x

Iklan

Syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Cinta Negara Tak Selalu Bermakna Chauvinisme atau Jingoisme

Dalam managemen kenegaraan, kebersamaan itu harus dipaksakan. Dan pemerintah berhak memaksakan kebersamaan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jika Anda seorang yang beretnis Jawa atau Sunda, itu bukan karena kehendakmu. Mereka yang Batak, Melayu, juga bukan karena keinginan mereka. Begitu pula yang Ambon, Banten, Bugis, Dayak, Mandar, Minahasa, Padang, Papua, atau suku terasing. Semua terjadi begitu saja. Kita tidak punya kontribusi apapun, dan kita tidak pernah diminta untuk memilih.

Bahwa kita semua kemudian diidentifikasi menjadi orang Indonesia, selain karena ikhtiar, juga terutama dan utama karena faktor tempat kelahiran dan rahim wanita yang melahirkan. Dalam rumusan kalimat yang agak ilmiah, kira-kira begini: setiap orang – siapapun dia – mengalami tiga hal secara taken for granted: (1) tidak punya pilihan dari rahim wanita siapa dia akan dikandung dan dilahirkan; (2) tidak bisa memilih waktu dan tempat kelahirannya; dan (3) tidak bisa memilih tempat dan waktu kematiannya.

Maka mencintai tanah kelahiran adalah bagian dari mensyukuri nikmat dan karunia. Kkelahiran setiap bayi dari rahim seorang ibu tertentu adalah kehendak Tuhan: takdir, we might say. Dan takdir Tuhan itu tidak mungkin dibuat asal-asalan. Tuhan pasti punya rencana gaib kenapa seorang bayi tertentu dilahirkan di tempat, waktu dan rahim wanita tertentu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Semua identitas lanjutan – warna kulit, suku, bangsa, bahasa, adat, warga negara, kearifan lokal, termasuk pakaian – muncul dan lahir dari ayah-ibu yang melahirkan dan tempat kelahiran. Tuhan, sekali lagi, tidak bertanya kepada bayi yang akan dilahirkan: apakah mau dilahirkan dari rahim wanita tertentu, dari etnis tertentu, di lokasi tertentu.

Kalau soal agama dan keyakinan, jika mau, setiap orang bisa saja pindah agama atau tak beragama sekalian. Karena agama lebih ke soal pilihan dengan segala konsekuensinya, meski kental juga faktor keturunannya. Soal profesi atau pekerjaan, alternatifnya banyak. Tapi tidak mungkin seseorang pindah ibu, pindah suku atau pindah lokasi kelahirannya.

Bahwa seseorang dilahirkan dari sepasang ayah-ibu yang beretnis Mandar dan berdomisili di suatu kampung di Sulawesi Barat – yang kemudian menjadi bagian dari Indonesia – maka saya yang diidentifikasi dan/atau mengidentifikasi diri sebagai orang Indonesia, adalah sebuah “peristiwa kehidupan”, yang saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dengan itu Tuhan pasti punya rencana baik untuk saya. Saya bangga dan mensyukurinya, dan akan tetap merawatnya dengan baik.

Karenanya, mencintai negeri tidak selalu bermakna Chauvinisme atau Jingoisme. Dan perbedaan utamanya adalah: cinta negara lebih bersifat cinta yang rasional. Sementara chauvinisme atau Jingoisme lebih mewakili cinta dan patriotisme buta. Makanya, Chauvinisme atau Jingoisme biasa dijelaskan dengan ungkapan: extreme patriotism, especially in the form of aggressive or warlike foreign policy (patriotisme yang ekstrem, khususnya dalam bentuk sikap dan kebijakan luar negeri yang agresif dan selalu ingin berperang).

Bahwa akhirnya saya, anda dan dia menjadi warga sebuah wilayah – yang dalam peta bumi dikenal dengan nama Negara Indonesia – maka mari merawat kebersamaan dalam perbedaan itu. Sebab hanya dengan begitulah, cinta negara bisa dirasionalkan dan dibenarkan.

Bahkan jika dicermati secara mendalam, hampir semua gerakan revolusi dan juga aksi-aksi pemberontakan di titik manapun di bumi ini, sesungguhanya adalah upaya merawat identitas. Ketika sebuah identitas ingin menegasikan identitas lain, maka identitas yang merasa terancam ternegasikan akan melawan, ini common sense.

Karena itu, dalam managemen kenegaraan, kebersamaan itu harus dipaksakan. Artinya pemerintah sesungguhnya berhak penuh memaksakan kebersamaan. Dan inti dari setiap kebersamaan adalah keadilan. Adalah tidak rasional menuntut dan memaksakan kebersamaan tanpa menyediakan keadilan, betapapun nisbinya dan betapapun relatifnya.

Syarifuddin Abdullah | 20 Januari 2017 / 22 Rabiul-tsani 1438H

-----------------

Catatan: sebagian materi artikel ini dikutip dari artikel berujudul “Ibu Pertiwi", yang pernah dimuat di akun Facebook pada 13 Agustus 2015.

Ikuti tulisan menarik Syarifuddin Abdullah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler