x

4-Alasan-Mengapa-Harus-Berwirausaha-Sejak-Mahasiswa

Iklan

akhlis purnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Pendidikan Entrepreneurship Perlu Tiru Pendidikan Sains

Pendidikan entrepreneurship masih terdengar asing bagi orang Indonesia padahal di sinilah masa depan dunia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di abad ke-16 dan 17, tokoh pemikir yang dianggap sebagai Bapak Empirisme, Francis Bacon (1561-1626), tengah mengamati bagaimana para insinyur atau mereka yang  kegiatannya berkonsentrasi pada upaya membuat karya-karya riil bekerja di lapangan. Ia sedang pusing dalam proses penulisan bukunya yang membahas soal metode ilmiah untuk memahami alam semesta yang kelak diberi judul “Novum Organum” (Metode Baru).

Ambisinya untuk membuat sains menjadi sebuah disiplin ilmu yang terorganisir dilatarbelakangi oleh pengamatannya yang menunjukkan bahwa para insinyur saat itu cuma melakukan sains dengan berbekal keberanian dan tekad untuk melakukan uji coba dengan berbagai hal yang menarik perhatian mereka.

Sains hingga sekarang masih tetap diajarkan pada semua siswa di sekolah dasar dan menengah meskipun kita juga tahu benar bahwa tidak semua siswa yang menerima pelajaran sains akan menjadi ilmuwan pada saat mereka dewasa kelak.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Karenanya, kita perlu memahami bahwa tujuan pendidikan sains bukan hanya untuk menemukan kebaruan tetapi lebih pada menyebarkannya pada sebanyak mungkin orang.  Ini artinya bukan hanya mengajarkannya pada mereka yang dianggap berbakat dan paling berpotensi untuk menjadi ilmuwan.

Selanjutnya, kita bertanya: Mengapa semua orang harus belajar sains? Jawabannya sederhana, yakni karena semua kegiatan dalam kehidupan manusia berkaitan dengan sains.

Hal yang sama juga berlaku bagi pendidikan entrepreneurship. Mengapa kita tidak mengajarkan entrepreneurship pada setiap siswa di sekolah-sekolah dan mahasiswa di kampus-kampus? Mengapa saat ini kita malah hanya mengajarkan entrepreneurship pada sekelompok orang saja, yang dianggap memenuhi syarat dan dipandang paling berbakat daripada yang lain? Padahal kita tahu bahwa entrepreneurship – sebagaimana sains – juga telah menjadi landasan bagi peradaban manusia sejak lama. Apalagi di zaman modern seperti sekarang, di saat hampir semua barang dan jasa yang kita jumpai di sekeliling kita diproduksi oleh entitas-entitas bisnis, entah itu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), startup (bisnis rintisan), perusahaan berskala sedang, waralaba, hingga korporasi multinasional, bagaimana kita bisa mengatakan kehidupan kita tidak seluruhnya bersentuhan dengan entrepreneurship?

Jika ditilik kembali lebih cermat, bisa dikatakan bahwa entrepreneurship sebenarnya lebih luas cakupannya dalam kehidupan manusia dibandingkan sains. Bahkan kemunculannya lebih dulu daripada sains yang sudah lebih populer. Sejak keberadaan umat manusia, kita sudah tahu bahwa untuk bertahan hidup, manusia mesti mencari nafkah. Seiring dengan waktu manusia tidak hanya bisa menikmati kekayaan bumi tetapi juga harus bisa menghasilkan sesuatu untuk bisa dipertukarkan dengan sesuatu lain yang ia juga butuhkan tetapi tidak ia miliki. Kemampuan inilah yang sudah ada sejak dulu. Inilah suatu ketrampilan fundamental yang menjadi cikal bakal ketrampilan entrepreneurial manusia. Tetapi toh hingga sekarang, kita belum tergerak untuk mengajarkannya secara luas sebagaimana kita mengajarkan matematika, bahasa, dan sains.

Jadi jika kita ingin menjadikan ekonomi Indonesia di masa datang lebih banyak digerakkan oleh sektor entrepreneurship, bukan ekspor besar-besaran komoditas migas dan sumber daya alam yang bisa saja habis suatu saat nanti, membuat entrepreneurship menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah kita sudah bukan menjadi pilihan tetapi keharusan yang tidak terelakkan.

Kelak jika entrepreneurship sudah diajarkan di sekolah-sekolah, idealnya ia tidak hanya diajarkan hanya dalam tataran teoretis di dalam ruang kelas saja tetapi juga di luar dinding kelas. Selama ini, sejauh pengamatan saya  entrepreneur yang diajarkan di sebagian sekolah masih hanya bergerak di pembahasan teorinya. Belum benar-benar menyentuh esensi. Jikalau ada porsi untuk praktikum, itupun sekadar pelengkap alias formalitas sehingga dampaknya bagi siswa setelah itu kurang terasa. Begitu selesai pelajaran, terlupakan begitu saja. Tidak membekas apalagi bisa dijadikan bekal untuk menapaki masa depan. Padahal yang dibutuhkan mereka sejatinya adalah pola pikir dan sikap serta mentalitas sebagai seorang entrepreneur, bukan cuma retorika dan teori.

Di Amerika Serikat sendiri yang sudah lebih dahulu mengembangkan entrepreneurship sebagai disiplin ilmu, pendidikan entrepreneurship dikatakan baru berkecambah, atau memasuki fase perintisan. Di mana-mana terutama dalam bidang riset dan pengukuran pedagogi dan teknik mengajarnya masih ditemukan banyak ruang untuk perbaikan. Menurut catatan Jerry Katz, di AS perkembangan pendidikan entrepreneur secara kuantitas dapat dikatakan relatif pesat. Di tahun 1986 tercatat hanya ada hampir 600 jurusan entrepreneurship di universitas-universitas di seluruh AS tetapi kini jumlah itu diperkirakan meledak sampai melampaui angka 5 ribu di 2.600 kampus per tahun 2013.

Di Indonesia, angka resminya belum ada. Beberapa universitas tercatat sudah mengawali terbentuknya pendidikan entrepreneurship di nusantara, seperti Universitas Ciputra, Prasetiya Mulya Business School, Universitas Bina Nusantara, Surya University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Wirausaha Indonesia. (*)

Ikuti tulisan menarik akhlis purnomo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler