Cerpen | Kecupan Ayah untuk Farah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Selasa, 13 Agustus 2019 22:01 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Cerpen | Kecupan Ayah untuk Farah

    Dibaca : 686 kali

    Cerpen | Kecupan Ayah Di Hari Ulang Tahun Putrinya

     

    Mata si perempuan kecil itu terpejam. Dalam lelap malam. Diiringi desiran angin yang terdengar dari pinggir jalan. Aku menghampirinya. Sambil mengusap kening, lalu mengecupnya. Seakan ingin berbisik di telinganya. Sambil berdoa dan berdialog kecil kepada Allah untuk si perempuan kecil, di hari depannya

     

    "Ya Allah, mudahkanlah urusan perempuan kecilku hingga ia dewasa. Taburkanlah ia sikap rendah hati, sederhana, kelembutan dan kearifan. Sekalipun, semua menjadi miliknya. Agar ia memiliki kekuatan yang sempurna untuk tetap di jalan-Mu" ucap dalam hatiku. Lalu kukecup kening perempuan kecilku. Lembut.

     

    Pagi ini, langit di kota Malang begitu bersahabat. Matahari pun mulai menebar sinarnya. Menyambut hari ulang tahun ke 12 anak perempuanku, Farah Gammathirsty Elsyarif. Sang inspirator yang bersahaja lagi sederhana. Bagiku, ia adalah pemberi inspirasi. Maka kupanggil ia, sang inspirator.  Anak perempuan kecil, bontot dari kedua kakak laki-lakinya.

     

    "Abi, terima kasih ya hadiahnya. Walau hanya tempat pulpen dan gantungan kamar. Aku suka kok" kata si perempuan kecil.

     

    "Iyaa Nak, sama-sama. Selamat ulang tahun ya. Semoga jadi anak yang solehah dan selalu dilindungi Allah SWT. Hadiah itu jangan dilihat dari harganya. Tapi momen indahnya" ujarku seketika sambil mencium pipinya.

     

    Si perempuan kecil, di hari ulang tahunnya. Kini tumbuh menjadi remaja putri. Siswa SMP Negeri kelas VII di Jakarta. Tapi seminggu ini, ia minta izin dari sekolah untuk mengantar sang kakak yang baru diterima. Sebagai mahasiswa baru di FMIPA Universitas Brawijaya.

     

    Lagi-lagi, si perempuan kecil itu selalu tahu untuk bersikap. Kapan ia harus diam di rumah, kapan dia harus ikut, Semuanya dalam pikiran dan keputusannya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

     

    “Farah juga mau bilang terima kasih ke Abi. Karena sudah kasih kepercayaan dan mendidik Farah di rumah dengan kemandirian” ujar si perempuan kecil.

    “Sama-sama ya Nak, terima kasih juga buat Farah. Karena telah menyedikitkan nasehat Abi untuk kamu. Itu tanda kamu, anak yang mandiri” jawabku bangga.

     

    Zaman now. Memang penting buat orang tua menyedikitkan nasehat untuk anak perempuannya. Karena atas dalih rasa sayang, tidak sedikit orang tua yang membangun “relasi beracun” antara orang tua dan anak perempuannya. Orang tua yang ingin terlibat terlalu jauh di kehidupan anak perempuannya. Seolah-olah sayang dan serasa ingin berteman dengan anaknya. Bahkan berteman pula dengan teman-teman anaknya atau orang tua teman-teman anaknya. Alih-alih ingin memberi privasi, justru sikap orang tua seperti itu yang bisa dianggap sebagai intervensi yang mungkin, meresahkan anak perempuannya sendiri.

     

    Sikap orang tua yang tidak sepenuhnya benar. Merasa sayang dan ingin menjaga anak perempuannya. Tapi di saat yang sama, justru orang tua yang terlalu leluasa memantau tiap aktivitas anaknya.  Sehingga si anak perempuan pun merasa tidak leluasa beraktivitas seperti anak-anak seumurnya.

     

    Obrolan si perempuan kecil dengan ayahnya masih terus berlanjut. Hingga jarum jam menunjuk di angka 10. Si perempuan pun berkata, “Selama ini Farah tahu Abi begitu sibuk. Makanya Farah hanya bicara seperlunya saja” tuturnya lagi.

    “Iya Nak, begtulah cara Abi mendidik kamu. Asal kamu tahu saja. Orang tua yang biasa memang punya kebiasaan untuk menghabiskan waktu bersama si anak, hampir sepanjang waktunya. Sementara Abi, justru ingin jadi orangtua yang luar biasa. Agar kamu punya waktu untuk diri sendir, dan Abi hanya memberi contoh baik yang bisa kamu pelajari. Itu sudah cukup” balasku kepada si perempuan kecil.

     

    Sang ayah pun melanjutkan tausiyahnya. Khusus untuk si perempuan kecil yang selalu menjadi inspirasinya. Sebagai pesan kehidupan di hari ulang tahunnya yang ke-12. “Bahwa tiap anak, pasti punya masalah. Kemarin maupun esok. Maka berlatihlah untuk menghadapinya. Agar kita tetap realistis. Jangan pernah memandang diri sendiri rendah, apalagi orang lain. Karena tiap orang punya kehebatan masing-masing” ujarku memotivasi si perempuan kecil.

     

    Maka siapapun, jadilah diri sendiri. Jangan pernah terobsesi penampilan fisik, karena itu semu. Jangan pula tergoda gaya hidup, karena itu jadi sebab meratap. Dan jangan pernah jauh dari Allah, karena kita itu hamba-Nya.

     

    Dua belas tahun sudah si perempuan kecil berkelana. Seperti membiarkan malam melampaui mimpi; membiarkan pagi melewati pelangi. Semuanya terjadi apa adanya. Agar cepat tiba, cinta dan bahagia di antara kita.

     

    Kecupan ayah di hari ulang tahun putrinya.

    Itu hanya seuntai nasehat yang pantas aku sematkan ke keningnya. Kecupan seorang ayah untuk anak perempuannya. Agar orang tua harus mengambil posisi bahwa anaknya bukan anak orang lain. Sehingga tidak perlu ada orang tua yang membanding-bandingkan anaknya. Apalagi dengan anak orang lain.

     

    Karena nyatanya. Banyak orangtua yang suka membandingkan anaknya dengan anak lain yang lebih berprestasi. Anak-anak yang “dimimpikan” orang tua seperti cerita di televisi atau kisah fiksi. Terkadang, banyak orang tua yang tidak mau  membiarkan anaknya menjadi diri mereka sendiri. Anak-anak yang ada dalam genggaman scenario orang tua. Bukan skenario Allah.

    Maka, kecuplah kening anak perempuan itu. Agar tetap nyaman bersandar di bahu sang ayah. Seberapapun rasa itu …Maka jadilah dirimu sendiri; tanpa perlu menjadi diri orang lain… @SELAMAT ULANG TAHUN putriku, Farah Gammathirsty Elsyarif.

    @Kota Malang, 13 Agustus 2019 #SangInspirator


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.