Menyingkap Tuntas Makna Dibalik Tari Sewu Caplokan Kediri - Travel - www.indonesiana.id
x

menggambarkan kekuatan yang ditumpahkan kedalam sebuah tarian

elvano leo yordanes

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Desember 2019

Jumat, 13 Desember 2019 07:26 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Menyingkap Tuntas Makna Dibalik Tari Sewu Caplokan Kediri

    Dibaca : 980 kali

    Tarian merupakan bagian dari budaya yang berkembang pada setiap daerah di seluruh Indonesia. Terdapat lebih dari 17.000 pulau dan 700 suku di dalamnya, menyebabkan keberagaman tarian yang dimiliki Indonesia. Tarian yang dimiliki disetiap daerah mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi daerah tersebut.

    Tarian pada setiap daerah mempunyai cerita dan fungsi masing-masing, seperti digunakan sebagai sarana pemujaan kepada roh leluhur, penyambutan tamu kehormatan, ucapan rasa syukur, dan ungkapan rasa duka. Gerakan yang terdapat disetiap tarian juga memiliki nilai filosofis masing-masing, yaitu dimaksudkan untuk menyampaikan isi atau filosifis yang terkandung di dalam tarian menggunakan media gerakan tubuh.

    Musik merupakan bagian terpenting dari komponen tarian, dikarenakan musik yang bertugas memberikan tempo dan alunan nada yang dipercayai dapat membangkitkan rasa sebuah tarian. Oleh karena itu, saat mempentaskan sebuah tarian maka harus menyertakan unsur musik yang saling beriringan.

    barong barongan

    Berbicara tentang tarian daerah, Kota Kediri memiliki Tari Barong, dalam bahasa Jawa disebut sebagai caplokan, dikenal sebagai Tari Seribu Barong (Tari Sewu Caplokan).  caplokan memiliki arti membuka dan menutup mulut. Tarian ini memiliki keunikan yang berbeda dengan tarian lain, yaitu gerakan bersifat lebih bebas dan cenderung cepat dengan aura tarian magis dan sakral.

    Nilai filosofis tarian Barong, yaitu menceritakan seorang raja dengan kekuatan penuh ketika perlawanan saat terjadi peperangan. Hal itu ditunjukkan pada beberapa gerakan Tari Barong, seperti saat penari memutar badan seolah menghindari serangan lawan dan gerakan maju ke depan dengan mulut terbuka yang seolah-olah menyerang lawan.

    Sifat keantagonisan dalam tarian ini memberikan filosofi sebuah keagungan dan kekuatan yang tak terkalahkan. Namun, seiring berjalannya waktu Tari Barong tidak hanya mencerminkan keantagonisan. Beberapa pertunjukan memperlihatkan bahwa Tari Barong bisa dikemas dengan lebih jenaka dengan disisipkan gerakan makan dan minum.

    tari barong jawa timur

    Ketika berbicara tentang tarian maka tidak terlepas dengan kostum. Kostum Tari Barong terlihat sangat antagonis dan megah, dengan warna bernuansa hitam dan merah. Warna hitam memberikan makna sebuah kesakralan dan warna merah memberikan makna keberanian, pantang menyerah dan siap menerima kemenangan.

    Aksesoris yang menempel pada kostum Tari Barong identik dengan bentuk menyerupai naga dan sapi, hal itu terlihat jelas pada bagian wajah kostum yang merupakan kombinasi dari gambar naga dan sapi. Alasan digunakannya kedua hewan ini yaitu mengandung arti atau ilusi keagungan dan keberanian dari sosok Tari Barong.

    Penari yang menarikan Tari Barong memiliki syarat khusus, yaitu seorang laki-laki yang sudah mengalami pubertas dan belum melakukan pernikahan (perjaka). Karena terdapat filososfi bahwa seorang raja pada zaman kerajaan lampau merupakan perjaka yang tangguh dan memang siap untuk melaksanakan peperangan.

    Pada masa lampau Tari Barong hanya dipentaskan pada hari besar saja, seperti: hari besar Jawa, peringatan hari besar Indonesia dan perayaan-perayaan pesta pernikahan. Alasan Tari Barong hanya dipentaskan saat acara besar adalah dana yang dibutuhkan terbilang sangat mahal serta sulitnya untuk menemukan tempat pertunjukan yang sesuai.

    pagelaran tari barong kediri

    Hingga pada suatu hari, Dinas Pariwisata Kediri memiliki gagasan program, yaitu melaksanakan pementasan Tari Barong dengan jumlah seribu penari sebagai bagian dari perayaan hari besar Kota Kediri, dengan hal tersebut menjadikan ajang yang dapat membangkitkan wisata Kota Kediri dan pengembangan kebudayaan melalui budaya Tari Barong.

    Pagelaran akbar Tarian Seribu Barong dipentaskan pada jalan utama Monumen Simpang Lima Gumul, yang merupakan salah satu ikon Kota Kediri. Lebih dari lima ribu penonton setiap tahunnya memenuhi area Simpang Lima Gumul untuk menyaksikan pentas akbar Tari Seribu Barong.

    Suasana ramai dan saling berdesak-desakkan tidak membuat semangat penonton patah, karena pementasan akbar ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Warga Kota Kediri sangat senang karena mereka dapat ikut serta dalam pementasan Tari Seribu Barong. Walaupun hanya dapat menyaksikan, tetapi hal tersebut telah menunjukkan sebuah bukti keikutsertaan dalam hal memajukan budaya daerah asal.

    Tari Seribu Barong merupakan wahana pemersatu dari budaya Barong dan Jaranan di seluruh Indonesia. Hal ini dikarenakan penari yang terlibat tidak hanya berasal dari dalam Kota Kediri saja, melainkan juga dari Yogyakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Ponorogo, Palembang dan Bontang.

    pagelan akbar barong kediri

    Nuansa sakral dan magis seakan mengiringi berlangsungnya pagelaran ini, dengan seribu penari mengenakan kostum Barong yang megah, degan ditambah gerakan penari yang sangat kompak serta lemah gemulai, seolah membuat para penonton terkesima dan terharu, karena budaya Tari Barong hingga sekarang selalu eksis dan mempesona.

    Tari Barong semakin mempesona dengan suara musik gamelan Jawa yang membuat tarian Seribu Barang terlihat semakin rancak dan indah. Selain itu, sentuhan aroma kemenyan membuat rambut badan seluruh penonton berdiri, seolah roh nenek moyang turut berdatangan di pementasan akbar Tari Seribu Barong.

    Salah satu tujuan Kota Kediri melakukan pagelaran Tari Seribu Barong adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan kasihNya Kota Kediri selalu jaya dan luar biasa, dengan masyarakatnya yang damai dan aman, pemerintahan yang bersih dari korupsi dan terhindar dari bencana alam.

    Ibu Bupati Kediri menyampaikan bahwa Kota Kediri sangat diuntungkan karena terlaksananya pagelaran tersebut. Hal ini dikarenakan kunjungan wisata Kota Kediri meningkatkan, yang berdampak pada peningkatan pendapatan penduduk Kota Kediri. Selain itu, penduduk juga tidak melupakan kewajibannya untuk memajukan dan melestarikan budaya asli Kediri yaitu budaya panji.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.