Stafsus Presiden dan Pemuda yang Hilang - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja melantik tujuh staf khusus (stafsus) yang berlatar belakang milenial. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco meyakini para stafsus milenial itu dapat membantu presiden Jokowi dalam melaksanakan tugasnya.

moh wafri matorang

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juli 2019

Sabtu, 23 November 2019 06:23 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Stafsus Presiden dan Pemuda yang Hilang

    Dibaca : 530 kali

    Sabtu, 23 November 2019.

    Tepat 20:12 Wita, saya ketemu teman yang baru pulang dari kota  istimewa Jogja. Kita duduk di salah-satu kedai kopi di kota Makassar,  dengan senyum saya bertanya apa kabar bro ? Jawabnya perihal waktu dan demi aksara manusia sunguh kata itu tak berbobot. Saya senyum, sedetik setelahnya hening dan kemudian dia tertawa lepas sambil berucap aku lagi punya dipikiranku ini.

    Ucapku, ayolah bung! Beri aku sesuatu yang menyegarkan untuk diperbincangkan. Dalam suasana reramaian jalanan dan bising tawa orang-orang diruangan itu kita memulai perbincangan, perbincangan kita mulai dengan kata “sakit”.

    Dia kemudian terlihat senyum dan mungkin sambil merangkai kata dalam pikirannya, sambil meneguk kopi. "Tidak ada yang paling memilukanku selain kata sakit, apalagi jika kesakitan itu diperlihatkan secara objektif," ucapnya. Kemudian dia pelan-pelan meletakkan cangkir kopinya di meja, sambil menyambung kata, “Apa kamu tahu tidak sedikit orang pura-pura sakit dan itu lah yang paling menyakitkan ?”.  

    Coba liat lanskap dunia maya hari ini sungguh sangat ironis. Dari anak usia dini sampai pemuka agama usia lanjut menghadirkan banyak omong kosong, apalagi di waktu momentum seakan akan mereka seperti hidup dalam keseolah-olahan.

    Ada banyak yang saya pikirkan setelah mendengar ucapannya, meraba-raba kembali ingatanku tentang berbagai macam fenomena yang sempat saya saksikan di banyak media online. Entah kenapa kemudian saya terbayang banyak postingan anak-anak muda produktif bersama staf-staf khusus istana kepresidenan RI, melihat berbagai macam kunjugan ke istana negara mereka laksanakan, kemudian menumpuk foto sebagai kebanggaan.

    Kemudian temanku bertanya; “Apa kamu sudah melihat berita pengumuman Stafsus Milenial Persiden ?” Jawabku sudah, pagi tadi tidak sengaja buka berita ketemu pemberitaan tantang itu. "Memangnya ada apa dengan berita itu, apa hubunganya dengan pembahasan kita tentang sakit ?"  tanyaku.

    Larut malam perlahan menghampiri, suasana ditempat itu mulai sepi, dengan senyum sambil mengambil kopi di  meja yang mulai dingin, dia kemudian mulai menerangkan persoalan itu. Katanya, lihat secara berangsur-angsur semua pemuda yang punya kekuatan kekayaan dan lahir dari keluaga borjuis mulai berlomba-lomba mengambil posisi membentuk strategi serta pencitraan diri sambil memamerkan kekayaan dalam media sosial. Satu-persatu pemuda ini mulai dilirik pejabat-pejabat negara, hingga proses perjalanan penuju pengumuman pembacaan stafsus presiden banyak yang dicanangkan akan masuk dalam daftar nama yang dipilih presiden sebagai stafsus, dampak dari itu tidak sedikit pemuda yang karena pelebelan gelar “Calon Menteri Muda” berbangga-bangga dan bersenang hati di panggil seperti itu.

    Hingga sampai pada acara prengumuman nama stafsus milenial muncul nama-nama yang ternyata berbedah dengan apa yang diharapkan, keputusan presiden tertujuh pada pemuda-pemuda yang mayoritasnya punya kekuatan finansial yang kuat. Nama-nama yang dicanangkan akan jadi pilihan presidan ternyata tidak keluar. Ini apa ?.

    Ini adalah bentuk kekecewaan, bagi mereka ambisi yang berlebihan manusia untuk mendapatkan payung kekuasaan melahirkan kesakitan, karena definisi sakit adalah ambisi berlebihan manusia. Ucapnya lagi.

    Saya tertawa, tanyaku kembali kira-kira menurutmu pemuda seperti apa yang ideal untuk membantu negara dalam menjalakan tugas ?

    Jawabnya, saya juga bingung dengan arus gerak pemikiran presiden dalam menciptakan parameter untuk mengambil keputusan menunjuk para-para stafsus presiden. Saya kenal beberapa pemuda dikampung-kampung yang aktif tanpa meminta imbalan menghidupkan literasi pemikiran anak bangsa, mengaktifkan institusi nirlaba, membuka perpustakaan pribadi aktif serta konsisten. Tujuannya  demi tidak ada  defisit pengetahuan anak indonesia dan juga kerena pemuda-pemuda ini yakin hanya dengan begini negara tidak dijemput oleh ajal.

    Padahal saya yakin jika pemuda-pemuda ini diberi ruang yang lebih luas mereka akan mampu melesetarikan keturunan-keturuan indonesia yang terdidik. Tetapi bapak presiden kita lebih memilih pemuda-pemuda yang berlatar belakang pebisnis keturunan borjuis. Padahal masa depan negara ada pada tangan anak-anak bangsa.

    Seandainya mereka pemuda dareah dipilih sebagi pemuda stafsus milenial maka potensi pembagunan akan menyentuh daerah pelosok dan pendidikan akan lebih merata. Apa kamu tau? Ucapnya, ini juga bagian yang menyakitkan. Orang yang punya pemikiran intektual, punya pendidikan, punya prestasi jika tidak punya uang tidak usah bermimpi akan masuk dalam lingkaran pemerintahan. Karena lingkaran itu adalah lingkaran orang-orang pebisnis. Jika sudah seperti ini, cacing pita bisa apa ?

    Ini sungguh membuatku berpikir, kataku. Pada momentum kampaye semua politisi jualan janji pemerataan pembagunan, tetapi mereka yang yang hidup dipelosok-pelosok negeri tidak dihitung untuk mencapai pemerataan pembagunan. Entalah !

    Kemudian temanku mengatakan Pemuda sukses, pebisnis, berduit itulah yang diakui negara!.

    Suasana malam semakin dingin, terlihat pagi mulai membentangkan jari-jarinya padahal diskusi terasa seperti baru saja dimulai, serasa tidak ingin mengakhiri pertemuan itu, tetapi masing-masing dari kita punya aktifitas masing-masing.

    Salam atas kemerdekaan pikiran


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.