x

Iklan

Muhammad Aliem

Pegawai BPS Kab.Barru
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menakar Perekonomian di Kuartal Kedua

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2018 tercatat sebesar 5,27 persen (y-o-y).

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Badan Pusat Statistik meriilis kondisi perekonomian kuartal kedua tahun 2018. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2018 tercatat sebesar 5,27 persen (y-o-y).

PDB dapat dilihat dari sisi produksi dan sisi pengeluaran. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha. Lapangan usaha jasa lainnya tumbuh tertinggi sebesar 9,22 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) tumbuh sebesar 8,71 persen.

Kondisi perekonomian pada kuartal kedua ini memang masih berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Namun, beberapa komponen pengeluaran menguat dan tumbuh positif. Membaiknya konsumsi turut didorong oleh momentum ramadan dan lebaran. Konsumsi masyarakat meningkat pada bulan puasa. Di sisi lain, ajang pilkada juga berpengaruh positif terhadap perekonomian ditandai dengan pertumbuhan positif komponen pengeluaran konsumsi Lembaga non profit yang melayani rumah tangga.

BPS mencatat, bulan puasa dan lebaran mendongkrak perekonomian Indonesia. Konsumsi rumah tangga yang masih mendominasi struktur PDB sebesar 55,43 persen tumbuh sebesar 5,14 persen jika dibandingkan triwulan kedua tahun 2017. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama 2018 yang hanya tumbuh sebesar 4,95 persen.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Membaiknya sisi konsumsi masyarakat bisa dilihat dari beberapa fenomena yang terjadi pada triwulan kedua. Diantaranya adalah penjualan eceran yang tumbuh 6,42 persen, peningkatan penjualan sepeda motor dan mobil yang masing-masing tumbuh 18,96 persen dan 3,25 persen. Penjualan sepeda motor sampai tingkat dealer mencapai 1.545.259 unit. Sedangkan penjualan mobil mencapai 261.615 unit.

Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) sangat memengaruhi tingkat daya beli masyarakat, khususnya bagi aparatur sipil negara atau pegawai negeri. Pengaruhnya tercatat sebesar 16,98 persen. Adapun upah ril buruh tani juga tumbuh positif 1,01 persen. Nilai Tukar petani juga membaik di triwulan kedua. Sektor pertanian,kehutanan, dan perikanan menguat dan tumbuh sebesar 4,76 persen.

THR yang dikucurkan oleh pemerintah juga berdampak pada tingginya pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan kedua 2018. Konsumsi pemerintah tumbuh 5,26 persen yang lebih tinggi dibandingkan konsumsi rumah tangga yang hanya sebesar 5,14 persen. Sedangkan konsumsi LNPRT tumbuh tertinggi sebesar 8,71 persen yang sangat dipengaruhi oleh pilkada serentak dan persiapan partai politik dalam menghadapi pemilu tahun depan.

Selain itu, bantuan sosial dari pemerintah turut menguatkan daya beli masyarakat 40 persen lapisan terbawah. Tidak main-main, bantuan ini tumbuh 61,69 persen, jauh menguat dibandingkan kondisi pada periode yang sama di tahun 2017 yang hanya tumbuh sebesar 18,57 persen.

Sektor perdagangan terpacu positif dengan meningkatnya aktivitas belanja pada bulan puasa dan lebaran. Akibatnya, sektor industri tekstil dan pakaian tumbuh positif sebesar 6,39 persen. Industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki tumbuh tertinggi pada sektor industri pengolahan mencapai 11,38 persen yang didukung oleh permintaan dalam negeri dan luar negeri. Omset sektor retail juga mengalami peningkatan.

Faktor lebaran juga turut mengaruhi sektor transportasi, penyediaan akomodasi, dan makan minum. Libur Panjang dengan penambahan cuti bersama mengakibatkan tingginya frekuensi angkutan kereta, laut dan udara. Terjadi penambahan rute perjalanan baik darat, laut, maupun udara.

Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar mencapai 2,76 persen. Disusul oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 1,86 persen. Konsumsi pemerintah sebesar 0,39 persen, lainnya 1,47 persen dan dikurangi net ekspor sebesar 1,21 persen. Sehingga membentuk pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen.

Melihat beberapa fenomena yang memengaruhi perekonomian nasional pada kuartal kedua, dapat dilihat bahwa faktor daya beli masyarakat harus tetap didorong oleh pemerintah. Pemberian THR dan bantuan sosial cukup berpengaruh terhadap perekonomian. Namun ini hanya berlaku dalam jangka pendek. Perlu dilakukan banyak inovasi untuk memacu sektor industri karena sektor ini berperan sebesar 19,83 persen dalam struktur PDB menurut lapangan usaha. Konsumsi hasil industri meningkat jika kualitas produksi tidak kalah dari negara lain.

Sektor pertanian juga membutuhkan perhatian lebih serius. Ini harus dilakukan demi meningkatkan taraf hidup masyarakat di pedesaan yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Struktur PDB masih menempatkan sektor pertanian di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 13,63 persen. Dana desa bisa berperan efektif jika digunakan untuk membantu petani dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil produksi pertanian.

 

Penulis : M. Aliem (Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan)

Ikuti tulisan menarik Muhammad Aliem lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan