Kisah Supriyanto, dari Ontel Hingga Taman Baca - Analisis - www.indonesiana.id
x

ahyar ros

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kisah Supriyanto, dari Ontel Hingga Taman Baca

    Siang itu, pak Supriyanto sedang sibuk merapikan puluhan buku yang berserakan di karpet berwarna merah.

    Dibaca : 2.085 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siang itu, pak Supriyanto sedang sibuk merapikan puluhan buku yang berserakan di karpet berwarna merah. Satu-persatu buku itu ia susun di rak kecil taman bacaan Fatahillah, Kota Tua, Jakarta.

    "Buku ini, kami rapikan agar wisatawan yang bertandang ke taman baca Fatahillah merasa nyaman saat ini membaca" Kata Supriyanto ketua taman bacaan Fatahillah, Kota Tua. Rabu, (9/11/16).

    Taman bacaan Fatahillah ia dirikan sejak 2008 tahun lalu. Bersaman dengan munculnya komunitas sepeda Ontel saat ini menjadi pemikat wisatawan ke Kota Tua. Bermula dari obrolah bersama 39 anggota sepeda Ontel. Pak Supriyanto bapak dari tiga anak ini melempar ide untuk mendirikankan komunitas baca. "Waktu awal memang sempat mengalami kebingungan. Kami mau buat taman baca, tapi buku kok belum ada, tapi bersama anggota komunitas pengelola sepeda Ontel, kami modal niat baik dan alhamdulillah kami dapat hibah buku" Papar pria kelahiran Semarang ini.

    Tahap awal mengumpulkan buku tak mudah ia jalanani. Empat bulan berjalan, taman bacan Fatahillah ini mendapat perhatian, seperti masyarakat kota tua, anggota gerakan Pramuka, dan Arsip Bank Mandiri. Bantuan hibah koleksi sangat beragam, misalnya novel, resep memasak, dan buku sejarah. Taman baca Fatahillah dibuka pada hari Sabtu-minggu dan hari-hari besar lainnya. Hal ini dilakukan karena harus mengikuti aturan dari badan arsip Bank Mandiri.

    Selain sebagai taman bacaan, pak Supriyanto menjadikan taman bacaan sebagai pusat dan pelayanan informasi bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

    "Kami boleh bodoh, tapi keluarga dan orang lain tak yang berkunjung di taman baca Fatahillah tak boleh bodoh". Papar ketua komunitas taman baca yang akrap disapa Supri ini.

    Sejak berdiri, hingga kini taman baca ini telah memiliki tak kurang dari 700 koleksi buku. Untuk menambah koleksi buku, bersama anggota, pak Supri menyisihkan hasil pendapatannya bersama sebanyak Rp 20-30 perbulan. Itu tak dilakukan dengan kesadaran anggota bersama komunitas taman bacaan, dan Sepeda Ontel.

    Selain menjadi ketua di taman bacaan Fatahillah, sosok yang akrab dengan buku ini terlibat dalam komunitas sepeda Ontel. Pekerjaan utama yang digeluti pak Supri adalah menjadi penggelola Sepeda Ontel. "Kalau pekerjaan saya adalah di komunitas Sepeda Ontel, sedang di taman baca, sebagai tempat berbagi dengan orang lain". Ujarnya pak Supri.

    Dari taman bacaan yang dibentuk sejak 2008 ini. Pak Supriyanto bersama anggota komunitas taman bacaan Fatahillah berharap. Agar semua pengunjung yang datang bisa membaca dan memanfaatkan komunitas taman Baca sebagai pusat informasi tentang kota Tua dan Jakarta.

    Ikuti tulisan menarik ahyar ros lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.