x

Iklan

Fauzan Sukma Madani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Bersama Kata, Memotret Widji

Bersama sajak-sajaknya, penyair pelo itu menjadi sebuah peristiwa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh : Fauzan Sukma M

Catatan historis bangsa Indonesia menghadapi praktik kekejaman Imperialis, bersama segudang permasalahan menghadapi bangsa sendiri - yang menurut Soekarno – jauh lebih sulit ketimbang mengusir penjajah – menjadi ingatan kolektif yang perih, teruntuk mereka yang memahami arti sebuah perjuangan membangun dan mempertahankan harkat Ibu Pertiwi. Ironi histori yang terkungkung selama ratusan tahun tersebut, memunculkan antipati yang begitu kuat terhadap segala bentuk Imperialisme asing; tetapi saat jari telunjuk kita menuding semua itu, di saat yang bersamaan, jemari lainnya tertuju pada diri kita sendiri. Karena warisan bangsa Imperialis yang mengabdi kepada dominasi kekuatan, kekuasaan, dan seterusnya hingga nafsu pelanggengan, seolah menjadi kewajaran jika mengharuskan adegan saling tikam-menikam atau menumbalkan saudara sebangsa - yang tidak berdosa sekalipun - yang dinilainya menganggu pencapaian tujuan tertentu.

Dalam kurun waktu pasca-kemerdekaan saja, suatu rezim yang dibangun ‘bermandikan darah’ dengan ketidakpastian angka resmi itu, dipuja oleh sebagian orang, dan sekaligus dikutuk-sumpahi atas tindak-tanduk penguasa yang menuai sederet catatan tragedi kemanusiaan, di bawah pemerintahannya. Termasuk yang menjadi perdebatan keraguan atas hilangnya Widji Thukul. Terhitung hampir dua dekade, dari menjelang proses pelengseran tampuk kepresidenan ‘The Smilling General’ hingga masa dimana wajah tiran justru lebih beragam lagi, tak seorang pun mampu menunjukan signal keberadaannya. Bersama sajak-sajaknya, penyair pelo itu menjadi sebuah peristiwa – bagian penting dalam sejarah Orde Baru – yang bukan hanya sekadar kata-kata. Bagi rezim Orde Baru, sudah sepastinya Widji menjadi momok menakutkan. Karena sejatinya ia adalah penjahat, seperti dalam sajak ‘Catatan’ misalnya; hendak pergi merampok hak-hak yang dirampas otoritarianisme suatu rezim yang ditentang olehnya, dan kawan-kawan seperjuangannya. Meski militer menodongkan moncong senapan; sepatu lars menjejaki jidat; bogem mentah menyasar di perut dan wajah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Seni dan Politik Praktis

Kehadiran penyair Widji Thukul, dengan atau tanpa disadari, telah membikin suatu warna baru dalam kesusastraan Indonesia. Coba bayangkan, betapa monotonnya khazanah persajakan jika hanya berwarnakan nada melankolis-sentimental, atau dominasi sajak narsistik yang berdentang kosong. Tapi yang menarik, bukanlah perbandingan yang mencolok itu sebenarnya. Konsistensi sikap menumpahkan protes dalam larik sajak-sajaknya – baik secara lirih maupun teriak – menjadi berarti saat sekeliling orang mendengkurkan ilusi kemakmuran sambil membenarkan ketidakbenaran penguasa. Widji yang dibenturkan berkali-kali pada realitas yang timpang itu, perlahan tumbuh menjadi sebuah konfrontasi tanpa ampun, terhadap kesewenang-wenangan negara.

Dalam pelbagai kepenyairannya, sudah tentu keberadaan karya, termasuk sajak-sajak yang digarap Widji, tidak dilahirkan dari hasil lamunan yang tak terkontrol oleh nalar. Setiap karya adalah anak-anak rohaninya. Mereka dilahirkan dari rahim realitas yang dilengkapi berbagai ukuran; kemudian daya relevan-imajinatif menopangnya; sebagai kesatuan bentuk karya sastra. Tidak seperti kebanyakan penyair salon, yang kata W.S Rendra, sajaknya berbicara mengenai anggur dan rembulan, sedangkan ketidakadilan terjadi disampingnya. Widji justru menjadikan seni sebagai wadah mediator lidah rakyat. Dengan tanpa melupakan makna estetika seni, ia gambarkan secara terang bagaimana derita lingkungan dan keterwakilan atas kelas sosialnya. Semisalnya, perumpaan “tembok” tirani yang tak menghendaki tumbuhnya “sekumpulan bunga” sebagai metafora rakyat kecil, ia tuliskan pandangan imajinatif-nya dalam sajak ‘Bunga dan Tembok’ sebagai kata-kata yang tak mengubah, tapi mempertajam realitas itu sendiri. Memaknai berbagai kepenyairan Widji, bahwa sastra menuntutnya untuk bertutur jujur, sekaligus seperti yang dikatakan John F. Kennedy, menjadi pelurus kebengkokan politik.

Terlepas dari ‘keabsahan’ mencampur-adukan seni ke ranah politik praktis, sebagai seniman-progresif, Widji tetap pada pendiriannya menggoreskan perlawanan di setiap larik sajak-sajaknya. Sebab baginya, selain mengharuskan memiliki ruang untuk ditonton, berkesenian mesti mampu membentuk kesadaran publik itu tersendiri. Walaupun acapkali mereka yang melakukannya dengan sepenuh hati, harus mengecap konsekuensi penderitaan, pada masing-masing babak sejarahnya. Apa yang dilakukan dan dialami Widji, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perlawanan yang telah dikerahkan untuk meruntuhkan kekuatan otokrat kolot di belahan dunia lain; baik kediktatoran penguasa yang haus darah, ataupun Imperialis yang nafsu dominasi. Mulai dari penghujung nasib Jose Rizal melawan Imperialisme bangsa Spanyol di tanah Filipina; Perjuangan Borja da Costa di Timor Leste; hingga tarikan napas terakhir Nikolai yang menentang fasisme di negaranya sendiri, Bulgaria; adalah refleksi pelaku seni, yang dikemudian hari menjadi martir perlawanan atas kesewanang-wenangan penguasa. Sama halnya dengan Widji Thukul. Mereka, seniman rakyat tersebut, adalah keseluruhan dari sejarah, yang pada dasarnya – selama bumi terus berputar dan manusia masih menetap – akan selalu terulang dalam dimensi ruang gerak, waktu, dan tokoh yang berbeda.

 “Aku berpiki tentang sebuah gerakan, tapi mana mungkin kalau diam!”. Begitulah kutipan kata-kata Widji Thukul yang dituangkan dalam sajak ‘Tentang Sebuah Gerakan’. Ekspresi perlawanannya tidak sebataskan dari panggung ke panggung. Sebagai seniman rakyat dan aktivis, pilihan untuk kemudian melebur secara fisik bersama buruh, dan kaum kelas sosialnya pun memang ia lakoni, akan sebuah gerakan bertajuk perlawanan. Bahkan saat menggalang aksi demontrasi Sritex tahun 1995, di Solo, keberanian aktivitas politiknya pun harus dibayar mahal dengan sebelah mata yang lebam, setelah represifitas aparat membenturkannya ke kap mobil; sebagai bentuk penghancuran saripati nilai demokratisasi yang pada awalnya sering digemakan, berujung wacana. Keberanian Widji melawan yang sepantasnya dilawan, adalah perwujudan sepenuhnya adagium ceux qui vivent sont ceux qui lutten, yang menurut Victor-Marie Hugo, sebagai representasi bagi setiap kehidupan.

 

Suluh Kemanusiaan

Di tengah dinamika arus zaman, jalan kesusastraan adalah medium berbahasa sederhana yang paling digemari dalam menumpahkan ekspresi, ungkapan kesaksian, hingga menuntun pada suatu tahap penciptaan karya yang menghargai kualitas dan mempertinggi harkat humanisme universal. Dari keseluruhan, yang terakhir adalah pesan yang disampaikan ‘Paus Sastra Indonesia’. Mungkin itu sebabnya figur – yang lebih saya kenal - sebagai protest singer sekaliber Bob Dylan, mengolah sastra dalam tatanan notasi dan guratan lirik sebagai bentuk kesadaran akan kompleksnya realitas kehidupan manusia.

Barang tentu suara Dylan yang jauh dari kesan harmoni laik musikus sezamannya, karena memang ia tidak menjual teknik bernyanyi apalagi bermain gitar; sebagaimana dalam salah satu cover album The Bootlegs Series-nya seolah ia mengakui ketidakpiawaian dalam bernyanyi. Karyanya justru sebagai sebuah pembuktian, bahwa sastra bukan hanya sekadar sebagai media hiburan yang terpinggirkan. Dylan menyuburkan pembebasan akan kultural menuju peradaban manusia - yang diharapkannya - lebih berbudi luhur dalam tapak perdamaian. Semuanya terangkum lewat lirik lagu yang puitis, tapi bertutur tajam tentang komunalisme, yang membawa mantan kekasih Joan Baez itu pada penganugerahaan Nobel Kesusastraan. Sebagai apresasi untuk kontribusi, dan pembaharuan literasi dalam kancah musik Internasional.

Jika Dylan yang konsisten mengangkat derajat kemanusiaan dalam skema sudut pandang yang lebih universal, Wijdi justru mendapatinya juga pada perspektif yang luput dari koreksi. Kegemarannya membaca, membentuk kesadaran bahwa setiap tulisan - sebagai hasil karya tangan manusia – harus dihargai sebaik mungkin, apapun bentuknya. Mengingat, ketika melihat salah seorang temannya menjadikan buku sebagai tatakan mie instan, Widji marah. Sekalipun itu koran, tidak mentolerir dipergunakan sebagai alas. Berangkat dari hal yang merupakan pelecehan terhadap karya manusia tersebut, maka mungkin Widji akan memberontak sejadi-jadinya ketika melihat penghancuran karya tulis oleh kebengisan Orde Baru yang paranoia terhadap tulisan yang dianggap mengugat status quodalam sistem yang berlaku, seperti yang dialami Pram, dan seniman seperjuangannya. Jangan harap generasi sekarang bisa menaruh perhatian besar pada segala bentuk karya tulis, jika untuk memperkaya dirinya sendiri hanya dengan membaca pun, masih enggan. Karena kejahatan yang melebihi penghancuran buku, adalah tidak adanya kemauan untuk membaca buku itu sendiri. Begitu yang dikatakan Joseph Brodsky.

Substansi setiap sajak Widji Thukul menjadi nilai tersendiri sebab selalu relevan dengan berbagai lini masa, akan ketimpangan realitas. Karenanya, sajak-sajak Widji masih mendapatkan tempat mutakhir ini, bahkan beberapa kalimat pendek dalam sajaknya dijadikan aforisma seperti ‘Si Binatang Jalang’ dan terlampau dikenal banyak orang, ketimbang pengarangnya. Di luar sana, benih – benih semangat yang ditebarkan Widji dalam persembunyiannya itu perlahan tumbuh; menuai tanda tanya, dan menggugat akan kesewenang-wenangan, “bahwa menghamba pada ketakutan akan memperpanjang barisan perbudakan”, maka suatu saat teriakan lantang “lawan!” itu mesti dilakukan, dan biar menjelma menjadi suara yang “memburu seperti kutukan”.

Ikuti tulisan menarik Fauzan Sukma Madani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler