Gejolak Komoditas Kedelai indonesia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Tias Arta Putra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2019

Senin, 18 November 2019 22:02 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Gejolak Komoditas Kedelai indonesia

    Dibaca : 100 kali

               Kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang keberadaannya sering diburu di Indonesia. Karena tanaman pangan ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, permintaan akan komoditas tanaman pangan ini pun di pasar Indonesia sangat tinggi. Tak hanya dijual di pasar tradisional, kedelai pun dapat kita jumpai di pasar swalayan dalam bentuk utuh maupun hasil olahannya.

                Kedelai merupakan salah satu jenis tanaman pangan yang sangat populer di Indonesia. Kedelai banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk diolah menjadi tempe, tahu, dan susu kedalai, dll. Bahkan sisa hasil dari pengolahan tahu pun dapat dimanfaatkan untuk dijadikan makanan lain seperti oncom.

                Konsumsi kedelai dan hasil olahannya sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Misalnya saja konsumsi tempe dan tahu. Tempe dan tahu merupakan makanan khas Indonesia yang sangat disukai oleh masyarakat. Makanan terasa kurang lengkap jika belum ada tempe atau tahu yang mendampingi.

                Tingginya konsumsi kedelai membuat permintaan akan komoditas ini pun tinggi. Permintaan yang tinggi akan komoditas ini akan memengaruhi ketersediaan kedelai itu sendiri. Karena banyaknya permintaan dan ketersediaan komoditas kedelai dalam negeri yang terbatas, maka ketersediaan kedelai pun harus dipenuhi dengan cara mengimpor kedelai dari luar negeri.

                Ketersediaan akan kedelai di pasar sangat dipengaruhi oleh produksi kedelai itu sendiri dari petani. Produksi kedelai dalam negeri yang tinggi tentunya akan membuat ketersediaan akan komoditas kedelai pun terpenuhi. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan kedelai ini akan mampu menekan impor kedelai dari luar negeri dan akan menaikkan ekspor kedelai.

                Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 982.598 Ton. Produksi kedelai pada tahun 2018 ini naik sebesar 82,39% dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 538.728 Ton. Produksi kedelai ini dihitung berdasarkan kualitas produksi biji kering.

                Share atau penyumbang produksi kedelai terbesar terhadap produksi kedelai di Indonesia adalah provinsi Jawa Timur. Produksi kedelai di provinsi ini adalah sebesar 244.442 Ton. Share atau penyumbang produksi kedelai terkecil terhadap produksi kedelai di Indonesia adalah provinsi Maluku Utara yaitu sebesar 115 Ton. Sementara itu, di provinsi Bangka Belitung dan DKI Jakarta tidak terdapat produksi kedelai.

                Untuk kenaikan produksi kedelai dari tahun 2017 ke tahun 2018, provinsi Sumatera Barat menjadi provinsi dengan kenaikan produksi kedelai tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Angka kenaikan produksi di provinsi ini mencapai 1369,74% dari produksi kedelai tahun sebelumnya yang hanya sebesar 76 Ton menjadi 1.117 Ton di tahun 2018.

                Sementara itu, terdapat juga penurunan produksi kedelai di beberapa provinsi di Indonesia. Provinsi Maluku menjadi provinsi dengan penurunan produksi kedelai tertinggi yaitu sebesar -84,03%. Sebelumnya, produksi kedelai di provinsi Maluku pada tahun 2017 sebesar 1.428 Ton. Namun pada tahun 2018, produksi kedelai di provinsi ini pun menurun menjadi sebesar 228 Ton saja.

                Jika dilihat dari luas panen kedelai, luas panen kedelai di Indonesia pada tahun 2017 hanya sebesar 355,799 Ha. Pada tahun 2018, luas panen kedelai di Indonesia meningkat menjadi 680.373 Ha. Luas panen pada tahun 2018 ini naik sebesar 91,22% dari tahun sebelumnya.

                Share atau penyumbang luas panen kedelai terbesar terhadap luas panen kedelai di Indonesia adalah provinsi Jawa Timur. Luas panen kedelai di provinsi ini adalah sebesar 166.461 Ha. Share atau penyumbang luas panen kedelai terkecil terhadap luas panen kedelai di Indonesia adalah provinsi Maluku Utara yaitu sebesar 130 Ha. Sementara itu, di provinsi Bangka Belitung dan DKI Jakarta tidak terdapat luas panen kedelai.

                Untuk kenaikan luas panen kedelai dari tahun 2017 ke tahun 2018, provinsi Sumatera Barat menjadi provinsi dengan kenaikan luas panen kedelai tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Angka kenaikan luas panen di provinsi ini mencapai 1618,09% dari luas panen kedelai tahun sebelumnya yang hanya sebesar 72 Ha menjadi 1.244 Ha di tahun 2018.

                Sementara itu, terdapat juga penurunan luas panen kedelai di beberapa provinsi di Indonesia. Provinsi Maluku Utara menjadi provinsi dengan penurunan luas panen kedelai tertinggi yaitu sebesar -77,21%. Sebelumnya, luas panen kedelai di provinsi Maluku Utara pada tahun 2017 sebesar 570 Ha. Namun pada tahun 2018, luas panen kedelai di provinsi ini pun menurun menjadi sebesar 130 Ha saja.

                Meskipun jika dilihat dari produksi dan luas panen kedelai di Indonesia mengalami peningkatan, ternyata produktivitas kedelai di Indonesia justru mengalami penurunan. Produktivitas kedelai di Indonesia pada tahun 2018 hanya sebesar 14,44 Ku/Ha. Produktivitas ini menurun -4,62% dari tahun sebelumnya yang produktivitasnya mencapai angka 15,14 Ku/Ha.

                Share atau penyumbang produktivitas kedelai terbesar terhadap produktivitas kedelai di Indonesia adalah provinsi Jawa Tengah. Produktivitas kedelai di provinsi ini adalah sebesar 17,62 KU/Ha. Share atau penyumbang produktivitas kedelai terkecil terhadap produktivitas kedelai di Indonesia adalah provinsi Maluku yaitu sebesar 6,78 Ku/Ha. Sementara itu, di provinsi Bangka Belitung dan DKI Jakarta tidak terdapat produktivitas kedelai.

                Untuk kenaikan produktivitas kedelai dari tahun 2017 ke tahun 2018, provinsi Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan kenaikan produktivitas kedelai tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Angka kenaikan produktivitas di provinsi ini mencapai 76,00% dari produktivitas kedelai tahun sebelumnya yang hanya sebesar 8 Ku/Ha menjadi 14,08 Ku/Ha di tahun 2018.

                Sementara itu, terdapat juga penurunan produktivitas kedelai di beberapa provinsi di Indonesia. Provinsi Maluku menjadi provinsi dengan penurunan produktivitas kedelai tertinggi yaitu sebesar -48,09%. Sebelumnya, produktivitas kedelai di provinsi Maluku pada tahun 2017 sebesar 13,06 Ku/Ha. Namun pada tahun 2018, produktivitas kedelai di provinsi ini pun menurun menjadi sebesar 6,78 Ku/Ha saja.

                Jika dilihat dari data impor kedelai, impor kedelai yang masuk ke Indonesia dari luar negeri pada tahun 2018 adalah sebesar 2.585.809,1 Ton sementara produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2018 hanya sebesar 982.598 Ton. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor kedelai dari luar negeri dibandingkan dengan produksi dalam negerinya sendiri untuk memenuhi ketersediaan kedelai. Sungguh disayangkan mengingat negara kita adalah negara agraris, tetapi masih mengimpor kedelai dari negara lain.

                Hal ini tentu menjadi masalah karena meskipun produksi dan luas lahan kedelai di Indonesia meningkat, ternyata produktivitas kedelai di Indonesia justru menurun. Hal ini menandakan adanya ketidakefisienan dalam kegiatan produksi kedelai. Salah satu solusi yang mungkin bisa diterapkan adalah melakukan sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan terhadap para petani kedelai di desa-desa. Sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan terhadap petani di desa dari dinas terkait perlu ditambah intensitasnya untuk mengatasi ketidakefisienan tersebut. Semakin banyak petani yang mengetahui cara melakukan kegiatan produksi kedelai yang baik dan benar akan mampu meningkatkan produktivitas kedelai. Jika produktivitas kedelai membaik, maka produksi kedelai pun akan ikut bertambah sehingga nantinya akan mampu memenuhi ketersediaan kedelai dalam negeri dan mampu mengurangi impor kedelai dari negara lain bahkan bisa menambah ekspor k


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.