x

Iklan

Zulkifli Fajri Ramadan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Millennial Muslim Progresif

Membicarakan mengenai millennial muslim indonesia yang mesti bergerak progresif yang bersifat profetis.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kemajuan teknologi dan informasi menjadikan segala hal mudah diakses. Bermacam kemudahan itu bisa didapatkan oleh siapa saja yang menggaulinya. Akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan terminologi yang berkaitan dengan bermacam kemajuan teknologi informasi tersebut. Terminologi itu menjadi hal yang lumrah ketika diselipkan di tengah dialog antar manusia saat ini. Hal itu pula sangat berkaitan erat dengan kaum muda yang sering kita dengar dengan istilah generasi millennial.

Terminologi millennial diciptakan oleh penulis dan pakar sejarah asal Amerika, William Stauruss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Generasi ini juga dikenal dengan generasi Y, yang mana mereka merupakan manusia yang lahir pada kurun waktu 1980-1990, atau pada awal 2000 dan seterusnya. Menurut Pusat Data Republika tahun 2016, 80 juta millennial lahir pada tahun 1976-2001, dan kaum ini rata-rata mengalihkan perhatiannya dari bermacam gawai, seperti smartphone, tablet, televisi, dan PC 27 kali setiap jamnya. Angka ini meningkat dari generasi sebelumnya.

Dalam urusan bekerja, kaum millennial lebih mementingkan makna ketimbang gaji yang besar. Kaum ini pula mampu menghabiskan sekitar 18 jam waktunya untuk menikmati layanan tontonan on demand, seperti bermain game dan menonton televisi. Dari sana kita bisa melihat bahwa generasi ini hidup diantara dua dunia: kemudahan yang menjadikannya giat atau bermalas-malas; di sisi lain muncul tantangan yang membentuknya mejadi seorang yang peka terhadap realita sosial disekitarnya.

Dalam kemudahan sekaligus tantangan tersebut, generasi millennial semestinya bisa memposisikan dirinya sebagai generasi yang mampu menciptakan gerakan kolektif. Kita lihat, akhir-akhir ini masyarakat dunia kembali dihebohkan dengan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Rohingya di Myanmar, atau pun dengan beberapa kasus terorisme-intoleransi yang belum terselesaikan hingga akar-akarnya. Selain itu, permasalahan kemiskinan, lingkungan hidup dan ketimpangan sosial lainnya masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kita lihat, pada tahun 2016 saja, menurut Jayadi Damanik yang merupakan Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Komnas HAM, kasus intoleransi di Indonesia mencapai hampir 100 kasus (Kompas.com, 5/1/2017). Ini sangat menghawatirkan jika pada tahun 2017 dan 2018 mendatang kasus intoleransi kembali meningkat seperti tahun sebelumnya. Pun dengan data kemiskinan; menurut BPS (Badan Pusat Statistik), pada maret 2017 saja jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang yang merupakan 10,64 persen dari total penduduk (Tempo.co, 17/7/2017).

Kaum muda muslim Indonesia—yang merupakan penduduk mayoritas di negeri ini—semsetinya memiliki suatu formula untuk membebaskan segala macam penidasan tersebut tanpa pandang bulu. Perhatikan apa yang dikatakan Murthada Muthahhari dalam Tafsir Surat-surat Pilihan, bahwa Islam mengajak manusia atas dasar kemanusiaannya, bukan mereka orang-orang miskin, atau orang-orang kulit berwarna, dan sebagainya. Ia mengundang manusia atas dasar kemuliaan manusia, bukan atas dasar kebanggaan nasional atau rasial, atau demi kepentingan-kepentingan material. Dengan kata lain, manusia yang menginginkan keadilan diseru, bukan karena kepentingan-kepentingan dibela dengan seruan keadilan itu, tetapi karena keadilan memang merupakan nilai kemanusiaan (Murtadha, 1991:129). Jelas apa yang dikatan Muthahhari tersebut; diantara kemajuan zaman yang terus bergerak, seorang muslim dituntut juga bergerak menjawab tantangan zamannya demi keberlangsungan peradaban dengan upaya Ijtihad progresif tanpa memandang latar belakang.

Dengan kemajuan zaman yang terus melesat, pun menurut Al-Jabiri seorang muslim mesti memiliki perangkat pembacaan ralita atas dasar komposisi teks dan konteks nalar kritis. Al-Jabiri menawarkan beberapa metode untuk melahirkan formula-formula penawar penyakit peradaban tersebut. Metode itu diantaranya adalah Bayani yang merupakan perangkat intelektual untuk membaca teks secara jelas, dan juga Burhani yang merupakan perangkat pembaca konteks atau realita yang ada dengan tak meninggalkan karunia Tuhan berupa akal pikiran atau nalar kritis.

Membaca Zaman

Ketika menyinggung apa yang ditawarkan oleh Al-Jabiri, generasi millennial muslim mestilah cakap membaca apa yang telah tertulis dalam teks-teks agamanya semacam Al-Qur’an dan Hadits. sebab dalam teks tersebut tertuang wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi sebagai obat penyakit sosial yang ada di sekitar kehidupan Nabi. Ketika usai membaca apa yang tertuang dalam teks tersebut, seorang millennial muslim mesti pula mampu membaca realita yang ada di sekitarnya tanpa mengkhianati karunia Tuhan berupa akal pikiran. Hingga ketika ia menggabungkan metode membaca teks dan konteks atas dasar nalar kritis yang kuat, ia menemukan jawaban atas keresahan yang ada, dengan melahirkan suatu formula atau wacana tanding yang kuat.

Kemiskinan yang merajalela, isu toleransi yang belum seutuhnya hilang, juga eksploitasi alam yang kian menjamur, semestinya menjadi objek garapan utama para millennial muslim atas dasar ekspresi jiwa kemanusiaan berketuhanan. Sebab dengan perangkat yang ada, millennial muslim mampu terhubung dengan berbagai sumber teks dan konteks yang berserakan di dunia maya, juga koneksi manusia di dunia nyata. Namun ada syarat lain yang mesti mereka perhatikan; mereka mesti memiliki daya tabbayun tinggi untuk mencerna bermacam sumber yang ada.

Muslim millennial semestinya sudah menjadi generasi yang bersifat kosmopolitan. Sebab, gerakan beramal shalih yang dituangkan pada aksi sosial menjadi lebih mudah dan luas karena dunia terasa semakin datar sebab derasnya arus teknologi informasi. Nilai-nilai kemanusiaan  mesti dimiliki oleh seorang millennial muslim, sebab jika ia mengaku umat Nabi Muhammad, ia akan cacat moral tatkala ia tak bergerak untuk menolong tetangganya yang kelaparan dan kesusahan untuk sekolah. Millennial muslim semestinya pula menjadi seorang insan yang progresif; sebab ditanganyalah sebagian kemudi peradaban dipegang. Para orang tua akan meninggalkan dunia dengan artefak-artefak masa lalunya, millennial muslim progresif mesti cerdas meramu dan merangkai puzzle artefak itu untuk dijadikan—yang menurut Foucault—episteme-episteme peradaban.

Ikuti tulisan menarik Zulkifli Fajri Ramadan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler