x

Iklan

aisyah azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Shiddiq, Sudahkah?

Salah satu cara sukses berbisnis dengan menerapkan anjuran Rasulullah menggunakan Kejujuran

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bismillahirrohmanirrohim,,,,,

Taukah kalian wahai muslimin dan muslimat,,,,???

Dalam syari’at islam, kekayaan di anggap sangat penting...! taukah kenapa???

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 Agar umat islam bisa menjalankan ketentuan- ketentuan Allah SWT dan menjalankan syariat islam .Paling tidak, terdapat dua rukun islam yang mensyaratkan kemampuan atau kekayaan  yang cukup, yaitu melaksanakan kewajiban zakat dan haji. Banyak kasus orang islam yang pindah agama hanya karena alasan satu paket sembako. Oleh karena itu, kita sebagai umat islam harus merubah mindset bahwa orang islam identik dengan kemiskinan dan tidak layak menjadi orang kaya. Agama kita yang tercinta ini sudah lebih dulu mengajarkan agar setiap muslim bekerja keras untuk meraih kejayaan di dunia untuk menjembatani kehidupan akhirat. Mari kita coba rubah pola pikir tentang orang kaya yang kikir, orang kaya yang sombong, orang kaya yang sering mengabaikan orang miskin. Kita rubah pemikiran tersebut mejadi orang kaya muslim yang sering membantu saudara yang sedang kesulitan, orang kaya muslim yang bisa memuliakan anak yatim, orang kaya muslim yang bisa memberi lapangan pekerjaan untuk orang- orang yang membutuhkan. Alangkah indahnya pemikiran yang demikian, dan alangkah lebih indahnya jika itu di aplikasikan dalam kehidupan sehari- hari.

Selain itu, salah satu motivasi yang di ajarkan dalam islam adalah semangat untuk beribadah dan bekerja keras untuk mencari rezeki, entah sebagai wirausahawan, petani, ataupun pejabat negara, apapun itu profesinya. Agar kita menjadi wirausahawan yang berkualitas, petani yang berkualitas, kita harus mencontoh akhlak mulia Rosulullah,  Salah satu sifat yang harus ditanamkan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam berbisnis adalah sifat shiddiq atau yang sering kita kenal dengan istilah jujur.

apa sih jujur itu?jujur adalah mengatakan sesuatu dengan sebenar- benarnya. Definisi lain dari kejujuran adalah berkata atau berbuat sesuatu dengan sebebar –benarnya, tidak ada unsur kebohongan atau manipulasi di dalamnya. Islam menjunjung tinggi nilai kejujuran. Jujur adalah akar dari sebuah kesuksesan sebuah bisnis yang kita jalani. Sebagai seorang muslim kita harus membudayakan sifat jujur mulai sejak dini, mulai dari hal terkecil sampai hal yang sangat urgent sekali pun. Seharusnya kita menjadi pebisnis muslim yang mempunyai hati yang ‘’hidup’’ sehingga bisa menjaga hak allah, menjaga hak orang lain, dan haknya sendiri dengan megaplikasikan sifat jujur.

Kejujuran yang hakiki terletak pada muamalah mereka (HR. Muslim). Salah satu cara untuk mengetahui orang yang kita kenal adalah orang jujur atau tidak adalah  dengan mengajaknya berbisnis, karena dengan  berbisinis sifat- sifat asli orang tersebut akan terlihat. Mulai dari kejujuran mengenai sistem berbisnis, godaan untuk memperoleh laba dapat membuatnya terlena, sampai pada menghalalkan segala cara agar mendapatkan keuntungan yang lebih. Kita sebagai umat muslim harus mengakui bahwa dalam mengaplikasikan sifat jujur sangat mudah akan tetapi ketika dalam keadaan di uji hal tersebut sangat sulit untuk di aplikasikan. Contoh ketika seseorang yang ingin menjual laptop second, ia sangat membutuhkan uang untuk biaya berobat anaknya, sehingga dalam bertransaksi ia tidak menjelaskan bahwa barang yang di jual tersebut terdapat cacat yang menyebabkan pembeli merugi. Keadaan inilah yang menyebabkan penjual laptop tersebut tidak berperilaku jujur. Dalam keadaan apapun sebaiknya kita berperilaku jujur, karena dengan sifat jujur, keberkahan akan menghampiri kita. Dan kebaikan- kebaikan lain akan mengikuti dengan sendirinya. Dengan sifat jujur, sifat- sifat baik lainya akan muncul. Seperti sifat amanah, di percaya orang lain, tidak sombong, rendah hati dan lai- lain.

            Karena itulah Rosulullah SAW, mewanti- wanti agar umatnya yang menekuni profesi bisnis tidak celaka, denga berpesan sebagai berikut :

  1. Penjual dan pembeli masih mempunyai hak khiyar (hak memilih) sebelum keduanya berpisah. Jika keduanya beperilaku jujur dan terus terang. Maka transaksi keduanya akan berkah. Jika keduanya berlaku dusta dan menutup- nutupi, mungkin saja mereka berdua mendapatkan laba, tetapi jual beli mereka kehilangan berkah (HR. Muslim).
  2. Rosulullah mengidentikkan ketidak jujuran dengan kemunafikan, yang tanda- tandanya adalah jika bicara dia selalu dusta ; jika berjanji ia selalu ingkar; dan jika dia diberi amanah dia akan berkhianat (HR. Bukhori).
  3. Sumpah palsu dapat melariskan barang dagangannya, tetapi menghancurkan mata pencahariannya (HR. Bukhori).

 

Begitulah pesan Rosulullah, dalam bermuamalah sifat jujur sangat di tekankan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Mengapa demikian? Ketika kita sebagai pedagang atau pebisnis mempunyai sifat jujur dengan berjalannya waktu para pelanggan akan dengan sendirinya memberi kepercayaan yang lebih, kepercayaan tersebut tidak sebatas penjual dan pembeli akan tetapi akan menjadi awal terbentuknya hubungan baik dengan menumbuhkan asas kekeluargaan. Sifat- sifat baik tersebut suatu saat nanti pasti kembalinya kepada orang yang mengimplemantasikannya.Akan tetapi pada zaman seperti ini se akan – akan islam mulai krisis atau kehilangan orang- orang jujur. sifat jujur yang di ajarkan Rosulullah tidak lagi  menjadi contoh bagi  orang- orang yang gelap mata dalam berbisnis, mereka menghalalkan segala cara agar mendapatkan keuntungan yang lebih dengan cara yang instan dengan modal yang minim akan tetapi mendapatkan hasil yang memuaskan. Seharusnya tidak ada pihak yang perlu di salahkan dalam hal ini, ketika jujur tidak lagi di identikkan dengan orang islam. Marilah menjadi agen perubahan untuk tetap shiddiq dalam keadaan apapun. Apapun profesi kita, bagaimanapun bentuk tubuh kita, dan sebanyak apapun harta kita.

 

Terimaksih,,,,,, semoga bermanfaat

 

 

Daftar pustaka

Bakhri, Mokh Syaiful. Sukses Berbisnis ala Rosulullah SAW. Jakarta : Erlangga.

Hasan, Ali. 2009. Manajemen Bisnis Syari’ah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Izzan, Ahmad. Syahri tanjung. 2006. Referensi Ekonomi Syariah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nuruddin, Amiur.2010. Dari Mana Sumber Hartamu?. Jakarta : Erlangga.

Yunus, Muh. 2008. Islam Dan Kewirausahaan Inovatif. Malang: UIN-Malang Press.

Ikuti tulisan menarik aisyah azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler