharismatik dan Pejuang Kemerdekaan kelahiran Jombang

    Dibaca : 8.521 kali

    Sejak akhir abad ke 18, Jombang memainkan peranan sangat besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Banyak tokoh pergerakan dan pjuang nasional yang dilahirkan oleh pesantren-pesantren di Jombang, seperti Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari pada tahun 1899. Tak terhitung banyaknya tokoh dan kader bangsa hasil didikan pesantren ini. Pada awal abad ke 20, pemerintah Dai Nippon mencatat sekitar 2 ribu Kyai di Jawa dan Madura adalah hasil didikan Pesantren Tebuireng, atas hal itu sering kali Tebuireng di sebut pabriknya Kyai. Salah seorang tokoh Ulama dan Pejuang hasil didikan Pesantren Tebuireng ialah munir Hasyim Latif, yang kemudian dikenal sebagai KH Hasyim Latief.

    Hasyim Latief lahir di Sumobito, sebuah wilayah di sebelah timur kota Jombang tanggal 17 Mei 1928. Hasyim Latief merupakan putra ke 3 dari 4 bersaudara. Ayahnya bernama Abdul latief bin Imam al-Zuhdi seorang petani dan juga pedagang dan kakeknya adalah seorangtokoh dan penghulu Agama di wilayah Sumobito. Semangat berwirausaha agaknya mengalir dari teladan sang ayah yang gigih berdagang kala itu. Seperti anak-anak lainnya pada masa itu, kehidupan Hasyim Latief juga mngalami keadaan yang serba sulit lantaran ayahnya Abdul Latif pada perjalannya telah manjadi tahanan Kolonial. Bahkan beban psikisnya kian terguncang, setelah Ibu dan kakak pertamanya meninggal. Praktis dirinya tinggal bersama Kakak keduanya yang bernama Muhammad (Ayahanda Budayawan Emha Ainun Nadjib) dan seorang adik. Untuk mencukupi keperluan hidup sehari-hari bagi diri dan keluarganya, Hasyim Latief berusaha dengan berjualan jajanan yang di kirim ke warung di kampung sekitar, sambil 2 hari sekali Hasyim Latief mengunjungi Ayahnya dengan mengayuh sepeda untuk mengantar 1 rantang makanan dan pakaian. Tempaan kondisi seperti itu nyatanya membawa hikmah, yakni munculnya semangat kerja keras dan jiwa kemandirian Hasyim Latief.

    Kegemaran membaca buku sangat mewarnai kehidupan, pemikiran dan ide-ide besar Hasyim Latief. Kegemaran ini pula yang kemudian memunculkan kemampuan komunikasi interpersonal terhadap semua lapisan masyarakat. Hasyim Latief muda ialah sosok yang rapi dan gagah dalam penampilannya, sehingga nampak kepribadian yang memiliki sikap disiplin dan komitmen yang tinggi. Karakter-karakter tersebut juga menghiasi kiprah Hasyim Latief saat memimpin PWNU Jatim di tahun 1980-an. Hasyim Latief sangat beruntung dapat belajar langsung ke Hadratus Syekh Hasyim Asyari di pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 1938. Teman-teman seangkatan Hasyim Latief di pondok Tebuireng, antara lain KH Munasir Ali, KH Muchit Muzadi serta KH Yusuf Hasyim (Putra Hadratus Syekh Hasyim Asyari). Meski di Pesantren ini tak lama, Hasyim Latief sempat mengikuti 2 kali khataman Kitab Shahih Bukhari yang langsung di ajarkan gurunya Hadratus Syekh Hasyim Asyari. Setelah dari Tebuireng, Hasyim Latief melanjutkan ke sebuah Pesantren di Sumobito yang di asuh oleh KH Syamsul Huda dan sebuha pesantren di wilayah Balong Dowo Jombang.

     

    Sebagai Patriot Laskar Hisbullah

    Masa muda Hasyim Latief lebih banyak aktif di Laskar Hisbullah, yakni sebuah badan kelaskaran yang didirikan umat Islam Indonesia  di bulan Oktober 1944, setelah Saiko Shakikan (Petinggi Jepang di Indonesia) mengumumkan dikabulkannnya permintaan para pemimpin Islam untuk mendirikan korps sukarelawan islam. Persyaratan dapat menjadi anggota Laskar Hisbullah ialah mereka yang berusia paling tinggi berumur 25 tahun, sedang yang berusia 40 tahun ke atas masuk dalam keanggotaan Laskar Sabilillah.Pendidikan kemiliteran untuk Laskar Hizbullah dipusatkan di Cibarusa Jawa barat, yang diikuti kurang lebih 500 pemuda islam dari Jawa dan Madura. Hasyim Latief termasuk salah seorang santri bersama teman-teman yang berasal dari Jombang. Pelatihan ini berlangsung selama 4 bulan dan pagi harinya dipimpin oleh para Syodanco (Komandan Kompi dari PETA – Tentara Pembela Tanah Air) sedang malam harinya bekal materi kerohanian di pimpin oleh KH Wahid Hasyim serta beberapa tokoh lainnya.

    Sepulang dari Pelatihan Militer di Cibarusa di bulan Januari 1945, Hadratus Syekh Hasyim Asyari mendesak KH Abdul Wahab Hasbullah untuk melakukan mobilisasi pada lulusan Cibarusa agar segera terbentuk pengurus Hizbullah Jombang. Setelah melalui musyawarah terbentuklah Laskar Hizbullah Jombang dengan Komandan Abd Wahib Wahab, sebagai Sekretaris Sa’dullah dan Hasyim Latief sebagai Pelatih. Dibanding daerah lain, jumlah pemuda yang ingin menjadi anggota Laskar Hizbullah Jombang jauh lebih besar. Atas instruksi Komandan Laskar Hizbullah Jombang KH Abd Wahib Wahab, di gelarlah pelatihan untuk menunjang kesiapsiagaan yang terbagi dalam 3 gelombang, masing-masing gelombang 500 peserta dan total anggota pelatihan Laskar Hizbullah Jombang berjumlah 1500 pemuda di tahun 1945.

    Ketika di Surabaya terjadi pertempuran 10 November 1945, Laskar Hizbullah Karesidenan Surabaya di satukan dalam satu devisi yang diberi nama Devisi Sunan Ampel. Hasyim Latief dalam pertempuran itu didaulat untuk memimpin 1 kompi pasukan, dan ditiap-tiap pasukan di serta para Kyai.Setelah Kota Surabaya jatuh ke tangan Sekutu, para pejuan RI di Surabaya dan sekitarnya melakukan penyerangan untuk merebut kembali Surabaya dari tangan Sekutu, upaya tersebut sering disebut Serbuan Oemoem Soerabaja (SOS). Pada SOS I, Hasyim Latief dan pasukannya melakukan penyerbuan berangkat dari Tulangan, sebuah wilayah di sebelah barat Kota Sidoarjo. Adapaun pada SOS II, Hasyim Latief melakukan persiapan konsolidasi di wilayah Perning Mojokerto, Pasukan Hasyim Latief juga mendapat tambahan pasukan dari Hizbullah yang baru datang dari Jombang dan Laskar Sabilillah Mojokerto.

    Pada tanggal 5 mei 1947, pemerintah menyatukan Tentara republik dengan badan-badan Kelaskaran. Kemudian pada tanggal 3 Juni 1947 Pemerintah mengesahkan berdirinya Tentara nasional Indonesia sebagai satu-satu wadah Tentara Bersenjata. Dengan adanya keputusan tersebut, Divisi Sunan Ampel dan badan kelaskaran lainnya di jawa Timur di persatukan dalam Brigade 29. Laskar Hizbullah Divisi Sunan Ampel menjadi resimen 293 dengan Komandan letkol Abd Wahib Wahab, kemudian di tahun 1948 termasuk dalam operasi menumpas pemberontakan PKI di Madiun resimen 293 ini kemudian diperkecil menjadi 2 batalyon, yakni Batalyon 42 Diponegoro dan Batalyon 39 Condromowo. Pangkat terakhir Hasyim Latief setelah penggabungan ini adalah Dan Ki Letnan I Hasyim Latief. Setelah mengalami perubahan status yang mendasar, secara perlahan-lahan anggota Hizbullah dapat menyesuaikan diri sebagai pejuang profesional dengan semangat juang yang terus menyala.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.