x

Iklan

Muhammad Aliem

Pegawai BPS Kab.Barru
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menakar Pertumbuhan Ekonomi yang Meleset (Lagi)

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2018 sebesar 5,17 persen.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2018 sebesar 5,17 persen. Target yang ditetapkan oleh pemerintah kembali meleset. Awalnya, pemerintah menargetkan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada APBN 2018. Angka ini pun telah direvisi menjadi 5,2 persen, namun tetap saja tidak menyentuh target.

Meski begitu, ekonomi Indonesia tetap tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5, 07 persen pada 2017 dan 5,03 persen pada 2016. Artinya, perekonomian nasional tetap tumbuh positif di tengah ketidakpastian global. Dimana kondisi perekonomian global mengalami perlambatan pada kuartal IV/2018 dibandingkan kuartal III/2018.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia turut dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi beberapa mitra dagang, seperti Tiongkok yang mengalami perlambatan menjadi 6,4 persen (Q4/2018), lebih rendah dibandingkan 6,5 persen (Q3/2018), dan 6,7 persen (Q4/2017). Selain itu, negeri Paman Sam, Amerika Serikat  yang menjadi rival utama perang dagang Tiongkok pun diperkirakan tumbuh stagnan pada angka 3,0 persen (Q4/2018) dan (Q3/2018). Ekonomi Singapura juga mengalami perlambatan menjadi 2,2 persen (Q4/2018), lebih rendah dibandingkan 2,3 persen (Q3/2018) dan 3,6 persen (Q4/2017).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Laju pertumbuhan 2018 menurut lapangan usaha, sektor jasa lainnya tumbuh tertinggi sebesar 8,99 persen. Disusul jasa perusahaan yang tumbuh 8,64 persen . Sedangkan lapangan usaha konstruksi tumbuh 6,09 persen dengan kontribusi pada struktur Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10,53 persen.

Sektor industri masih mendominasi struktur PDB yang tercatat sebesar 19,86 persen dan tumbuh sebesar 4,25 persen. Sementara kontribusi sektor perdagangan pada struktur PDB nasional mencapai 13, 02 persen, berada pada posisi kedua setelah sektor industri dan tumbuh 4, 97persen .

Berdasarkan sumber pertumbuhan PDB, lapangan usaha industri pengolahan menyumbang pertumbuhan sebesar 0, 91 persen, disusul lapangan usaha perdagangan 0,66 persen, sektor konstruksi sebesar 0,61 persen, lapangan usaha Pertanian sebesar 0,49 persen dan sektor lainnya 2, 50 persen. Sehingga membentuk angka pertumbuhan sebesar 5,17persen pada 2018 ini.

Selain menurut lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari sisi pengeluaran atau konsumsi. Struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku sepanjang tahun 2018 masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT), yakni sebesar 55,74 persen. Konsumsi masyarakat masih tumbuh tertinggi dibandingkan komponen lainnya yakni sebesar 9,08 persen.

Begitu pun jika dilihat dari struktur sumber pertumbuhan, PK-RT masih menjadi penyumbang tertinggi angka pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran yaitu sebesar 2, 74 persen, PMTB sebesar 2, 17 persen, dan lainnya hanya 0, 26 persen. Sehingga membentuk angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5, 17 persen.

Selain karena pengaruh perlambatan ekonomi secara global, pertumbuhan ekonomi Indonesia turut dipengaruhi oleh terjadinya penurunan harga komoditas nonmigas di pasar internasional pada triwulan keempat tahun 2018. Inflasi sepanjang tahun 2018 cenderung terkendali yakni sebesar 3,13 persen.

Dalam catatan BPS, penjualan mobil secara wholesale (penjualan sampai tingkat dealer) pada triwulan IV/2018 mencapai 294.657 unit, turun sebesar 2,75 persen jika dibandingkan kuartal sebelumnya (q-to-q) tapi naik sebesar 9,37 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (y-o-y). Penjualan sepeda motor secara wholesale mencapai 1.660.866 unit pada triwulan IV/2018. Turun sebesar 3,41 persen (q-to-q) dan naik 7,44 persen (y-on-y).

Jika ditelisik lebih jauh, industri pengolahan masih dapat tumbuh positif.  Diantaranya, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh positif karena didukung oleh peningkatan produksi di daerah-daerah kantong produksi. Industri logam dasar juga tumbuh positif, didorong oleh permintaan aktivitas konstruksi serta permintaan luar negeri yang meningkat. Selain itu, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki juga tumbuh, didorong oleh peningkatan permintaan dari luar negeri terutama produk sepatu. Sedangkan industri makanan dan minuman tumbuh melambat, salah satu penyebabnya yakni perlambatan produksi CPO.

Di sektor pertanian juga masih bisa tumbuh positif. Beberapa fenomena yang terjadi yaitu kondisi cuaca yang cukup mendukung dan berkurangnya serangan hama. Peningkatan produksi perikanan tangkap dan pengembangan teknologi budidaya, serta optimalisasi lahan dan penggunaan benih unggul dalam produksi buah dan sayur.

Dari segi pengeluaran/konsumsi, komponen konsumsi rumah tangga tumbuh positif dapat dilihat dari beberapa fenomena. Yakni penjualan eceran tumbuh 4,74 persen menguat dibanding triwulan IV/2017 yang hanya tumbuh 1,77 persen. Nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit tumbuh 13,77 persen, menguat dibandingkan triwulan IV/2017 yang tumbuh 9,06 persen. Pada kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga, kelompok restoran dan hotel tumbuh tertinggi.

 Untuk pengeluaran konsumsi pemerintah yang tumbuh positif karena kenaikan belanja barang dan jasa, belanja bantuan sosial, serta belanja pegawai. Sedangkan untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), pertumbuhan didorong oleh peningkatan barang modal jenis mesin dan perlengkapan; kendaraan; serta peralatan lainnya.

Selain itu, pertumbuhan impor barang lebih tinggi dibanding ekspor. Beberapa penyebabnya antara lain terjadinya perlambatan pertumbuhan volume perdagangan dan ekonomi global, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara mitra dagang utama. Permintaan domestik terhadap barang-barang impor pun mengalami peningkatan yang mendorong tingginya impor.

Struktur ekonomi nasional juga masih jawasentris. Dimana lebih dari separuh ekonomi masih terdapat di Pulau Jawa sebesar 58,48 persen. Pulau Sumatra 21,58 persen, Pulau Kalimantan 8,20 persen, Pulau Sulawesi 6,22 persen, dan sisanya 5,52 persen di pulau-pulau lainnya. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah untuk menciptakan pemerataan di seluruh wilayah Indonesia.

Ikuti tulisan menarik Muhammad Aliem lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan