x

Iklan

Ahmad Arok

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Puan Maharani Mengenang Soekarno dan NU

Mohammad At-Taturk

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Puan Maharani beruntung, lahir sebagai cucu dari salah seorang ‘founding fathers’, Soekarno. Ada kebanggaan plus. Darinya, Puan, yang juga berkiprah mengabdi untuk negeri ini, bisa belajar banyak dari sang kakek, Soekarno, yang juga presiden pertama Indonesia. Bukan saja apa-apa yang dipetuahkan olehnya yang kini banyak menjadi slogan-slogan yang menggebu dan banyak diamini oleh kita. Tetapi juga relasi-relasinya dalam konteks membangun hubungan ideologis atau politik. Dalam hal ini, hubungan kedekatan Soekarno dan NU.

Tentang keduanya, tak banyak ditulis memang dan diketahui. Soekarno, yang kental dengan semangat nasionalisme-nya dan NU yang kuat ideologi keislamanannya, rupanya keduanya memiliki kedekatan. Keduanya saling mengapresiasi.

Dalam penutupan Muktamar NU di Sala, 29 Desember 1962, Soekarno memberi pengakuan atas kontribusi NU. Dia menyatakannya dalam sebuah pidato yang berjudul: saya cinta sekali pada NU. Penghormatan sebaliknya, misalnya dikemukakan salah seorang tokoh penting NU, KH. Wahab Hasbullah, mengatakan: Soekarno tanpa NO (Nahdlatul Oelama) akan menjadi sukar (susah) menjalankan program politiknya. Demikian juga NO tanpa Soekarno akan menjadi bongkar (didongkel orang).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apa yang menyatukan keduanya?

Salah satunya politik. Goenawan Mohammad mengutip dialog ‘Game of Throne’ dalam capingnya, ‘antagonisme’, bahwa “politik adalah perang tanpa darah, perang itu politik yang berdarah-darah”.

Tapi politik di zaman pra-kemerdekaan tidak semata-mata berarti perebutan kekuasaan dan kekayaan atau kesenangan-kesenangan pribadi dan golongan. Politik di masa itu bukan sekedar ambisi pribadi. Jikapun kita tidak bisa melepaskan diri dari ‘kepentingan’ – kata yang akrab dalam politik, tetapi itu bukan kepentingan perseorangan atau golongan tertentu, melainkan kepentingan bersama, kepentingan nasional: sebuah bangsa yang hendak menentukan nasibnya sendiri, di bawah tangannya sendiri bukan dalam cengkeraman kolonial yang rakus dan menindas.

Itulah Soekarno. Itulah NU. Dan itulah masa-masa itu. Dan Puan Maharani mengenang itu sambil sesekali bilang dengan mantap: saya harus selalu belajar dari kedekatan Soekarno dan NU.

***

Era sebelum kemerdekaan menandai titik permulaan. Soekarno muda tidak mengenal NU secara langsung. Tapi di tahun-tahun era pra-kemerdekaan, dia berjumpa dengan seorang tokoh NU terkemuka dan progresif, penggerak utama berdirinya NU: K.H. Wahab Hasbullah.

Era itu juga berarti era kolonialisme yang akut: kolonial merampas ‘apa-apa’ hak milik pribumi, mementingkan kekuasaan, kejayaan dan kebanggaan kolonial dan melupakan kesejahteraan pribumi. Kedua sosok ini begitu peka menyerap penderitaan, ketertindasan dan kepedihan pribumi di satu sisi. Kejumawaan, kesombongan dan kerakusan kolonial di sisi lain. Keadaan ini membuat kedua-duanya tidak tenang. Setiap kali mereka mendapati keadaan itu, setiap itu pula perasaan marah, perasaan untuk melawan dan untuk melepaskan diri mengaduk-aduk pikirannya.

Singkatnya, dengan keadaan itu, mereka memiliki perasaan yang lengkap untuk marah, untuk menyediakan kutuk dan caci pada segala yang berhubungan dengan kolonial. Dan keduanya memang pada akhirnya marah dalam bentuk sikap anti-imperialisme, anti-kolonialisme dan sentimen nasionalisme terbangun.

***

Apa yang bisa dipetik lebih jauh dari hubungan Soekarno dan NU adalah perihal kesamaan gagasan saat itu untuk memikirkan bangsa. NU adalah organisasi besar masyarakat muslim yang begitu tegas menyuarakan perasaan nasionalisme. Di masa-masa awal kemerdekaan, apa yang dilakukan NU (ulama, kiai-kiai, santri-santri dan masyarakatnya) adalah mempertahankan kemerdekaan. Proklamasi Soekarno yang menyatakan kemerdekaan bisa jadi tak berarti banyak bila semangat jihad, semangat perang tidak diceramahkan oleh para kiai-kiai NU kepada santri dan warga masyarakatnya. Boleh jadi peristiwa di Surabaya, 10 November, yang lalu dikenal sebagai hari pahlawan tak kan seberdarah itu bila semangat jihad para santri, kiai-kiai NU beserta rakyat tak terpanggang sepanas itu untuk berjuang memerah-putih-kan medan perang.

Saat itu, doktrin agama mengental menjadi kekuatan politik: orang-orang rela mati. Ada ungkapan ‘mencintai tanah air adalah bagian dari iman’, dan kata-kata itu menjadi penyengat semangat, pengobar keberanian dan daya dorong moral perjuangan. Kata-kata itu dikoarkan oleh para ulama NU demi upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Orang-orang maju ke medan perang dengan kerelaan menyediakan nyawa demi tanah air.

Tentu kita tak bisa kembali pada masa itu. Tapi masa-masa itu adalah jejak-jejak masa lalu yang tak boleh dilupa, betapa ulama-ulama adalah kekuatan penting bagi keutuhan NKRI. Dan hendaknya ini menjadi ingatan yang tak dilupakan relevansinya untuk merenungkan nasib bangsa di saat-saat seperti ini. Kita merindukan mereka, para ulama, demi menyejukkan negeri ini. Soekarno bilang: "Kalau unsur Pancasila pada alim ulama teguh dalam batin, negara kita akan menjadi negara yang paling baik di seluruh dunia".

Mohammad At-Taturk

Ikuti tulisan menarik Ahmad Arok lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu