x

Iklan

sabiqcarebesth

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Perlu Organisasi Rakyat

Organisasi Rakyat diperlukan untuk menjaga optimisme dan menghindarkan negara terjebak dalam plutokrasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Sabiq Carebesth *)

 

Saat demokrasi berjalan tapi kemakmuran tak bisa digelar lebih akbar dari proses demokrasi itu sendiri, yang muncul kemudian adalah kekecewaan rakyat. Yang dihasilkan dari kekecewaan adalah pilihan politik dalam sistem demokrasi yang cenderung berpijak tidak  lagi pada ideologi kesejahteraan, tapi temporalitas identitas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kenyataan politik semacam itu tidak hanya melanda seperti yang akhir-akhir ini mengemuka dalam proses politik di indonesia. Tapi juga dunia tak terkecuali Amerika. Kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika menurut Noam Chomsky merupakan bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Apa yang salah? Demokrasinya? Atau sistem ekonominya? Merujuk pendapat Noam Chomsky  dalam bukunya “Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change” disebabkan sistem kapitalisme abad 21 dalam perkembangannya justeru jauh lebih buruk dan menyengsarakan lebih banyak kelompok bawah. Disebut Chomsky, hal itu lantaran kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Dalam situasi demikian yang terjadi bukannya kian majunya demokrasi dalam memfasilitasi kemakmuran bagi rakyat, melainkan sebaliknya kepitalisme abad 21 justeru melahirkan plutokrasi.

Kebalikan dari demokrasi, plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa dan kelompok kepentingan yang dibelanya, sedangkan masyarakat umum akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara. Apa akar masalahnya? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan. Selain itu sentimen agama mudah dimainkan dan menghasilkan sebuah propaganda yang membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan. Situasi pun krisis dan seolah rakyat butuh negara kuat!—dalam arti yang sebenarnya negara mendominasi rakyat dengan perangkat-perangkat yang dimilikinya demi kepentingan kelompok khususnya para pemilik modal yang oleh demokrasi substansial dipinggirkan kepentingannya demi kesejahteraan rakyat.

Lalu masih adakah harapan dalam situasi semacam itu bagi makin meningkatnya kemakmuran rakyat? Apa syaratnya?

Penulis melihat bahwa optimisme dan harapan masih ada. Dengan syarat dan pola-pola baru. Yaitu butuh organisme dalam kepentingan melawan negara plutokrasi.

Hanya dengan kekuatan rakyat yang terorganisir demokrasi mungkin dipertahankan sekaligus pada saat sama memenangkan tujuan dasarnya yaitu menyelenggarakan negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan bukan sebalinya menjadikan negara sebagai alat bagi kepentingan kapitalisme abad 21.

Organisasi rakyat dibutuhkan sebagai dasar dari pendidikan politik dan alat untuk menegosiasikan hak-hak politik rakyat baik sosial budaya mau pun ekonomi politiknya.

Masyarakat tidak hanya bisa mengeluhkan bahwa calon-calon legislatif yang dulu mereka pilih tapi kemudian tidak bisa mewakili kepentingan rakyat. Yang diperlukan adalah kesadaran politik dan solidaritas dalam bentuk kehendak mengorganisasikan diri dalam organisasi-organisasi kerakyatan untuk menjadi bagiak aktif sekaligus sebagai kontrol sosial bagi proses demokrasi itu sendiri.

Tak ada gunanya memahami bahwa kebanyakan caleg setelah duduk di parlemen mereka tidak bisa mewakaili atau mengartikulasi kepentingan konstituennya, jika pemahaman itu tidak diteruskan pada bentuk maju kesadaran untuk berorganisasi.

Jangan dibayangkan bahwa organisasi rakyat seperti bayangankan kita pada abad 19 dan abad 20 tentang bentuk-bentuk gerakan revolusi. Yang dimaksud organisasi rakyat adalah organisasi kepentingan masyarakat berdasar pada kepentingan-kepentingan sectoral seperti aliansi-aliansi atau komunitas hobi.

Perkembangan kapitalisme abad 21 juga menuntut bentuk-bentuk baru dan pendekatan baru kelompok civil society berhadapan dengan negara plutokrasi.

Gerakan semacam itu pada dunia kita sekarang sifatnya lebih sektoral dan kecil. Dengan tuntutan dan kepentingan yang juga cenderung spasial. Sebagai contoh gerakan pengguna layanan jasa tertentu dari negara, atau aliansi penikmat jasa dari produk layanan bisnis tertentu seperti konsumen apartemen atau konsumen jasa yang lain. Pecinta literasi, pecinta kuliner, dan lain sebagainya. Organisasi-organisasi berdasar pada hak-hak tertentu seperti hobi semacam itu bisa bersuara untuk hak-hak yang lebih fundamental.

Dalam era revolusi teknologi informasi seperti sekarang, hal itu yang terbukti berhasil melakukan perubahan. Memang kecil tapi terus meluas.

Dari kesadaran organis semacam itulah rakyat bisa bertahan bahkan memenangi peraturangan dengan negara plutokrasi melalui sistem demokrasi yang sehat dan terdidik. Jika berlaku sebailiknya di mana rakyat berdiri seperti sebatang lidi di hadapan tumbukan sampah besar kapitalisme abad 21 maka mustahil merawat optmisme bagi kian majunya penyelenggaraan kesejahteraan.

Peran Intelektual

Oleh karenanya pendekatan pada masyarakat tidak bisa hanya dalam kepentingan tim sukses jelang pemilu, kelompok inetelektual harus pasang badan mendorong pendekatan pengorganisaian masyarakat dalam wacana kepentingan kerakyatan seperti hak konsumen, hak atas skema kredit dan bantuan, hak sosial atas lahan yang dikuasi negara dan sebagainya.

Di sisi lain, kelompok intelektual juga diharuskan menyadari dan memiliki pendekatan baru terhadap negara, tidak lagi selalu vis a vis dan opisisi, tapi bagaimana menjamin konstruksi penyelenggaraan negara dilangsungkan berdasar kepentingan rakyat yang telah ia pahami dari dinamikanya bersama organisasi rakyat.

Dengan posisi tengah semacam itu saja kelompok inetektual mungkin benar-benar disebut sebagai “kelas menengah”—yang diandaikan sebagai fasilitator dan katalisator kepentingan masyarakat dengan kepentingan negara dalam demokrasi.

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan penulis lepas.

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik sabiqcarebesth lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler