Pesan Perjuangan dari Tanah Pahlawan (Surabaya)

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah

 

Pesan Perjuangan dari Tanah Pahlawan (Surabaya)

Oleh : Tatang Hidayat

Mendengar nama Surabaya bagi orang Bandung dan Jawa Barat tentunya bukan hal yang asing lagi, begitupun dengan saya sendiri. Hal tersebut apalagi kalau bukan karena hubungan persaudaraan antara suporter Persebaya yang dikenal dengan Bonek dengan suporter Persib Bandung yang dikenal Bobotoh.

Namun bagi saya Surabaya bukan hanya sekedar hubungan persaudaraan Bonek dan Bobotoh, lebih dari itu, Surabaya menyimpan sebuah misteri perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan, dengan Bung Tomo sebagai tokoh sentralnya. Apalagi kalau bukan pidato beliau yang sangat terkenal itu menjadi salah satu daya tarik sosok Bung Tomo.

Perjalanan menuju Surabaya saya awali dari Madura, tepatnya hari Ahad, 28 Oktober 2018, karena sehari sebelumnya saya telah mengikuti agenda 2nd International Conference on Islamic Studies di IAIN Madura. Sebelum keberangkatan, pagi hari pintu tempat saya menginap sudah ada yang mengetuk, beliau adalah salah seorang sopir rektor IAIN Madura yang akan mengantar saya beserta presenter lainnya untuk mengenal makanan khas Madura dan batik tentunya.

Begitu baiknya panitia seminar saat itu, kami disambut dan difasilitasi dengan baik. Di tengah perjalanan, saya berdiskusi dengan sopir tersebut, membahas berbagai persoalan yang ada di Madura, baik masalah pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik dan yang lainnya. Dari hasil diskusi tersebut, saya mendapatkan banyak pelajaran, terutama berkaitan dengan permasalahan hidup yang dialami masyarakat Madura.

Namun saya tidak larut dalam kesedihan yang ada, berbagai problematika yang melanda masyarakat Madura, termasuk beberapa daerah di Indonesia lainnya yang tak kunjung ada solusi menjadi bahan penyemangat bagi saya sendiri selaku generasi muda bangsa ini untuk bisa melakukan kontribusi yang berarti sekecil apapun, demi kebaikan umat dan bangsa, terutama negeri saya sendiri.

Setelah kami diajak berkeliling, dan dirasa keperluan kami sudah terpenuhi, kami segera di antar ke terminal bus, karena harus segera melanjutkan perjalanan pulang. Saya berangkat ke Surabaya dari terminal bus Pamekasan bersama Dr. Hindun selaku Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditemani suaminya, beliau orangnya sangat ramah, dan saya banyak belajar dari beliau akan semangatnya dalam mencari ilmu.

Tepat pukul 09.00 WIB bus berangkat dari terminal Pamekasan, dan pukul 12.30 WIB saya sudah sampai di Surabaya, tepatnya di daerah wisata religi Sunan Ampel. Karena memang, tujuan saya Surabaya salah satunya adalah dalam rangka ziarah kepada salah seorang Wali Songo, yakni Sunan Ampel. Di Masjid Sunan Ampel saya menyempatkan shalat dzuhur dan shalat ashar jamak takdim qashar, setelah itu saya baru berziarah kepada Sunan Ampel.

Nampak suasana komplek begitu ramai didatangi para peziarah, suasana makam pun begitu sakral bagi beberapa kalangan masyarakat. Tujuan saya berziarah ke Sunan Ample dalam rangka meneladani perjuangan Wali Songo dalam Mengislamkan Nusantara, karena setiap melakukan ziarah kepada para ulama, bukan hanya sebatas mendo’akan saja, tetapi lebih dari itu, melibatkan perasaan dan dalam rangka meneladani perjuangan mereka.

Sunan Ampel dilahirkan di negeri Champa (Sepanjang pantai Vietnam). Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa.

Negeri Champa diketahui berdiri pada tahun 192 Masehi. Sampai sekarang masih ada komunitas masyarakat Champa di Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Ayah Sunan Ampel merupakan Sunan Gresik yaitu keturunan Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra atau seorang Ahlussunnah bermazhab Syafi’i. Syekh Jamalluddin merupakan ulama yang berasal dari Samarqand, Uzbekistan. Samarqand merupakan daerah dilahirkannya Ulama-Ulama besar. Salah satunya adalah Imam Bukhari yang dikenal sebagai pewaris hadis yang Shahih.

Setelah selesai berziarah, saya segera menuju Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, karena memang Surabaya tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perjuangannya, apalagi kalau bukan peristiwa pertempulan 10 November 1945 yang dikenal sebagai Hari Pahlawan. Oleh karena itu, saya tidak ingin meninggalkan kesempatan berharga ini.

Sekitar pukul 14.30 WIB, saya diberikan kesempatan untuk masuk ke Museum 10 November, bagi para pengunjung tidak perlu khawatir, karena tiket masuknya sangat terjangkau, yakni Rp 5.000 rupiah. Hal yang menarik ketika masuk museum, saya langsung disuguhkan dengan suara orasi yang menggelegar dari sosok Bung Tomo, saya begitu merinding mendengarnya, ada rasa haru dan ikut terbawa suasana

Berikut saya sertakan teks pidato Bung Tomo, sebagaimana saya temukan di Museum 10 Nobember :

Bismillahirrohmanirrohim..

Merdeka!!!

 

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.

Kita semuanya telah mengetahui.

Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.

Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.

Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.

Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

 

Saudara-saudara.

Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.

Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,

Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,

Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,

Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.

Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.

Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.

Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.

Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

 

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.

Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.

Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.

Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

 

Saudara-saudara kita semuanya.

Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,

dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya.

Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.

Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.

Dengarkanlah ini tentara Inggris.

Ini jawaban kita.

Ini jawaban rakyat Surabaya.

Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.

 

Hai tentara Inggris!

Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.

Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.

Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu

Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah

Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih

Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

 

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!

Tetapi saya peringatkan sekali lagi.

Jangan mulai menembak,

Baru kalau kita ditembak,

Maka kita akan ganti menyerang mereka itu kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

 

Dan untuk kita saudara-saudara.

Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.

Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

 

Dan kita yakin saudara-saudara.

Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,

Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.

Percayalah saudara-saudara.

Tuhan akan melindungi kita sekalian.

 

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!!! (Sumber Museum 10 November Surabaya).

Lantunan TAKBIR dan kata Merdeka merupakan sepenggalan kalimat terakhir dari pidato Bung Tomo yang sangat heroik, tidak bisa dilepaskan dari sosok beliau dan pengaruhnya dalam membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melakukan perlawanan. Bung Tomo tidak sembarangan memilih kata ‘TAKBIR’ dalam pidatonya. Di sisi lain, pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari seruan jihad yang dipimpin Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari.

Bung Tomo, pahlawan yang membakar semangat rakyat dalam peperangan 10 November 1945, wafat di Arafah, Mekah, saat wukuf. Ia wafat pada 7 Oktober 1981. Sungguh betapa mulia wafat beliau, seorang tokoh yang ikhlas berjuang untuk negerinya tanpa pamrih.

Selama di museum, saya banyak membaca berbagai teks sejarah peristiwa pertempuran 10 november serta melihat berbagai macam peninggalannya, baik berupa senjata, pakaian tentara dan masih banyak yang lainnya. Ada suasana haru, penuh emosi, melibatkan perasaan dan tersimpan sebuah cita-cita besar selama saya berada di museum, karena ketika saya berkunjung ke museum pastinya saya selalu melibatkan perasaan, mencoba merasakan dan hadir pada masa dan situasi waktu itu.

Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, saya segera menuju tempat berikutnya, yakni rumah bersejarah seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Pahlawan Islam Jang Utama, Guru Bangsa, Raja tanpa Mahkota, siapa lagi kalau bukan Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Rumah beliau sangat sederhana, namun memilik sejarah yang berharga bagi bangsa ini. Rumah beliau menjadi Rumah Pergerakan, didalamnya pernah tinggal para tokoh pergerakan seperti Bung Karno, Muso, Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka maupun Kartosuwiryo, adalah kumpulan murid HOS Tjokroaminoto. Kelak, karena perbedaan ideologi dalam berpolitik, mereka pun punya takdir lain. Jalan yang mereka tempuh berbeda.

Kemudian yang membuat saya sangat terharu, saat  masuk ke ruangan yang dahulu pernah menjadi kos para calon tokoh pergerakan di Indonesia, ruangannya berada di lantai 2 bagian belakang. Nampak kamarnya sangat sederhana, hanya beralaskan tikar, tidak ada lampu bahkan jendela. Dari sini saya banyak belajar, bahwa masa mudanya para pemimpin itu diwarnai dengan perjuangan keras dan penuh kesederhanaan, betapa sederhana hidup mereka, hanya beralaskan tikar dan ruangan sempit bisa menjadi tokoh dunia.

Setelah saya berkeliling dan membaca beberapa teks sejarah yang ada di rumah tersebut, tidak disangka ternyata saya bisa bertemu dengan 2 orang pimpinan organisasi besar yang ada di Indonesia, yakni Kanda Zuhad Aji (Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam MPO) dan Kanda Husin Tasrik Nasution (Ketua Umum PB Pelajar Islam Indonesia). Mungkin Ini yang dinamakan realisasi dari takdir Allah,karena kami belum mengenal sebelumnya, janjian pun tidak. Namun saya mengtahui mereka berdua, karena organisasi yang menaunginya.

Ketika mereka berdua datang beserta rombongan, Kanda Zuhad Aji melakukan shalat di kamar H.O.S. Tjokroaminoto, setelah dari mereka semuanya melakukan shalat, saya pun tidak ketinggalan melakukan shalat 2 rakaat di kamarnya guru bangsa. Setelah itu saya melakukan diskusi dengan mereka,  namun karena keasyikan tidak terasa waktu sudah menunjukkan maghrib, saya pun harus segera menuju tempat berikutnya.

Kemudian saya berpisah bersama rombongan Kanda Zuhad Aji dan kawan-kawan, silaturahim ini mudah-mudahan bisa berlanjut dalam kesempatan berikutnya. Dari sana saya segera menuju masjid, untuk melakukan shalat maghrib berjama’ah dan shalat ashar jama takdim qashar. Setelah selelai, saya segera menuju tempat berikutnya, saya bisa melewati gedung bersejarah Siola, kemudian menujut monumen jendral sudirman, yang memiliki makna perjuangan itu harus dilanjutkan.

Setelah berkeliling cukup lama, tidak terasa waktu semakin malam, padahal masih banyak tempat yang belum dikunjungi, betapa ingin saya mengunjungi semuanya, berhubung waktu terbatas, saya harus segera pulang dan kembali ke kampus, karena besok pagi sudah ditunggu ada jadwal focus group discussion bersama para dosen PAI UPI, dan tentunya ada jadwal kuliah juga.

Pukul 20.30 WIB saya menuju Bandara International Ir. H. Juanda, meskipun jadwal take off pesawat hari Senin, 29 Oktober 2018 pukul 05.50 WIB. Namun saya memerlukan waktu istirahat, sehingga saya memutuskan untuk berangkat lebih awal ke bandara. Saya beristirahat di mushola bandara, karena memang tempatnya cukup luas, di sana banyak juga para calon penumpang pesawat yang melakukan istirahat di mushola.

Tidak terasa, adzan shubuh berkumandang, kemudian jama’ah melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah, setelah selesai, saya segera menuju boarding pass, untuk menunggu keberangkatan pesawat. Tidak menunggu berlama-lama, akhirnya waktu take off segera tiba, saat itu saya menggunakan maskapai citilink, berangkat dari Surabaya pukul 05.25 WIB dan sampai Bandung pukul 06.55 WIB.

Perjalanan pulang lwat udara waktu itu sangat mengasyikan, nampak langit begitu cerah, yang mana saat keberangkatan diiringi hujan, adapun pulang diiringi matahari terbit dari timur. Lengkap sudah habis gelap terbitlah terang. 

Begitu berkesan rihlah kali ini, Madura dan Surabaya tunjukkan persaudaraan yang sangat kuat, didalamnya menyimpan sejuta cerita, kenangan, cita-cit, harapan dan perjuangan. Sebuah pesan perjuangan dari tanah pahlawan tidak akan terlupakan dan akan selalu dikenang. Ingin rasanya kembali lagi, karena masih banyak yang harus saya pelajari dari dua kota tersebut. Terima kasih Madura, Surabaya dan warganya, semoga suatu saat nanti saya bisa kembali lagi. Wallahu A’lam bi ash-Shawab

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler