Usai Kebiri KPK, Inikah Skenario Kedua: Presiden Dipilih MPR - Viral - www.indonesiana.id
x

Ketua MPR Bambang Soesatyo (kiri) mengangkat palu sidang usai pelantikan pimpinan MPR periode 2019-2024 di ruang rapat Paripurna MPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 2 Oktober 2019. Sidang Paripurna tersebut menetapkan Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR periode 2019-2024. TEMPO/M Taufan Rengganis

sutar temanggung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 September 2019

Sabtu, 5 Oktober 2019 18:45 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Usai Kebiri KPK, Inikah Skenario Kedua: Presiden Dipilih MPR

    Dibaca : 34.199 kali

    Kecemasan ini mungkin berlebihan.  Tapi kecenderungan Republik ini menuju kemunduran terlihat nyata.  Tatanan reformasi mulai dipreteli satu persatu, seperti mau kembali ke sistem Orde Baru.

    Politik yang penuh kompromi di kalangan elite memungkinkan mimpi buruk itu terjadi. Tak ada partai oposisi, tapi hanya bagi-bagi posisi.  Kursi Ketua DPR diberikan pada  Puan Maharani dari PDIP. Ketua MPR dijabat Bambang Soesatyo dari Golkar.  La Nyalla Mattalitti yang pro Jokowi menjadi Ketua DPD.

    Dalam kondisi politik seperti itu, jangan heran bila KPK mudah dilemahkan.   Selain soal KPK, ada lagi agenda lain yang belum terwujud: menjadikan MPR sebagai lembaga tertinggi.

    PDIP yang mula-mula mengusulkan hal itu pada Agustus lalu, terutama dalam konteks MPR berwenang membuat Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) ala Orde Baru.  Tapi pada waktu yang hampir bersamaan Ketua DPR saat itu  Bambang Soesatyo melempar wacana pemilihan presiden oleh MPR. 

    Entah kebetulan atau tidak, Bambang kini menjadi Ketua MPR. Ajaibnya,  PDIP pula yang menyokongnya dengan syarat ia bersedia mengamandemen UUD 1945.

    Berikut ini manuver PDIP dan Bambang dua bulan lalu.

    Manuver  PDIP
    Kongres PDIP mengusulkan menghidupkan kembali Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sekaligus menjadikan  MPR sebagai lembaga tertinggi negara.

    "PDIP mengusulkan amandemen terbatas UUD 1945 untuk menetapkan kembali MPR sebagai lembaga tertinggi negara dengan kewenangan menetapkan GBHN,"  ujar Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto saat membacakan hasil rekomendasi kongres di Bali pada Sabtu, 10 Agustus 2019.

    Pakar hukum tata negara Universitas Andalas, Feri Amsari, heran terhadap langkah PDIP itu. Ia melihat agenda tersebut berpotensi menjadi liar hingga mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara seperti di era sebelum Reformasi.

    Menurut Feri Amsari, rencana  itu mengundang masalah  : berimplikasi terhadap sistem presidensial.  Imbasnya, sistem pertanggungjawaban presiden menjadi ganda, kepada DPR pelaksanaan undang-undang dan terhadap MPR dengan mengacu GBHN.

    Jangan heran bila sebagian kalangan menilai manuver PDIP itu hanyalah pintu masuk untuk agenda yang lain, terutama pemiliahan presiden lewat MPR.

    Pernyataan Liar Bambang Soesatyo
    Ketika masih menjadi Ketua DPR,  Bambang Soesatyo pernah mengusulkan pemilihan presiden dilakukan oleh MPR  seperti pada Pemilu 1999. Salah satu alasannya, pemilihan presiden langsung cukup rumit dan mengudang polarisasi dalam masyarakat.

    "Apa enggak sebaiknya Pilpres dikembalikan lagi ke MPR," kata Bambang  dalam diskusi rilis survei nasional oleh Cyrus Network di Ashley Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, 9 Agustus lalu.

    Bambang mengaku mendapat pertanyaan dan usulan dari publik terkait hal ini. Mekanisme pemilihan presiden seperti itu, kata dia, bisa mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara.  ****

    Baca juga:
    Inilah 3 Gertak Sambal ke Jokowi untuk Hadang Perpu KPK

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.123 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).