Memeriksa Estetika dan Sejarah dalam Penari Matahari Elegi Tarakan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover buku Penari Matahari Elegi Tarakan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 27 September 2019 09:33 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Memeriksa Estetika dan Sejarah dalam Penari Matahari Elegi Tarakan

    Dibaca : 79 kali

    Judul: Penari Matahari Elegi Tarakan

    Penulis: Dian A. Wibowo

    Tahun Terbit: 2018 (edisi digital)

    Penerbit: Bitread Publishing

    Tebal: viii + 200

    ISBN: 978-602-0721-61-3

    Sebagai sebuah novel buku ini tidak menarik. Terlalu banyak kesalahan dan kekurangtelitian baik dari sisi alur maupun penyebutan tokoh. Namun karena novel ini memuat banyak hal yang berhubungan dengan sejarah Tarakan dan Indonesia menjelang kedatangan Jepang maka saya memutuskan untuk menyelesaikan membacanya. Banyak hal yang bernuansa sejarah dipakai dalam novel ini yang saya belum pernah menemukan di buku-buku sejarah yang ditulis oleh sejarawan yang sesungguhnya. Siapa tahu penulis novel ini memang memiliki fakta atau informasi sejarah yang memang belum diketahui oleh umum atau oleh ahli sejarah. Penulisnya adalah lulusan Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan (UPI) Bandung.

    Marilah kita lihat dari sisi novelnya dulu, sebelum mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan sejarah. Novel ini meramu situasi menjelang kedatangan Jepang ke Hindia Belanda, khususnya di Tarakan dan Jugun Ianfu, atau para pekerja seks paksa di masa Jepang.

    Dian A. Wibowo berkisah tentang laskar pemuda di Pulau Tarakan. Laskar yang diprakarsai oleh Dalies dan Ralin digambarkan menyiapkan diri menyerang markas KNIL. Selain dari Dalies dan Ralin, novel ini juga memunculkan dua tokoh perempuan yang juga ikut berjuang. Tokoh perempuan tersebut adalah Sari dan Neila. Neila adalah perempuan keturunan Jawa yang lahir di Tarakan. Sementara Sari datang dari Jawa dan masih bersaudara dengan Neila. Sari adalah seorang penari.

    Dalam cerita kemudian disampaikan bahwa laskar ini mendapatkan dukungan dari penyusup asal Jawa. Para penyusup asal Jawa ini membuat perjuangan laskar pemuda Tarakan berhubungan dengan gerakan kemerdekaan di seluruh Hindia Belanda, khususnya di Jawa. Para penyusup awal, diantaranya Soeryo masuk sebagai bagian dari tentara KNIL. Sedangkan penyusup berikutnya adalah Mayor Normalisa yang diutus khusus oleh Letkol Suharto. Para utusan dari Jawa ini menjadi mentor bagi Laskar Pemuda Tarakan untuk menyerang KNIL.

    Kisah penyerbuan markas KNIL dilakukan pada Bulan Desember 1941, sebelum Jepang datang ke Tarakan, dipadu dengan kondisi setelah Jepang menduduki Tarakan. Jepang dengan propaganda AAA kemudian merekrut pemuda-pemudi untuk menjadi pegawai negeri Jepang. Para pemudi yang bisa menari diminta untuk mendaftar sebagai Geisha. Selanjutnya pada Geisha ini tahu bahwa ada ekploitasi seks oleh tentara-tentara Jepang di Tarakan. Maka mereka melakukan siasat mencampur racun dalam sake, sehingga banyak tentara Jepang yang tewas karena racun tersebut.

    Novel ini memiliki banyak kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah dalam judul novel, penyebutan tokoh dan ikatan peristiwa. Pemilihan judul “Penari Matahari Elegi Tarakan” tidak terlalu berhubungan dengan isi novel. Penari Matahari hanya muncul di halaman 88 dan kemudian hilang begitu saja. Jika pun Penari Matahari yang dimaksud adalah Sari, maka alur di novel ini tidaklah bisa menunjukkan hal tersebut.

    Dalam novel ini ada nama-nama tokoh yang disebut dengan cara berbeda, atau pangkat berbeda. Tokog Soeryo kadang ditulis Suryo. Tokoh Sumarah kadang ditulis Suminah. Sedangkan Suharto yang berpangkat Letkol di halaman 33 disebut Jenderal. Sementara itu Normalisa yang diutus Letkol Suharto ke Tarakan berpangkat Mayor? Bagaimana mungkin seorang Letkol mengutus Mayor?

    Dian A. Wibowo memasukkan peristiwa di Jogja, Rengasdengklok dan Bandung. Namun ikatan peristiwa antara Jogja, Rengasdengklok dan Bandung tidaklah muncul dalam novel ini secara jelas. Dian hanya menarik hubungan kejadian sejarah saja dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di beberapa tempat tersebut.

    Marilah sekarang kita periksa beberapa hal yang berhubungan dengan sejarah. Pertama-tama marilah kita cari informasi apakah benar ada Laskar Tarakan. Sampai saat ini saya tidak mendapatkan informasi tentang adanya Laskar Tarakan yang menyerang KNIL menjelang kedatangan Jepang. Saya memeriksa buku-buku yang berhubungan dengan kedatangan Jepang di Tarakan dan memeriksa di google, namun saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang konflik pemuda dengan KNIL di Tarakan, khususnya di Bulan Desember seperti disebutkan dalam novel ini. Jika memang peristiwa itu ada, maka sebaiknya Dian A. Wibowo bisa menyampaikan sumbernya, karena hal ini bisa memperkaya sejarah lokal Tarakan.

    Pemuda Tarakan sudah menyadari bahaya Jepang sebagai penjajah baru? Informasi ini juga sangat baru. Kesadaran bahaya Jepang yang saat ini ditulis di buku sejarah hanya berada di kalangan elite saja. Itu pun terjadi perdebatan di antara mereka. Jika benar rakyat, khususnya pemuda Tarakan sudah menyadari bahwa Jepang datang sebagai penjajah baru, maka ini pun sebuah informasi baru.

    Suharto mengorganisir penyusupan di KNIL? Pertama-tama saya harus meyakinkan bahwa yang dimaksud oleh Dian A. Wibowo dalam novel ini adalah Suharto yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya cukup yakin bahwa Dian memang bicara tentang Suharto yang kelak jadi Presiden. Bahwa benar Suharto pernah menjadi anggota KNIL menjelang Jepang masuk. Tetapi apakah pangkat Suharto sudah Letkol saat ia bekerja sebagai KNIL? Lagi pula dalam buku biografinya Suharto sendiri mengaku bergabung dengan KNIL karena mencari pekerjaan (Suharto: Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya. 1989. Lamtoro Gung). Jadi sangat muskil Suharto sudah mempunyai pangkat Letkol dan berperan begitu besar dalam penyusupan di KNIL menjelang kedatangan Jepang. Pada saat Serangan Umum 1 Maret 1949, Suharto berpangkat Letkol. Jadi apa mungkin Suharto tidak naik pangkat selama 8 tahun? Informasi ini sangat aneh dan perlu bukti kuat untuk meyakininya.

    Informasi sejarah yang belum tentu benar berikutnya adalah bahwa sudah ada tentara Jepang di Jawa pada tahun 1941 (18 Desember 1941) dan dikirim ke Kalimantan (Tarakan) dengan kapal untuk membantu serangan udara/laut Jepang di awal tahun 1942. Disebutkan bahwa Sakaguchi dan Hitoshi Imamura sudah ada di Jogja tahun 1941. Mereka sudah mengumpulkan perempuan untuk menjadi Jugun Ianfu. Informasi ini juga aneh dan perlu dibuktikan.

    Dalam novel ini disebutkan bahwa Laskar Wanita Indonesia (Laswi) sudah berperan aktif dalam persiapan kedatangan Jepang. Padahal menurut informasi yang saya punya Laswi  baru dibentuk pada 12 Oktober 1945. Laswi dibentuk oleh Sumarsih Subiyati biasa dipanggil Yati Aruji, istri Aruji Kartawinata, komandan Badan Kemanana Rakyat (BKR) Divisi III Jawa Barat yang kelak menjadi Divisi Siliwangi (Para Perempuan Dalam Perang Kemerdekaan. Majalah Historia di laman: https://historia.id/politik/articles/para-perempuan-dalam-perang-kemerdekaan-6kR4y). Apakah mungkin ada Laskar Wanita lain yang mempunyai peran signifikan menjelang kedatangan Jepang? Jika memang ada, sebaiknya Dian A. Wibowo bisa mempublikasikannya.

    Novel berbasis sejarah biasanya menggunakan kebenaran sejarah sebagai pijakan. Penulis novel sejarah bisa mereka kisah fiktif untuk membawa pesan tertentu. Atau ia membeberkan tafsir berbeda terhadap kejadian-kejadian serjarah yang ada. Bisa juga ia memberikan fakta baru terhadap sejarah yang sifatnya masih abu-abu. Namun tidak selayaknya novel sejarah disusun dengan pemutar-balikan sejarah tanpa referensi yang baik.

    Sebagai seorang penggemar novel berbasis sejarah, saya tertarik sekaligus kecewa dengan novel ini. Tertarik karena novel ini memberikan banyak informasi berbeda dari sejarah menjelang kedatangan pada umumnya. Tertarik karena penulisnya menyampaikan sejarah lokal yang jarang dibahas dalam sejarah nasional. Jika fakta-fakta yang disampaikan benar, maka informasi ini bisa menjadi bahan yang luar biasa dalam penulisan sejarah lokal.

    Saya kecewa karena merasa bahwa beberapa fakta sejarah yang dituang dalam novel ini tidak ada pijakan yang kuat. Meski novel sejarah adalah karya fiksi, namun pemutar-balikan sejarah dengan semena-mena dalam karya fiksi adalah tidak patut.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.