Mengembalikan Peradaban Sapi NTB - Urban - www.indonesiana.id
x

ahyar ros

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Mengembalikan Peradaban Sapi NTB

    Sejarah telah mencatat, NTB pernah menjadi daerah pemasok utama kebutuhan daging sapi bagi pemerintah Hindia Belanda yang sedang menjajah dinegeri ini.

    Dibaca : 2.230 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sejarah telah mencatat, NTB pernah menjadi daerah pemasok utama kebutuhan daging sapi bagi pemerintah Hindia Belanda yang sedang menjajah di negeri ini. Suasana itu terekam dengan sangat jelas dalam sebuah foto hitam putih yang diperkirakan diambil tahun 1857 di pelabuhan tua Ampenan. Dalam foto itu terlihat bagaimana para pengusaha Belanda sibuk memerintahkan penduduk pribumi untuk memasukkan sapi-sapi asal daerah ini untuk dimasukkan kedalam kapal-kapal barang yang sedang bersandar di pelabuhan Ampenan. Kita tidak tahu, apakah sapi-sapi itu dibeli secara layak oleh pengusaha Belanda dari peternak ataukah dirampas secara paksa.

    Yang pasti pelabuhan Ampenan saat itu telah menjadi pintu utama keluar masuknya arus barang kedaerah ini. Foto itu menjadi salah satu bukti otentik, betapa nenek moyang orang NTB telah ratusan tahun sukses beternak sapi. Belum cukup dengan fakta sejarah itu, datanglah kekampung-kampung yang terdapat diberbagai daerah di NTB. Saya jamin anda akan menemukan banyak penduduk desa yang menggantungkan hidupnya dari beternak sapi. Mereka hidup bukan hanya dari hasil menjual sapi tapi juga bisa mendapatkan penghasilan harian dengan mempekerjakan sapinya untuk menggarap sawah atau ladang.

    Dari sapi mereka bukan hanya bisa makan, membangun rumah tapi juga untuk biaya sekolah anak mereka termasuk ongkos naik haji ke Tanah Suci Makkah. Beternak sapi bukan saja urusan konsumsi tapi juga untuk kepentingan pendidikan, ibadah atau spiritual. Maka tidak salah kalau nenek moyong kita mewariskan ‘peradaban beternak sapi’ kepada kita anak cucunya. Sejarah dan filosofi inilah yang ingin diraih kembali oleh Pemerintah Provinsi NTB dengan meluncurkan program unggulannya yang disebut Bumi Sejuta Sapi (BSS). Program unggulan itu kini telah berjalan selama tiga tahun lebih.

    Selama tiga tahun itu, tentu banyak kendala sekaligus kemajuan yang telah diraih daerah ini untuk meraih mimpi sebagai daerah bumi sejuta sapi. Setelah BSS dilauncing oleh pemerintah daerah terlihat populasi ternak sapi di NTB tahun 2010 mencapai 683.347 ekor sapi. Terdiri dari 234.910ekor induk sapi dan 173.716 ekor pedet. Tahun 2011 mengalami peningkatan menjadi 780.723 ekor. Populasi ini terus meningkat tahun 2012 menjadi 897.832ekor. Untuk tahun 2013 diperkiran naik menjadi 1.032.507 ekor.

    Pemda NTB sangat optimis hasil itu akan terus digenjot naik melalui cetak biru BSS disebut dengan program Percepatan pengembangan populasi sapi melalui Inovasi menagemen dan tehnologi untuk meningkatkan Nilai tambah yang disingkat dengan PIN. Kendala sekaligus kemajuan itulah yang direkam secara lengkap dan gamblang dalam buku ini. Penulis bukan saja menjalaskan filosofi, kendala,potensi tapi juga kisah sukses sembilan kelompok peternak sapi yang mendapatkan pembinaan dan bantuan dari program program BSS.

    Tak ketinggalan juga dikisahkan pergulatan para sarjana peternakan yang ditugaskan oleh pemerintah daerah. Mereka inilah yang disebut dengan sarjana masuk desa. Mereka bertugas mendampingi, mengedukasi dan memonitoring pelaksanaan program BSS ditingkat kelompok peternak. Kisah sukses para peternak ini tersebar diberbagai tempat, mulai dari ujung barat pulau Lombok sampai ujung timur Pulau Sumbwa. Disinilah terbangun sinergi apik antara pemerintah provinsi, kabupaten kota,pendamping dan peternak sapi.

    Buku ini bisa dikatakan sebagai salah satu bukti keseriusan dan pertanggungjawaban Gubernur TGH. Zainul Majdi dan Wakil Gubernur H. Badrul Munir, dalam mewujudkan swasembada daging sapi diakhir masa jabatannya dalam memimpin NTB. Terbitnya buku ini juga untuk menjawab kritik terhadap program BSS yang dinilai tidak sampai kepeternak meski telah dibiayai oleh anggaran yang besar. Kritik lain juga dilontarkan dengan memplesetkan BSS sebagai Bumi Sejuta Slogan.

    Tak tanggung-tanggung kritik itu dilontarkan melalui media massa dan jaringan sosal. Terkait dengan kritik itu, penulis beranggapan bahwa begitulah salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam berperan mengontrol program pemerintah daerah. Tanpa kritik dan respon seperti itu, mungkin program ini tidak semua diketahui oleh masyarakat. Terlepas dari itu, membaca buku terasa membaca majalah atau koran.

    Ini bisa jadi karena ditulis dan diedit oleh penulis yang berpengalaman serta telah menulis banyak buku. Untuk itu Anda tidak perlu mengerjitkan dahi untuk memahami isi buku ini. Apa lagi buku ini ditulis berdasarkan data dan reportase lapangan yang mendalam. 

    Dikemas dalam bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Kelebihan lain dari buku ini, selain lay out (setting) yang atraktif seperti majalah bulanan –buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar menawan yang dihasilkan oleh fotografer professional asal NTB. Saya rasa satu-satunya kekurangan dari buku ini – buku sebagus ini tidak atau belum tersedia ditoko-toko buku dan perpustakaan di NTB.

    Mestinya penulis dan penerbit dari buku ini segera mendistribusikan buku ini diberbagai toko buku yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Apa lagi Lombok dan Sumbawa sering dipilih oleh para peneliti dari dalam dan luar negeri yang tertarik meneliti NTB.

    Data Buku :

    Judul         : Sapi Untuk Rakyat-Geliat NTB BSS dari Lapangan (2013)

    Penulis       : Farid Tolomundu dkk

    Tebal         : 108 halaman

    Penerbit     : Sekretariat Program Unggulan NTB Bersaing

    Perensensi : Ahyar Rosyidi

    Ikuti tulisan menarik ahyar ros lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 432 kali