Hai Bangsa, Harap Tenang

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Zaman now, susah banget diajak tenang. Maunya cari kesalahan orang saja. Belajarlah untuk tenang

Kamu bisa tenang gak?

Tenang, di zaman now, bisa jadi barang langka. Mudah diucapkan. Tapi sulit dilakukan bahkan dirasakan. Karena zaman now, banyak yang sudah tidak tenang. Gaduh, berisik lalu gelisah. Tak lagi tenang.

 

Tenang. Bisa jadi, makin sulit digapai. Apalagi di musim politik kayak gini. Musimnya mencari kesalahan, mengoyak kelemahan lawan. Musimnya celetukan, ocehan sebagai ekspresi kegundahan. Bela sana bela sini. Kayak prajurit pangkat kopral. Tapi sayang, takut mati. Mau sampe kapan? Gak ada abis-abisnya. Kebanyakan nonton sinetron bersambung kali ya. Wajar, tenang jadi makin susah dicari, ditemukan. Hai bangsa, harap tenang.

 

Tenang ya tenang.

Sebagian orang cari tenang terpaksa “pergi jauh” ke tempat yang sepi. Menyendiri, menyingkir. Atau refreshing istilah kerennya.

Ada juga sebagian yang lain, cari tenang dengan menyendiri. Gak mau ngobrol, gak mau nonton TV. Senengnya di tempat gelap, biar tenang katanya. 

 

Kalo dicermati. Emang fakta sih, makin banyak orang gak tenang. Gerabak-gerubuk. Penyakitnya otomatis kambuh kalo orang yang gak disenanginya “berhasil” atau bikin gebrakan. Presiden jadi imam nyolot. Dapat penghargaan menteri terbaik sedunia nyolot. Gak bisa tenang atau gak boleh orang lain senang sih?

 

Tenang aja. Tenanglah. 

Tenang itu sikap tuk membuang emosi. Tapi tenang juga bukan berarti lamban. Tenang tapi tetap gesit dan bekerja. Karena tenang itu lebih hebat dari cuma sekedar kata-kata. Apalagi celotehan.

 

Tenang itu soal sikap. Tenang pun gak ada hubungan dengan menang atau kalah. Buat apa berisik biar dibilang menang. Siapa juga orang yang tenang selalu kalah.

Kalo baca kisah Perang Bubat. Gajah Mada itu menang. Tapi pasca kemenangan itu, Gajah Mada malah jadi orang yang terkucil. Hayam Wuruk pun ditinggal oleh Puteri Sunda Dyah Pitaloka, yang ternyata sangat dia cintai dan kagumi. Sejak itu, Majapahit justru makin hancur bahkan runtuh. Ini bukti, bahwa kemenangan gak selalu bikin orang hebat dan bahagia.

 

Tenang itu penting. Karena hidup  bukan soal menang kalah. Tapi hidup “wadah” agar bisa bertanggung jawab, bertahan dalam kesulitan, dan berusaha bangkit dari kejatuhan. Benci, marah itu manusiawi. Tapi di saat yang sama, sikap tenang dan mau menerima realitas juga perlu. Hai bangsa, harap tenanglah.

 

 

Jadi, tenang saja. Gak usah gerabak-gerubuk.

Allah udah tahu kok “siapa kita sebenanrnya?”. Tenang emang gak bisa ditulis dengan kata-kata. Tapi bisa dirasakan. Oleh siapapun.

 

Lalu, kenapa bisa gak tenang?

Karena kita lebih senang gelut dengan ego dan cinta dunia. Sehingga sudi membuang energi untuk hal yang gak perlu. Kita lupa, semua yang ada di dunia ini “hanya sandiwara”. Tak lebih tak kurang. Karena nanti, sandiwara itu pun berakhir.

 

Okehh. Harap TENANG. Allah tahu kok, siapa kita ini sebenarnya…. Hai bangsa, harap tenang ya... ciamikk

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Syarif Yunus

Pemerhati pendidikan dan pekerja sosial yang apa adanya

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler