x

Iklan

Kadir Ruslan

Civil Servant. Area of expertise: statistics and econometrics. Interested in socio-economic issues. kadirsst@gmail.com.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menyikapi Menjamurnya Hasil Survei di Tahun Politik

Galibnya, masyarakat tidak boleh percaya begitu saja dan menelan bulat-bulat hasil sebuah survei. Sikap kritis harus dikedepankan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sepanjang 2018-2019 kita bakal disuguhi berbagai macam hasil survei yang memotret sejumlah hal terkait perhelatan pemilihan kepala daerah serta pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Hasil survei tersebut umumnya memotret popularitas atau tingkat keterpilihan (elektebilitas) seorang tokoh atau partai politik. Bisa pula terkait kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.

Pertanyaannya adalah apakah berbagai hasil survei tersebut dapat dipercaya begitu saja sebagai suatu kebenaran yang memotret realitas yang tengah terjadi di masyarakat, lalu ditelan bulat-bulat tanpa mempertanyakan ihwal akurasinya?

Urgensi survei

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kita kerap memiliki keterbatasan dalam menarik kesimpulan tentang populasi ketika jumlah elemen di dalam populasi cukup besar. Dalam ilmu statistik (statistika), kesimpulan ini memuat informasi spesifik tentang parameter populasi, berupa ukuran kuantitatif yang merangkum karakteristik semua elemen populasi.

Sebagai contoh, jika populasi kita adalah seluruh rumah tangga di Indonesia, yang jumlahnya lebih dari 60 juta, besarnya pengeluaran per bulan dan umur kepala rumah tangga adalah contoh karakteristik—yakni informasi yang melekat pada setiap rumah tangga—yang ingin diketahui.

Pada kasus di atas, parameter populasi merangkum informasi mengenai pengeluaran per bulan dan umur kepala rumah tangga dalam suatu ukuran kuantitatif, misalnya, rata-rata. Selain rata-rata, parameter juga dapat berupa total hasil penjumlahan dan proporsi elemen di dalam populasi dengan karakteristik tertentu, misalnya, proporsi rumah tangga dengan pengeluaran per bulan lebih kecil dari Rp1.000.000,-.

Dalam prakteknya, nilai parameter populasi hanya dapat diketahui dengan melakukan sensus. Saat sensus, semua elemen di dalam populasi diamati satu per satu untuk mengumpulkan informasi ihwal karakteristik yang ingin diketahui. Contoh sensus adalah Sensus Penduduk yang terakhir dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010  atau disingkat SP2010.

Pada pelaksanaan SP2010, populasi mencakup semua penduduk yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada saat sensus dilakukan. Dari SP2010 kemudian diperoleh sejumlah parameter populasi (penduduk Indonesia pada Mei 2010). Contoh paling sederhana adalah total jumlah penduduk Indonesia pada Mei 2010 yang kemudian dapat dirinci menurut jenis kelamin, umur, pendidikan yang ditamatkan, dan atau wilayah.

Kelebihan dari sensus adalah gambaran mengenai parameter yang dipotret sangat akurat karena semua elemen di dalam populasi diamati. Namun, harga yang harus dibayar acapkali sangat mahal. SP2010, misalnya, menghabiskan dana triliunan dan melibatkan sekitar 500 ribu orang petugas lapangan. Karena itu, sensus menjadi tidak efisien ketika jumlah elemen populasi cukup besar. Isu yang kerap muncul adalah keterbatasan waktu dan sumber daya (biaya dan tenaga).

Kekurangan sensus yang lain adalah kekayaan informasi yang dikumpulkan menjadi sangat terbatas. Keharusan mengamati semua elemen di dalam populasi mengakibatkan proses pencacahan berlangsung lama dan terbatasnya ragam informasi mengenai populasi yang bisa digali.

Untungnya, sejumlah kelemahan tersebut dapat diatasi oleh survei. Dalam sebuah survei, kita hanya perlu mengamati sebagian (kecil) elemen populasi untuk memperoleh gambaran mengenai parameter populasi yang ingin diketahui. Elemen populasi yang diamati ini disebut sampel, yang karakteristiknya -dengan teknik statistik tertentu- diupayakan bisa mewakili dan menggambarkan populasi secara keseluruhan. Karena itu, perkiraan nilai parameter populasi dapat diketahui tanpa harus melakukan sensus.

Nilai parameter populasi yang diperoleh dari data sampel pada prinsipnya hanyalah estimasi atau perkiraan, yang sudah pasti tidak akan sama persis dengan nilai aktual parameter populasi. Namun, untuk menjamin bahwa taksiran tersebut akurat atau mendekati nilai yang sebenarnya, sampel harus dipilih secara acak (random) dengan mengikuti kaidah statistika.

Butuh pengawasan

Secara umum, sampel dikatakan layak untuk merepresentasikan populasi jika didasarkan pada metode pencuplikan sampel berpeluang (probability sampling method). Dengan metode ini, ada jaminan bahwa setiap elemen populasi memiliki peluang untuk terpilih sebagai sampel. Pendek kata, sebuah survei harus betul-betul teruji secara ilmiah dalam memotret populasi.

Karena itu, setiap lembaga survei (politik) mesti transparan terkait teknik pemilihan sampel yang diterapkan. Dan, penilaian atas layak tidaknya hasil sebuah survei dibunyikan di ruang publik harus didasarkan pada metode pemilihan sampel yang diaplikasikan.

Celakanya, hasil survei, terutama yang menjadi sorotan media—meski didasarkan pada metode pemilihan sampel yang lemah (shaky method) bahkan keliru—memiliki magnitude yang sangat kuat dalam memengaruhi dan membentuk opini publik.

Galibnya, masyarakat tidak boleh percaya begitu saja dan menelan bulat-bulat hasil sebuah survei. Sikap kritis terhadap kesahihan dan keterandalan metodologinya mesti dikedepankan. Terkait hal ini, eksistensi sebuah institusi yang memiliki otoritas untuk memverifikasi kesahihan dan keterandalan metodologi sebuah survei menjadi sangat krusial. Lembaga tersebut dapat berasal dari kalangan akademisi/perguruan tinggi atau lembaga khusus yang dibentuk oleh pemerintah.

Selain aspek metodologi, independensi dan obyektivitas lembaga survei juga harus dijaga dan dikawal. Dengan demikian, hasil survei yang disajikan merupakan potret mengenai realitas, bukan informasi yang bias dan menyesatkan. (*)

Ikuti tulisan menarik Kadir Ruslan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB