Islam Dalam Telikung Kolonial - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Islam Dalam Telikung Kolonial

    Islam memiliki nasib yang simpang siur dalam eksistensi kebudayaan Indonesia.

    Dibaca : 3.099 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Islam memiliki nasib yang simpang siur dalam eksistensi kebudayaan Indonesia. Retaknya dominasi pengaruh Islam dalam kebudayaan masyarakat dimulai ketika bangsa Barat mulai menguasai Indonesia. Terutama peran pemerintahan Koloni Belanda yang mulai menerapkan politik pecah belah (Devide et Impera) yang bertujuan menjauhkan bangsa Indonesia dari persatuan, solidaritas dan toleransi.

    Puncaknya dimana Belanda mengutus Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye untuk mempelajari Islam di Makkah. Maka saling berbenturanlah masyarakat Islam Indonesia dalam pelbagai tafsir agama, budaya dan kepentingan. Belanda juga berhasil dalam mendogma-hasut keliru makna haji. Mereduksinya menjadi sekadar tujuan pencapain hiraki sosial. Bukan lagi ibadah yang murni. Menggunakan gelar Haji di muka nama adalah indikasi kebanalan yang diciptakan.

    Persenyawaan Islam dalam kebudayaan semakin merenggang. Proses alkuturasi dirasuki kepentingan politik kolonial. Islam lantas digerakkan sebagai model yang bingung pada arah nilai dan menjadi inferior. Pereduksian nilai-nilai Islam sebagai induk kebudayaan pun memeperlemah kuda-kuda keimanan atas nilai-nilai esoterik dan bahkan universal.

    Pragmatisme adalah laku yang paling mencolok dalam perubahan sistem nilai masyarakat pasca-kolonial. Laku korupsi para pengelola negara adalah satu bukti. Agama Islam yang dianut secara mayoritas tak mampu membendung hasrat para koruptor. Laku pragmatisme, feodalisme terus berlangsung dalam sistem birokrasi sebagai sebuah warisan prilaku koloni Belanda.

    Raffles dalam bukunya History of Java bercerita tentang prilaku korup para pengelola Koloni Hindia Belanda itu. Kerugian negara tidak saja diakibatkan oleh perang, tetapi juga prilaku korup para pejabatnya. Para pejabat dari kalangan pribumi tidak kalah sesatnya dalam moral. Mereka berprilaku sebagai benalu dan bermuka dua demi kepentingan sendiri.

    Peta Islam Kini

    Bukan saja Belanda yang melakukan petak-umpet kepentingan politik dengan mengebiri nilai-nilai Islam secara utuh dan membangun kebudayaan. Kekuatan Barat di bawah penguasaan Amerika menelusup melalui kekuatan ekonomi dan ideologi budaya sebagai pembentukkan tergantungan Indonesia pasca Perang Dunia Kedua. Melaui penerapan politik oceania (perdagangan) –mereka mengepung negara-negara Dunia Ketiga dan menciptakan sistem dagang yang harus dikuti.

    Teror ideologi juga ditebarkan kalangan barat terhadap Dunia Timur. Terutama pasca kekalahan komunisme dekade 1980-an yang lalu. Tiba-tiba saja Indonesia dilanda wabah aksi terorisme dari kalangan yang disebut sebagai kaum fundamentalis Muslim. Terutama pada awal abad 21 ini. Islam menjadi sesuatu yang mengerikan untuk dihadapi dan dimengerti sebagai nilai-nilai yang mampu mencegah kerusakkan.

     

    Akibatnya Islam melangkah gagap dan tak percaya diri pada persimpangan tafsir yang dikotomi. Pertarungan sikap dan ideologis mewarnai Islam garis Barat dan Islam garis Timur. Islam garis keras dan Islam garis lunak. Toleransi Islam yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam pemerintahan Madinah pun simpang siur dalam tafsir tak selesai.

    Kegagapan itu kemudian juga memperlemah nilai-nilai yang dibawa Islam. Sebagian ulamanya terjangkit hedonia dan ketularan virus mata duitan serta selebritas. Gus Mus dalam cerpennya Amplop-Amplop Abu-Abu pun berkisah apik tentang kisah Kyai yang selalu menerima dan mengaharap ‘amplop’. Tetapi, akhirnya amplop itu berubah isinya menjadi surat kritik yang memintanya intropeksi diri sebelum menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.

    Islam dalam kebudayaan masyarakat hanya menjadi simbol-simbol identitas. Masjid-masjid megah bertebaran di seantero negeri, jilbab banyak dikenakan para kaum perempuan. Pengajian dari para ustad top terus hadir dalam format TV tetapi sementara itu juga budaya korupsi dan kriminalitas terus menjamur dan berakar kuat dalam masyarakat.

    Islam tak berdaya dalam kontelasi politik dan budaya internasional. Rapuh dalam membentengi dan gagal berperan dalam menjaga kebudayaan Indonesia. Dalam hal ini, Islam menjadi asing dalam prilaku dan tak lagi memberi sumber inspirasi sebagai salah satu kekuatan bangsa.

    Pada budaya politik, Islam dikenakan sebagai topeng artificial semata. Politisi tiba-tiba sangat saleh saat menjelang pemilu, dermawan memberi senyum dan mengisi penuh pundi-pundi para pemilik kekuasaan agama. Sementara rakyat hanya dibuai dengan pencitraan-pencitraan yang dihadirkan sebagaimana iklan produk rumahan.

    Fenomena atas kesimpangsiuran eksistensi Islam sebagai salah satu sumber kebudayaan Indonesia –sepertinya tak disadari. Bahwa akar masalahnya bemula dari penelikungan nilai-nilai Islam oleh kekuatan imperalisme dan kapitalisme. Dan sepertinya, itulah yang diinginkan kaum penjajah.**

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.