PRT sebagai Penyambung Kehidupan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Keberadaan PRT sangat membantu kelangsungkan hidup keluarga-keluarga tempat dia bekerja. Aku bersyukur dan beruntung akan kehadiran PRT.

Saat sedang chat melalui wa, adikku bercerita tentang anak semata wayangnya. Rupanya dia sedang mendamping anaknya ulangan, nah mereka berlatih soal-soal pelajaran agama. Sampailah pada satu pertanyaan: Sebutkan 4 orang yang ikut dalam perkembanganmu. Dan jawaban si bocah, “ Mama, Papa, Bude, Bibik.”. Wah......senangnya hatiku ada namaku disebut! Hehehe...boleh dong ge-er dan kegirangan ada sosok diriku dalam hari-harinya, dimana kami dekat baik dari jarak maupun hubungan emosional. Tapi, tulisanku kali ini tidak akan menceritakan kedekatan kami, melainkan membahas jawaban Bibik yang termasuk berjasa dalam proses tumbuh kembang keponakan tersayangku.

Keluarga-keluarga kecil kami dibangun dengan dasar kemandirian. Setelah kami menikah, orang tua mempersiapkan kami untuk lepas dari rumah inti dan memberikan kesempatan untuk tinggal dekat dengan lingkungan pekerjaan kami masing-masing. Momen yang mendebarkan sekaligus membahagiakan adalah saat kehamilan dan mempunyai anak. Sebagai ibu yang bekerja, 9 bulan bukan hanya masa mempersiapkan kehadiran buah hati tapi juga berpikir jauh,.......kalau anak ini lahir dan aku masih bekerja, terus anak ini sama siapa, secara jarak jauh dengan para eyangnya. Duh....rasa mulas, keringetan, capek (termasuk rasa bahagia lho) di masa-masa mengandung, ketambahan pikiran paska kelahiran itu.

Sebagai penganut “yakin ada jalanNya”, terus berproses, aku pun tidak terlalu memikirkan hal itu, dinikmati saja. Walau, cari-cari info juga tentang pengasuh atau mbak yang bisa kerja di rumah, bahkan daycare yang mungkin ada di sekitar rumah dan kantor juga dihunting. Beruntung, tempat kerjaku mempunyai kebijakan cuti 3 bulan, ini sangat melegakan karena bisa menunggui si kecil sampai usia tersebut. Kehidupan masih datar-datar saja, belum ada gejolak. Hari-hari dijalani bertiga, ya sekali waktu para eyang menengok walau tidak terlalu lama waktunya. Mari menimang buah hati.

Menjelang berakhir masa cuti, makin intenslah proses mencari info PRT yang bisa menemani anak dirumah selama kami bekerja. Daycare, tidak menjadi prioritas karena mahal dan terletak di tengah kota, padahal tempat kerjaku dan rumahku malah di seputar pinggiran Jakarta. Setiap ada info, segera ditelusuri dan didekati. Seperti mencari pegawai baru, ada proses tanya jawab di awal, terutama untuk mengetahui latar belakang dan pengalaman mbak atau ibu yang mau kerja disini. Soal berberes rumah itu hal yang kesekian, yang utama adalah menjaga dan mengasuh anak ini. Bersyukur dan terus bersyukur, kami punya PRT yang siap bekerja sehingga pas saat masuk kantor, urusan di rumah bisa dibantu berkat PRT.  

Wuih...mulus ya soal mencari PRT, ya gak juga bro. Liku-liku juga ceritanya. Masuklah pada hari raya, dimana PRT bersiap pulang ke rumahnya. Janji akan balik, tentu disambut dengan senang hati, apa daya, janji tinggal janji. Kini, masuk babak yang sama seperti di awal, mencari PRT lagi. Aku selalu bilang pada teman-temanku yang PRTnya loyal, balik lagi setelah libur hari raya, beruntung dan bersyukur!

Sebagian anak-anak hidup dan besar dari pengasuhan keluarga yang dibantu tenaga-tenaga lainnya. Baik diasuh keluarga besarnya seperti bude/tante/eyang/ atau saudara lainnya maupun yang menggunakan jasa PRT, bagi yang berekonomi mampu, sebutannya lebih spesifik babysitter/ nanny. Keluarga-keluarga sangat terbantu oleh PRT karena dapat jadi penyeimbang kehidupan di tempat kerja dan rumah. Bayangkan, kalau keluarga, terlebih yang sosok ibunya juga bekerja tidak memiliki PRT. Bisa-bisa kerjaan di kantor tidak selesai karena ijin dan ijin terus. Lagi-lagi beruntung dan bersyukur, kalau kantornya fleksibel, bisa membawa anak, jadi sambil bekerja ya mengasuh anak. Saya termasuk kelompok beruntung dan bersyukur itu. Tatkala dirumah tidak punya PRT, pagi-pagi sudah seperti rombongan sirkus kita.....memboyong anak ke kantor, begitupun saat pulang. Jangan hanya membayangkan saja, tetapi juga mari berhitung pembiayaan dengan proses begitu.

Jadi, benarlah kiranya jawaban keponakan itu, bahwa dia merasa sosok Ibu Yah, PRT dirumahnya menjadi orang yang berperan dalam proses tumbuh kembangnya. Bagaimana tidak, pagi-pagi ibu dan ayahnya berangkat bekerja, baru berjumpa di malam hari. Syukur-syukur kalau tidak lembur, kalau lembur, kekuatan doa orangtuanya selalu menyertai dan pengasuhan PRTnya yang sangat membantu mereka. Lagi-lagi, bersyukur dan beruntung mempunyai PRT. 

Kami yang terbantu oleh keberadaan PRT merasa, inilah hidup, ada tenggang rasa dan respek yang harus dijaga. Tidak merendahkan posisi PRT, karena bukan soal atas bawah keberadaan mereka. Mereka bekerja, sama seperti kita, hanya bidang pekerjaan saja yang berbeda. Toh, tujuan kita bekerja adalah mencari nafkah, menghidupi keluarga, mengangkat harkat dan martabat keluarga dan juga berharap respek karena kita menyelesaikan tugas-tugas. Coba, kalau bos kita cuek pada keberhasilan kita menyelesaikan target atau sukses memberi keuntungan pada perusahaan, kita merasa gak dihargai kan? Sama lho, perasaan PRT-PRT kita. mereka juga berharap respek kita karena mereka mampu mengerjakan perannya dirumah-rumah kita.

Kamu kerja mencari gaji berapa? Dengan kualitas dan jenjang pendidikanmu, kira-kira dapat bayar berapa? Profesional dong, bayaran sesuai kemampuan kita. Sama, persis dengan yang dirasakan PRT. Kalau PRT sudah punya pengalaman kerja dan hasil kerjanya baik, juga kepengen donk dapat honor yang baik, bukan sekedarnya. Kalau dia bisa merawat anak kita, mengerjakan tugas dirumah sampai rampung, pantas donk dapat honor tepat waktu, gak dilelet-leletin atau dilupakan tanggal gajiannya.

Memang ada juga hubungan PRT dan pemberi kerjanya yang sudah lebih baik, ada kesepakatan yang jelas di awal, bahkan diikat dengan kontrak. Hak-hak PRT terpenuhi, pemberi kerja memberikan dengan layak dan mampu menjadi pekeraan yang layak bari PRT. Tapi, belum semua PRT merasakan hubungan kerja seperti itu. Paska 7 tahun hadirnya Konvensi ILO No, 189 tentang Perlindungan PRT, Indonesia masuh dalam taraf pembahasan terus, aksi nyata belum terasa. Berbagai upaya diperjuangkan oleh banyak pihak, termasuk para PRT sendiri sekarang ikut berjuang untuk memastikan adanya perlindungan PRT.

Maafkan kami, Ibu Yah, Ibu Sutirah, Peni, Yuli, Sri, Ibu Sarni, dan mba-mba PRT lainnya, perjuangan untuk mendesakkan perlindungan untukmu dan kawan-kawan belum berhasil. Rupanya kita masih ditantang untuk menjebol tembok yang tebal untuk meyakinkan bahwa keberadaanmu bukan kodrat tetapi sebuah niatan untuk bekerja dengan layak dan harus dilindungi. Terima kasih sudah berada di rumah-rumah kami dan memberi “kehidupan” yang sungguh hidup pada anak-anak, lansia, dan keluarga kami.

Selamat Hari PRT Internasional 2017, perjuangan belum berakhir!

Malang, 16 Juni 2017

Beti. MC (pengguna PRT, yang beruntung dan bersyukur akan keberadaan PRT)

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua