Mendekatkan Jarak antara Benak dan Hati

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Berubah itu sungguh tidak mudah. Meskipun benak sudah tahu, hati belum tentu tergerak.

 

Jarak terjauh di muka Bumi adalah antara otak/benak dan hati.
--Entah siapa
 

Berubah itu sungguh tidak mudah. Meskipun benak sudah tahu, hati belum tentu tergerak, sehingga aksi belum ada. Sebagai contoh, kita telah tahu bahwa merokok itu merusak kesehatan, bahkan berpotensi kuat menyebabkan kanker, namun tetap saja kita mengisap rokok satu bungkus per hari. Alangkah jauh jarak antara otak atau benak dengan hati, seakan inilah jarak terjauh di muka Bumi.

Begitulah, mengubah pengetahuan menjadi tindakan seringkali sukar. Kita sudah tahu bahwa otak/benak/kepala dan hati adalah bagian dari tubuh kita yang sama. Kepala menjadi ‘tempat tinggal’ aspek kognitif, seperti pikiran, gagasan, ide. Sedangkan hati tempat menetap aspek afektif kita, misalnya naluri, emosi, dan intuisi. Kognitif terkait dengan matematika, sains, dan teknologi, sementara seni, spiritualitas, dan kasih sayang berada di wilayah afektif.

Kedua wilayah itu bukan bersaing, melainkan saling melengkapi, sebagai komplemen satu sama lain. Ketika kita bekerja, bermain, belajar, maupun beraktivitas, kedua aspek itu semestinya saling berhubungan agar diperoleh hasil terbaik. Begitu pula ketika kita ingin mengubah perilaku negatif menjadi positif. Jika keduanya tidak sinkron, belum ‘nyambung’ maka perubahan tidak terjadi.

Nah, ketika situasinya mulai genting, mendekati krisis, mulailah kita gelisah dan galau. Kita mulai lebih serius memikirkan perubahan. Tapi sebenarnya ada cara lain yang mampu menggerakkan kita agar berubah, yakni dengan memikirkan dampak, akibat, maupun konsekuensi dari sikap dan tindakan kita selama ini.

Sebagai contoh, kita tahu bahwa meneguk minuman keras dalam jumlah relatif banyak mendorong kita untuk bersikap agresif. Kita jadi gampang marah, tidak toleran terhadap orang lain, sensitif bila ada teman yang salah ucap, dan bahkan memakai kekerasan. Nah, pikirkanlah apabila semua itu terjadi dan Anda menjadi sasaran kekerasan. Menyedihkan,  bukan?

Saking sibuknya, kita mungkin lupa membuat kesepakatan dengan diri sendiri bahwa kita akan memberi perhatian terhadap perasaan itu. Apabila di lain waktu, perasaan itu muncul kembali, maka cukup adil bila kamu merespons dengan cara masa lampau, sebab manusia bukan apa-apa bila tidak konsisten. Manakala perasaan itu muncul, kita katakan saja kepada diri sendiri: “Saya tidak akan melakukan ini lagi.”

Berubah sebaiknya ditautkan dengan pikiran tentang konsekuensi dari tindakan kita, yang berarti berpikir tentang orang lain—berempati. Bagaimana kita mentautkan pikiran dan hati? Bukankah kita sering merasa kurang bersemangat, malas, menunda-nunda, enggan, dan sebagainya? Sejumlah psikolog menawarkan jalan keluarnya.

Agar benak mampu berpikir dengan baik, hindarilah berbicara negatif dengan diri sendiri. Dorong diri kita agar bersikap positif, menjaga pikiran tetap jernih. Penting untuk menaklukkan rasa takut, karena rasa takut itu racun yang menciutkan nyali kita. Hadapilah ketakutan, tundukkan, dan halau dari hidup kita. Hati-hati dalam menyaring informasi, hindari informasi yang mencemari pikiran kita.

Tak kalah penting ialah usahakan untuk berada di antara orang-orang yang berpikir dan bertindak positif. Orang-orang yang berhasil biasanya memiliki lingkaran dalam yang memberdayakan (empowering) mereka, menginspirasi mereka, mendukung pengembangan karakter positif mereka, memberi dorongan dalam menang dan kalah ataupun senang dan susah, serta mengingatkan siapa diri mereka sebenarnya; serta apa tujuan hidup mereka.

Lantas bagaimana dengan hati kita? Ini kaitannya dengan perasaan, emosi, naluri, hingga intuisi. Komitmen merupakan fondasi yang penting agar kita tetap bersemangat kendati menghadapi tantangan yang berat. Berdoa juga penting agar hati kita tenang. Berdoa di tempat yang tenang dan sunyi dapat membangkitkan semangat kita. Tidak ada yang mampu menggantikan kekuatan doa.

Berikutnya, kita perlu bersyukur. Ini berarti mengisi hati dengan rasa terima kasih, dan ini membuat kita bertambah kuat. Banyak kebahagiaan kecil yang sering kita lupakan, padahal mengandung semangat yang luar biasa. Kita dapat mencatat apa saja yang membuat kita bersyukur pada hari ini dan ini dapat menjadi motivator yang luar biasa agar kita berubah.

Pendeknya, amat penting untuk mengetahui dan mempraktikkan cara memperpendek jarak antara otak/benak dengan hati agar kita termotivasi untuk berubah dan bergerak. (sumber ilustrasi: interinclusion.org) **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua