x

Iklan

greciadevina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Muda Mudi Pilar Bumi Indonesia

Pada hari yang bersejarah selalu diadakan upacara bendera, untuk menghormati pahlawan. Namun apakah anak muda sekarang mampu memaknainya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tanggal 10 November 1945 bukanlah hal yang asing di telinga kita. Pasalnya pada hari itu terjadi sebuah peristiwa yang menggores hati dan takkan terlupakan. Pemuda Indonesia, tanpa memandang ras, suku, dan agama saling bekerja sama, tolong menolong, dan bersatu padu untuk memperjuangkan kebebasan yang telah dinanti-nanti sejak abad ke-18. Selama kurang lebih 3 minggu, rakyat Indonesia bertempur melawan Belanda.  Pertempuran di Surabaya tersebut telah merenggut korban setidaknya 6.000 sampai 16.000 pejuang Indonesia dan sebanyak 200.000 warga sipil terpaksa harus mengungsi dari Surabaya. Meskipun memakan korban yang tidak sedikit, namun pertempuran ini berhasil menggerakkan perlawanan seluruh rakyat Indonesia di nusantara untuk memperjuangkan bumi Indonesia.

Tanggal yang bersejarah itu selalu dikenang oleh rakyat Indonesia hingga masa kini sebagai Hari Pahlawan. Sejak menginjak jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, kita sebagai pelajar telah diajarkan untuk menghargai dan mengenang jasa para pahlawan. Salah satu caranya yaitu dengan mengikuti upacara bendera setiap tanggal 10 November. Namun apakah upacara selama 1 jam itu cukup untuk menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan Indonesia?

Seperti yang dilansir dalam Republika.co.id, tercatat bahwa terjadi kenaikan kasus bullying di Indonesia sejak tahun 2014 yang awalnya hanya 67 kasus melonjak menjadi 79 kasus pada tahun 2015. Tidak hanya itu, berdasarkan data, kenaikan jumlah juga terjadi pada kasus tawuran yang awalnya hanya 46 kasus di tahun 2014 menjadi 103 kasus pada tahun 2015. menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh, beliau berkata bahwa peningkatan jumlah anak sebagai pelaku kekerasan menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada Rabu, 30 Desember 2015, di kantor KPAI, beliau menambahkan bahwa faktor keteladanan yang kurang, serta internalisasi semangat tanggung jawab dan kewajiban anak belum optimal.

Beberapa contoh kasus bullying yang terjadi di Indonesia yaitu :

  • Liputan6.com, Tegal – 2 November 2016, Aditya Riski Fauzi, siswa kelas X SMK Negeri 3 Kota Tegal dipukuli oleh puluhan kakak kelasnya hingga harus dilarikan ke RSUD Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

  • Kompas.com, Jakarta – Video aksi bullying siswa SMAN 3 Jakarta beredar di Youtube. Dalam video tersebut, tampak aksi bullying yang dilakukan oleh sesama siswa dengan cara menyiram kepala korban dengan air teh botol, dan abu rokok, bahkan memaksa korban untuk menghisap rokok tersebut. Tidak hanya itu, salah seorang siswi dipaksa memakai bra di luar seragamnya.

  • Sindonews.com, Bukittinggi – Yolanda Tika, siswi kelas 2 SMA PSM Kota Bukittinggi, Sumatra Barat dianiaya oleh siswi sekolah lain hingga mengalami patah kaki dan memar di pipi sehingga harus dirawat di rumah sakit. Pelaku juga mengalami luka di kepala akibat terbentur di jalan.

Dari kasus di atas, terlihat bahwa mayoritas kasus tersebut dilakukan dan juga menimpa generasi muda calon penerus bangsa Indonesia. Apakah apa yang kita lakukan ini cerminan dari rasa hormat kita terhadap jasa para pahlawan yang telah gugur di medan tempur? Apakah dengan mengikuti upacara bendera saja sudah cukup untuk menghormati jasa para pahlawan? Di manakan jiwa nasionalisme kita sebagai generasi calon penerus bangsa Indonesia?

Kita adalah generasi yang akan menjadi pilar bangsa kita. Bagaimana kita akan membangun bangsa jika sejak kecil kita sudah melakukan tindakan-tindakan yang melenceng dari norma seperti contoh yaitu bullying (baik secara sadar maupun tidak). Tidakkah sia-sia perjuangan para pahlawan jika kita sebagai generasi muda tidak dapat membangun bangsa Indonesia? Ingatlah “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Kita sebagai generasi baru sudah semestinya menghormati apa yang telah mereka, para pahlawan lakukan bagi kita.

Namun, apa yang dimaksud dengan menghargai tidak hanya sebatas mengikuti upacara bendera dengan khidmat setiap tanggal 10 November. Rasa hormat kita dapat kita maknai, dan cerminkan dalam perilaku kita sehari-hari, seperti menghargai sesama manusia dengan cara mau menerima sesama apa adanya. Selain itu, juga dengan memahami apa hak dan kewajiban kita sebagai anak muda. Bila kita sebagai generasi muda setidaknya mampu melakukan kedua hal ini, maka kasus bullying yang marak terjadi di Indonesia akan berkurang. Dengan melakukan setidaknya dua hal tersebut, kita tidak hanya menghormati jasa para pahlawan, namun kita juga telah melanjutkan perjuangan mereka menuju Indonesia yang lebih baik.

Sumber :

http://daerah.sindonews.com/read/1090605/174/dianiaya-siswi-sekolah-lain-yola-alami-patah-kaki-1457118823

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/03/11391591/Video.Bullying.Siswa.SMAN.3.Jakarta.Beredar.Kepala.Sekolah.Membenarkan

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/12/30/o067zt280-kpai-kasus-bullying-di-sekolah-meningkat-selama-2015

http://regional.liputan6.com/read/2647488/siswa-smk-tegal-dipukuli-puluhan-kakak-kelas-saat-jam-pelajaran

http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/politik/sejarah-penjajahan/item178

https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Surabaya

Ikuti tulisan menarik greciadevina lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler