Benarkah Soal Agnez Lebih ‘Seksi’ Ketimbang Dugaan Suap Rp 6 M ke Petinggi DPR Ini? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Anggota Komisi V DPR dari fraksi PKB, Musa Zainuddin. ANTARA/Wahyu Putro A

Dian Novitasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Oktober 2019

Rabu, 27 November 2019 04:46 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Benarkah Soal Agnez Lebih ‘Seksi’ Ketimbang Dugaan Suap Rp 6 M ke Petinggi DPR Ini?

    Dibaca : 3.978 kali

    Mungkin publik sedang jenuh,atau bahkan  sudah kehilangan harapan kalau bicara soal korupsi. Yang pasti, urusan  Agnez Mo yang mengaku tak punya darah Indonesia  kini lebih menarik ketimbang masalah korupsi para petinggi negara.

    Nggak percaya?  Baca saja berita  mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi yang berencana memanggil  Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar. Lembaga ini seperti tidak berdaya  setelah Muhaimin  berkirim surat bahwa  ia tidak bisa datang karena bertugas.

    Publik sama sekali tidak bereaksi soal kejanggalan itu.  Elite politik kita  sekarang mulai bisa menomorduakan panggilan KPK.

     KPK  Tak Berdaya?
    KPK terkesan cuma bisa  berharap bahwa  Muhaimin yang juga menjabat sebagai  Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa   akan bersedia  memenuhi panggilan pemeriksaan. Anehnya, KPK juga tak segera memanggil ulang. "Akan dipanggil lagi sesuai kebutuhan penyidikan,"  kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, 22 November 2019.

    Sebelumnya, Cak Imin--panggilan akrab Muhaimin--dipanggil untuk diperiksa pada Selasa, 19 November 2019. Ia akan diperiksa dalam kasus korupsi proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di wilayah Maluku pada 2016.

    Resminya  Muhaimin akan diperika sebagai saksi  untuk Hong Artha. Dalam kasus ini, Hong diduga menyuap sejumlah  pejabat dan anggota DPR periode 2014-2019  berkaitan dengan proyek PUPR.  Dalam kasus ini, sudah  11 orang yang masuk divonis, termasuk  bekas politikus PKB Musa  Zainuddin. Hong Artha adalah tersangka ke-12  yang belum diadili.

    Dugaan aliran Rp 6 Miliar  ke Muhaimin
    KPK kemungkinan juga mengembangkan kasus itu  berdasarkan pengakuan terbaru  bekas politikus PKB Musa Zainuddin yang sudah masuk penjara gara-gara kasus suap proyek di Maluku itu.  Ia telah  membongkar  dugaan keterlibatan Muhaimin.

    Musa  yang sedang mengajukan diri menjadi justice collaborator  mengakui  hanya menggunakan duit  Rp 1 miliar dari total suap Rp  7 miliar. Anggota  Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019 menyatakan, duit sebebihnya,  sebesar  Rp 6 miliar,  diberikan ke politikus PKB yang lain, Jazilul Fawaid untuk diteruskan ke Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.  Musa pun  meminta Ketua Fraksi PKB  Helmi Faisal Zaini, memberitahu Muhaimin soal penyerahan duit itu.

    Musa  juga mengungkapkan bahwa  pengaturan  alokasi proyek infrastruktur itu atas perintah Jazilul Fawaid  yang saat itu menjadi Wakil Ketua Badan Anggaran DPR.  Ia  memerintahkan Musa untuk  “mengamankan” jatah proyek aspirasi di Komisi Infrastruktur DPR. Jazilul kini menjadi Wakil Ketua Majelis Permusyaratan Rakyat.

    Pengakuan Musa Zainuddin (sumber Tempo.co )

    Pengakuan Musa Zainuddin (sumber Tempo.co )

    Buka-bukaan Sejak Juli  lalu
    Surat permohonan justice collaborator  Musa Zainuddin itu  dikirim ke  pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada akhir Juli 2019.

    Terdiri dari empat lembar dengan tulisan yang diketik, surat itu menjelaskan dugaan keterlibatan elite PKB dalam kasus suap PUPR dalam proyek infrastruktur di Maluku dan Maluku Utara pada 2016. Pengakuan mantan anggota Komisi Infrastruktur DPR dalam suratnya itu tak pernah terungkap selama persidangan. "Ada banyak nama dan peristiwa yang tidak terungkap di persidangan," kata Musa .

    Ketua KPK Agus Rahardjo menilai keterangan yang diberikan oleh Musa signifikan untuk mengembangkan ke terduga pelaku lainnya. "Ya, signifikan, signifikan," kata Agus, 25 Oktober 2019.  ***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.