Tragedi Golfrid Siregar, Aktivis Penggugat Petinggi: Sempat Hilang, Lalu Tewas Tak Wajar - Viral - www.indonesiana.id
x

Golfrid Siregar, advokat lingkungan hidup di Walhi Sumatera Utara. Kredit: Walhi

sutar temanggung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 September 2019

Senin, 7 Oktober 2019 09:50 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Tragedi Golfrid Siregar, Aktivis Penggugat Petinggi: Sempat Hilang, Lalu Tewas Tak Wajar

    Dibaca : 5.446 kali

    Kabar duka datang dari Medan. Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Utara, Golfrid Siregar meninggal di Rumah Sakit Umum Pratama Adam Malik, Medan pada 6 Oktober 2019.

    Sebelumnya, Golfrid  ditemukan  terkapar di jembatan layang Simpang Pos, Medan pada Kamis  dini hari, 3 Oktober 2019. Tukang becak yang menemukan dan  membawa Golfrid ke RS Adam Malik.

    Ia dikenal sebagai aktivis yang gigih mempersoalkan masalah lingkungkan  hidup di wilayah Sumatera Utara. Ia bahkan pernah menggugat gubernur dan melaporkan penyidik yang dianggap lamban menangani sebuah kasus pemalsuan.

    Kematian tak wajar
    Walhi Sumatera Utara menyatakan penyebab kematian Golfrid tidak wajar . "Kami melihat ada indikasi Golfrid menjadi korban kekerasan dan percobaan pembunuhan karena aktivitasnya mengadvokasi isu lingkungan dan HAM," kata Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Roy Lumbangaol,  6 Oktober 2019.

    Roy mengatakan Golfrid tak bisa dikontak sejak Rabu, 2 Oktober 2019. Kepada istrinya, Golfrid pamit pergi mengirimkan barang ke agen ekspedisi dan bertemu orang di kawasan Marendal, Medan. Namun, setelah itu ponsel Golfrid tak bisa lagi dihubungi.

    Setelah ditemukan sehari kemudian dan dibawa ke rumah sakit,   tempurung kepala Golfird  tampak  hancur. Meski telah menjalani operasi pada Jumat, 4 Oktober 2019,  ia tak tertolong dan meningal dua hari kemudian.

    Kepolisian, kata Roy, menyatakan Golfrid menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Namun, Walhi Sumatera Utara menemukan banyak kejanggalan. Kepala Golfrid  seperti kena benturan benda tumpul.  Tak seperti korban kecelakaan,  bagian tubuh lainnya tak mengalami luka berarti.  "Barang-barang korban seperti tas, laptop, dompet dan cincin raib. Sementara sepeda motornya hanya mengalami kerusakan kecil saja," kata Roy.

    Menggugat Gubernur
    Aktivitas Golfrid  yang amat menonjolkan pada tahun ini adalah  menggugat  Surat Keputusan  Gubernur Sumut  berkaitan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Batang Toru.  Gugatan ini sudah ditolak oleh  PTUN Medan  pada Maret lalu, tapi Golfrid belum menyerah.  Ia mengajukan banding sebulan kemudian.

    Golfird juga  melaporkan  penyidik    tiga penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Utara ke Kadiv Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri serta Irwasum Polri pada  Agustus lalu.  Mereka diduga secara sengaja menghentikan penyidikan dugaan pemalsuan tanda tangan saksi ahli,  seorang  dosen di Universitas Sumatera Utara.  Kesaksian dosen ini  pun berkaitan dengan kasus perizinan PLTA Batang Toru, Tapanuli Sumatera Utara.

    "Kami melihat dalam penyidikan kasus pemalsuan tandatangan ini, penyidik Polda Sumut kurang serius. Mereka juga bilang sudah menghentikan sementara kasus ini, maka dari itu kami laporkan hal ini ke Propam dan Irwasum," kata Golfrid  , 12 Agustus lalu.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    Minggu, 31 Mei 2020 10:05 WIB

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.143 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).