x

Ilustrasi biji kopi. TEMPO/HARIANDI HAFID

Iklan

atiqoh maharani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Oktober 2019

Sabtu, 5 Oktober 2019 12:20 WIB

Eksistensi Kopi Masa Kini

Kopi dan gaya hidup memang sudah menjadi satu kesatuan yang hapir tidak dapat dipisahkan. Eksistensinya yang semakin melejit di seluruh kalangan membuat kopi menjadi komoditi yang memiliki potensi menjanjikan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Eksistensi Kopi Masa Kini

Jika kita berbicara tentang Indonesia kita pasti juga tau akan produksi kopinya, yang mana kualitas kopi Indonesia juga tidak kalah jika dibandingkan dengan kualitas kopi negara tetangga. Topografi tanah berbukit dengan gunung-gunung vulkanik membuat Indonesia dianugerahi tanah yang subur dan cocok ditanami kopi. Dengan keuntungan ini, tak heran jika Indonesia menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Kopi merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Kopi juga merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang cukup penting sebagai penghasil devisa negara selain minyak dan gas. Selain peluang ekspor yang semakin terbuka, pasar kopi di dalam negeri juga masih cukup besar. Jika dilihat dari kontribusinya, sektor pertanian Indonesia menyumbang 13,4% dari PDB, dimana sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan. Sekitar 3,47% kontribusi sektor pertanian tersebut berasal dari subsektor perkebunan, yang mana kopi sangat memberi andil besar di dalamnya. (Sumber : Publikasi Statistik Produksi Kopi BPS)

Secara umum kopi terbagi ke dalam 4 jenis, yaitu Arabica, Robusta, Liberica, dan, Excelsa. 75% kopi yang dihasilkan Indonesia adalah Robusta, 22% adalah Arabica, dan 3% sisanya adalah jenis  Liberica dan Excelsa. Indonesia mampu memproduksi kopi mencapai 630.000 ton pertahun, dengan produksi kopi berkualitas ekspor mencapai 450.000 ton, dan 180.000 ton lainnya menjadi konsumsi lokal. Menurut Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, sebanyak 97% produksi kopi Indonesia masih di ekspor dalam bentuk biji kopi hiaju yang masih mentah dan hanya 3% sisanya yang sudah diekspor dalam bentuk kopi olahan. Sebenarnya kegiatan ekspor kopi akan lebih banyak memberikan keuntungan jika kopi diekspor dalam bentuk kopi olahan, karena hal tersebut tentu akan dapat membuka banyak lapangan perkerjaan industri pengolahan kopi. Namun permasalahnya adalah adanya preferensi tersendiri dari setiap negara yang menjadi tujuan ekspor kopi Indonesia, sehingga negara luar lebih menginginkan untuk impor kopi dalam bentuk biji kopi mentah dan mengolahnya sendiri sesuai dengan standar pengolahan kopi masing-masing.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tak dapat dipungkiri keberagaman kopi Indonesia mulai diakui dunia, bagaimana tidak, banyaknya jenis kopi didukung dengan kualitas dan cita rasa yang khas membuat kopi Indonesia diminati pasar dunia. Mulai dari kopi Gayo di Aceh, kopi Solok di Sumatra Barat, kopi Preanger di Jawa Barat, kopi Kintamani di Bali, kopi Toraja di Sapan, kopi Bajawa di Flores, hingga kopi Wamena di Papua. Keberagaman inilah yang membuat citra kopi Indonesia harum di mata dunia. Bahkan dari tahun 2015, konsumsi kopi khas Indonesia mulai meningkat tajam. Kopi akan menjadi salah satu fokus ekspor Kementrian Pertanian di tahun 2019 ini, dengan negara sasaran adalah Amerika dan Eropa. Untuk menggenjot ekspor, Kementan menyetok bibit kopi unggulan senilai 5,5 triliun rupiah. Selain itu Kementan juga menyasar kopi-kopi khas yang harga jualnya jauh lebih mahal. Promosi secara gencar juga dilakukan pemerintah untuk dapat meningkatkan ekspor kopi melalui ajang pameran kopi. Salah satu ajang pameran yang diikuti adalah Vienna Coffee Festival. Yang mana tahun 2018 merupakan kali pertama Indonesia ikut berpartisipasi dalam ajang pameran tersebut. Festival Kopi Wina merupakan pameran kopi terbesar di Austria yang menarik lebih dari 12.000 pengunjung setiap tahunnya. Hal tersebut tentunya dapat menjadi peluang untuk lebih meningkatkan eksistensi kopi khas Indonesia di kancah dunia. Austria menjadi sasaran ekspor yang menarik, mengingat Austria masuk dalam lima terbesar negara konsumsi kopi di dunia, dengan konsumsi mencapai 6,1 kg/kapita/tahun. Diharapkan keikutsertaan Indonesia pada Vienna Coffee Festival dapat membuka jejaring usaha yang lebih luas bagi pengusaha kopi Indonesia dan menggenjot angka transaksi langsung antara pengusaha dengan importir Austria. Hal ini tentunya akan mampu menjamin kestabilan suplai sekaligus membuat harga kopi Indonesia lebih kompetitif di negara Eropa Tengah itu.

Saat ini, kopi tak ubahnya sudah hampir dapat dikatakan sebagai candu. Terlebih untuk gaya hidup remaja sekarang. Eksistensi kopi bukan lagi sekedar melekat pada orangtua, namun juga telah menjadi suatu kebutuhan kawula muda. Hal tersebut mejadikan kedai-kedai kopi menjamur diberbagai daerah. Pengusaha-pengusaha muda mulai banyak yang melirik industri pengolahan kopi yang eksistensinya semakin melejit ini. Tentu hal tersebut sangat membawa dampak positif terhadap pemanfaatan produksi kopi lokal dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Sementara itu, pemerintah juga tidak tinggal diam akan fenomena tersebut. Melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terjun dalam industri hilir kopi. Salah satu dari program BEKRAF tersebut adalah sertifikasi profesi barista yang tujuannya adalah untuk mendidik SDM di bidang kopi agar mempunyai kompertensi yang baik untuk mengolah dan meracik kopi. BEKRAF juga sedang menyusun buku panduan pendirian kedai kopi. Hal ini bertujuan untuk memberikan dasar dan gambaran serta menitik beratkan bahwa membuka kedai kopi tidak melulu membutuhkan biaya yang mahal. Sehingga diharapkan akan semakin banyak pengusaha yang berani melebarkan sayapnya pada sektor industri pengolahan kopi ini. Dengan segala kekayaan dan kualitas kopi yang ada, dan diimbangi dengan upaya serta stategi yang telah dilakukan, diharapkan kopi dapat terus menjadi komoditi ekspor utama hasil industri perkebunan di Indonesia yang akan terus memberikan peningkatan sumbangan kontribusi pada PDB Indonesia setiap tahunnya.

Ikuti tulisan menarik atiqoh maharani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler