x

Iklan

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Perjalanan Jurnalistik Husni di Aceh

Kisah ini mungkin hanya sebagian cerita perjalanan dari beberapa jurnalis idealis yang pernah sempat ada dan saya kenal.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kami bertemu setelah sekian tahun. Tidak ada yang berubah dari penampilannya yang sederhana. Ia masih membenci rokok seperti tradisi keluarganya. Tetapi ia lebih membenci ketidakadilan yang dilihatnya. Karirnya sebagai wartawan tidak terlalu lama, mungkin. Tetapi waktu yang sebentar itu membawa pesona, setidaknya bagi saya. Keberanian dan dedikasinya yang murni atas tujuan jurnalisme membuatnya berarti.

Husni Arifin, ia mengalir seperti air yang mengalir. Tak terbendumg, terus mencari jalan bagi tujuan jurnalistiknya saat itu, mewartakan yang seharusnya menjadi warta bagi masyarakat. Orang boleh menyebutnya keluguan yang naif. tetapi ia berangkat dari kesadaran dan tekad. Mungkin itu beda.

Aceh, sepanjang tahun2003-2005 adalah tahun yang mencekam, cerita Husni Arifn. Wilayah itu mencemaskan bagi siapa saja. Menerori benteng keberanian yang rapuh dan mengerdilkan akal budi manusia. Pembunuhan, pemerkosaan dan pejarahan adalah kelaziman di ruang-ruang sebunyi. Jauh di pelosok-pelosok desa yang sunyi. Ketakutan seringkali merampas keberanian mata untuk melihat kebenaran. Termasuk para wartawan yang tak mampu memilih karena penugasan. Pulang atau pergi segera, adalah satu-satunya doa bagi siapa saja di sana. Kecuali orang-orang yang sudah kehilangan harapan dan masa depan. Karena semua itu bisa berarti kekonyolan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Provokasi GAM adalah keliaran dalam sejarah peradaban kemanusian di Aceh. Di sana, kenang Husni, desa-desa dibakar, perempuan-perempuan diperkosa, harta-harta dijarah oleh Gam dan militer. Penduduk dijadikan tumbal dan benteng hidup bagi GAM yang dikejar di hutan-hutan. Dicurigai dengan senapan militer yang mengacam. Penduduk menerima takdir yang dilematis. Kematian yang berdarah adalah cara mati yang dihalalkan. Dan semua itu, seringkali tak terungkap dalam berita.

Aceh, di masa itu –adalah ladang berita. Semua media siaga. Setiap redaktur atau produser berita televisi mengintai. Berita pertempuran, kematian yang berapa, penangkapan siapa dan penyergapan dimana adalah menu-menu yang menjadi nilai. Wartawan di lapangan dicekam kepanikan ganda. Panik oleh deadline dan panik oleh kecemasan kematian yang tiba-tiba. Maka, berita menjadi apa adanya. Terlihat sejauh mata keberanian sampai. Tetapi bukan berarti sia-sia. Tetap ia selalu menjadi tanda bagi peristiwa.

Husni Arifin, mungkin memang berbeda. Ia memutuskan berangkat atas kehendak diri. Tak ada yang memaksa atas nama penugasan. Korannya, tempat ia bekerja –memiliki kebijakan berbeda. Wartawan boleh menolak tawaran bertugas di wilayah konflik. Tetapi ia bersedia dan itu malah mencemaskan redakturnya. Ia orang Jawa, yang dibenci di Aceh karena hegemoni dan kekuasaan Soeharto. Itu alasannya. Namun ia punya alasan sendiri. Karena tak ada yang lain, maka ia dikirim ke Aceh.

Berita, baginya adalah tujuan kemanusiaan. Berita tidak saja sekedar fakta dan peristiwa. Di Aceh, berita adalah peristiwa kemanusiaan, kematian atau kesedihan yang yang tak berujung. Dua kubu yang berkuasa, GAM dan Militer, adalah alat-alat politik yang menciptakan persenyawaan bencana, duka dan derita. Tak ada yang bisa disalahkan sebagai takdir. Tetapi penderitaan tetaplah kesengasaraan yang seharusnya bisa dicegah. Inilah fungsi pers yang ia yakini.

Maka, ia menulis jauh di kedalaman peritiwa. Mencari sesuatu yang menjadi sumber setiap letupan api. Ketika sebagian besar wartawan bergerombol dalam sebuah peristiwa, ia memilih menjangkau sendiri desa-desa yang kesepian dan terancam. Ia menukan banyak hal. Mengerikan.

Jadi, ia menuliskannya sebagai berita tanpa pretensi. Tanpa tendensi. Kecuali menuliskan apa yang seharusnya seorang wartawan difungsikan. Untuk itu ia tak berpihak. Untuk itu pula, ia sering dicari pihak militer atau GAM. Namun begitu, ia tetap konsnisten menuliskan berita-berita yang humanistik. Aliansi Jurnalistik Indonesia ( AJI ) pun sempat memberikan penghargaan atas komitmennya itu di tahun 2003.

Husni Arifin, barangkali adalah satu dari sedikit contoh pewarta yang menggunakan kaca mata kuda. Berjalan lurus dari jalan yang disebut idealisme. Melihat sebagai mata publik tanpa kompromi. Ia begitu setia pada teks-teks yang teori dan memahami seta melakoni kode etik jurnalistik. Kesetiaannya pada tanda-tanda, dengan demikian, sering berbenturan dengan realitas yang sering muram. Ia mulia. Tapi kita sering menyaksikkan yang mulia adalah kesepian. Dan kesunyian itu pula yang membuatnya menjadi tergoda untuk tidak bertahan. Husni Arifin, meskipun kemudian mundur dari dunia jurnalistik, seperti halnya dia, sudah seharusnya kita kenang.**

 

Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler