x

Iklan

Muhammad Aliem

Pegawai BPS Kab.Barru
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jam Kerja yang Membunuh

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), besarnya rata-rata jam kerja seminggu pekerja di Indonesia pada Agustus 2017 adalah 43 jam.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Berita kematian seorang pekerja di Jepang yang disebabkan karena hanya memiliki dua hari libur dalam sebulan, masih menyisakan ribuan tanya di benak saya. Dia mungkin dalam keadaan terpaksa mengikuti regulasi di kantor tempatnya bekerja. Bayangkan saja, hanya dua hari libur dalam sebulan. Kejadian ini bukan yang pertama terjadi di dunia. Kemungkinan besar juga sudah terjadi di negara kita, namun tidak terpublikasi.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), besarnya rata-rata jam kerja seminggu pekerja di Indonesia pada Agustus 2017 adalah 43 jam. Angka ini tercatat lebih besar dibandingkan periode sebelumnya yang hanya mencapai 42 jam seminggu.

Entah siapa yang pertama kali menelurkan doktrin bahwa bekerja di hari libur dan menambah jam lembur di hari kerja adalah hal yang luar biasa dan patut untuk dicontoh. Doktrin ini memang sangat manjur untuk "memaksa" seorang pekerja yang tidak memiliki wewenang penuh dalam organisasi tempatnya mengabdi. Jika mengikuti perintah atasan dan ikut lembur, mereka akan dicap sebagai pekerja loyal dan menjadi teladan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada beberapa organisasi kerja, Loyalitas diukur dari keikutsertaan pekerja untuk tetap bekerja pada hari libur. Para pimpinan beranggapan bahwa penggunaan hari libur dapat berdampak positif  pada peningkatan hasil kerja. Doktrin bahwa pekerja yang tetap rajin bekerja di hari libur adalah orang yang berdedikasi tinggi, loyal, profesional, dan amanah.

Lalu, bagaimana dampak dari penggunaan hari libur  sebagai hari kerja? Apakah berdampak positif bagi peningkatan kinerja?

Kenyataannya, para pekerja yang sudah berkeluarga harus merelakan waktu mereka demi totalitas dalam pekerjaan. Butuh penelitian lebih lanjut, apakah lemahnya perhatian dari orang tua (ayah dan ibu) memberi dampak positif bagi peningkatan kriminalitas anak remaja. Pelaku begal yang sebagian besar masih usia sekolah, tawuran pelajar, pengguna narkoba, dan anak usia sekolah dasar yang mengisap lem adalah beberapa perilaku menyimpang yang patut dicugai sebagai dampak buruk kurangnya waktu orang tua bagi anak-anaknya. .

Selain dampak negatif bagi keluarga si pekerja, dampak lain yang terjadi adalah berkurangnya inovasi dalam bekerja. Pada akhirnya, kelebihan jam kerja akan berdampak negatif bagi suatu perusahaan. Kinerja malah menurun karena terciptanya rasa bosan. Kondisi ini dapat mengancam stabilitas perusahaan/organisasi kerja itu sendiri.

Bagi pekerja, kesehatan akan terganggu dan hanya menghabiskan waktu di ruang perawatan rumah sakit dan pada masa pemulihan. Bahkan, kelelahan karena bekerja terlalu keras akan berujung kematian. Jika sudah begini, si pekerja dan keluarganya akan menjadi korban dari buruknya sistem jam kerja.

Rutinitas yang tidak berjeda hanya menghilangkan kompetensi seorang pekerja. Tidak ada kesempatan dalam peningkatan kompetensi diri dan dapat menghilangkan inovasi.  Kata Inovasi hanya sebatas mimpi tanpa sebuah eksekusi.

Jumlah jam kerja tinggi tanpa diimbangi waktu rekreasi bisa memicu stres. Akibatnya,  terjadi penurunan kinerja dan fatalnya lagi bisa berdampak buruk bagi keharmonisan keluarga.

Sebuah tulisan berjudul "Apakah Anda Termasuk Seorang "Zombie Worker"?"  yang ditulis  Irwan Sutisna, layak mendapatkan perhatian. Pada artikel tersebut dibahas  negara  Skandinavia yaitu Swedia yang menurunkan jam kerja di negaranya menjadi enam jam dalam sehari. Sebuah hasil positif dihasilkan terhadap kinerja para pekerja. Waktu luang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan  kompetensi dan menciptakan inovasi bagi perusahaan tempatnya bekerja.

Kebijakan tersebut juga berdampak pada meningkatnya tingkat kebahagiaan masyarakat Swedia. Dengan perasaan bahagia, proses bisnis dapat berjalan dengan baik dan akan berdampak pada peningkatan kualitas hasil pekerjaan. Kinerja tinggi dan hasilnya berkualitas.

Tak ayal jika perusahaan seperti google memberikan kebebasan kepada pekerjanya. Ruangan kerja yang nyaman, waktu kerja yang tepat, tidak perlu bergadang, menjadi kunci keberhasilan perusahaan. Cara ini sangat jitu dalam melahirkan inovasi yang terbukti meningkatkan hasil penjualan perusahaan. Waktu istirahat yang cukup dan adanya kesempatan untuk rekreasi bersama keluarga dapat menambah gairah kerja. Keharmonisan keluarga dapat meningkatkan etos kerja. 

Kerja cerdas, tak sekadar kerja keras. Dan yang terpenting adalah adanya perhatian dari pihak  pimpinan kepada seluruh pekerja yang dibawahinya. Memanusiakan seorang manusia, mereka bukan robot yang bisa diganti begitu saja saat rusak. Manusia butuh bersosialisasi guna membangun modal sosial dalam lingkungan tempat tinggalnya. 

Waktu dipergunakan untuk berbakti kepada sang pencipta, bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga. Waktu akan berputar sangat cepat dan tak akan bisa diputar kembali. Jangan sampai masa tua berujung penyesalan. Pemangku kebijakan bisa mengatur volume pekerjaan bagi bawahannya. Me time itu sebuah kebutuhan. (*)

 

Ikuti tulisan menarik Muhammad Aliem lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini